
Begitu sampai di dalam Samuel meminta agar Riksa menjaga Naira. Sementara dirinya langsung mendekati putra yang terlihat panik setelah memberikan pengumuman agar tak satu orang pun meninggalkan kediaman nya karena para penjaga sedang memeriksa seluruh kediaman dan juga mobil para tamu undangan yang hadir.
Putra yang melihat Samuel mendekatinya juga langsung menghampiri Samuel dengan cepat. Putra tahu kalau Samuel juga adalah oran yang berpengaruh dan pria itu pasti dapat membantunya menemukan putrinya Puspa kembali.
"Sam, Puspa tidak ada di kamarnya. Dua orang penata rias dalam keadaan... Sam coba ikut om dulu!" ajak Putra dan Samuel pun mengikuti langkah Putra.
Samuel memberikan isyarat pada Riksa dan juga Naira agar mengikutinya. Dan mereka pun masuk ke dalam kamar Puspa. Kamar tidak berantakan, tapi dua orang perias sedang duduk di tepi tempat tidur dan sedang di beri minum oleh para pelayan. Mereka kelihatan sangat shock. Wajah mereka pucat dan rambut mereka berantakan.
"Apa yang terjadi?" tanya Samuel pada dua penata rias yang sejak tadi memang bersama dengan Puspa di dalam kamar untuk membantunya berganti pakaian karena akan melakukan sesi pemotretan dengan Jonathan.
Salah seorang penata rias melihat ke arah Putra sebelum membuka mulutnya untuk bicara dan menjelaskan semuanya.
"Katakan saja semua padanya, dia salah satu anggota keluarga kami!" ucap Putra membuat Samuel langsung menoleh ke arah pria paruh baya itu.
Samuel merasa terharu di sebut sebagai anggota keluarga oleh Putra, meskipun dia memang sudah menganggap Puspa seperti adiknya tapi dia tidak menyangka Putra juga menganggapnya keluarga.
Sebenarnya Putra juga sudah meminta para penjaga nya untuk mencari tapi mereka sama sekali belum menemukan sesuatu petunjuk yang dapat membantu.
Samuel melihat ke arah jendela, lalu melihat kusen jendela tersebut, tidak ada lecet sama sekali. Benar-benar seperti tidak di paksa untuk di buka, seperti memang terbuka sendiri dari dalam.
'Seperti di buka dari dalam, apa memang sebenarnya Puspa memang kabur sendiri?' tanya Samuel dalam hati.
Sementara Samuel masih coba mencari tahu, perias wajah itu mulai membuka suara dan bercerita.
"Kami tadi membantu nona Puspa merias, dia bilang udara di dalam kamar pengap. Akhirnya dia minta untuk membuka jendela. Dan saya membuka jendela kamar, seperti keinginan nya. Padahal saya sudah bilang kalau kita bisa saja mengecilkan suhu di ruangan tapi nona Puspa bilang dia butuh udara segar...!" perias wajah itu langsung terdiam sambil mengatur nafasnya dan mengingat kejadian yang telah dia alami tadi.
"Ketika kami merapikan rambut nona Puspa, tiba-tiba listrik padam, dan tiba-tiba ada yang membekap mulut saya dari arah belakang, lalu mengikat kedua tangan saya dan juga kaki saya. Saya tidak bisa bergerak, tidak bisa bersuara juga hiks hiks... begitu listrik menyala saya lihat teman saya juga dalam keadaan yang sama seperti saya ... hiks... hiks...!" cerita penata rias itu terlihat sangat ketakutan.
Mungkin ini adalah pengalaman pertama kali bagi dirinya mengalami peristiwa yang membuatnya nyaris spot jantung dan membuatnya gemetaran hingga sekarang. Sementara temannya yang berada di dekat pelayan malah seperti tak bisa bicara, dia terus terisak dan melihat ke arah bawah saja, dengan tangan yang memegang sebuah gelas namun tangan itu juga masih gemetaran.
__ADS_1
"Jadi kemungkinan lebih dari tiga orang yang menyelinap masuk ke dalam kamar ini?" tanya Samuel pada penata rias itu.
"Mungkin tuan, saya tidak tahu!" jawab penata rias yang masih terus menyeka air matanya dengan tissue.
Samuel langsung melihat ke arah belakang, dia mencari Riksa. Dia keluar dari kamar dan menemukan Riksa juga sedang memeriksa tempat lain.
"Riksa, dimana Naira?" tanya Samuel.
"Aku meminta pak Urip menjemputnya dan mengantarnya pulang ke kediaman Virendra!" jawab Riksa.
Samuel mendengus kesal.
"Bagaimana bisa kamu percayakan keselamatan istriku pada pria tua seperti pak Urip?" tanya Samuel dengan nada kesal pada Riksa.
"Yang kamu sebut orang tua itu lah yang dulu mengajari mu bela diri!" jawab Riksa.
Samuel hanya berdecak kesal, karena apa yang dikatakan oleh Riksa itu memang benar. Pak Urip lah yang telah mengajarkan mereka berdua ilmu bela diri teknik dasar ketika mereka berusia belasan tahun.
Kedua pria tampan itu lantas saling pandang dan tidak lama, dia melebarkan matanya.
"Di luar gerbang!" seru keduanya bersamaan lalu keduanya berlari ke arah luar gerbang kediaman Putra.
Benar saja mereka melihat ada bekas ban mobil di dekat dinding gerbang, dan melihat ada gaun berwarna biru yang seperti robek dan tersangkut di dekat dinding.
"Bagaimana cara mereka pergi! Sial! Puspa benar-benar di culik. Siapa yang menculik Puspa!" Riksa terus menerus mengumpat dan mengoceh tak karuan karena kesalnya.
Dua terus mengusap kepalanya gusar, Samuel yang melihat Riksa sangat panik segera meraih ponselnya dan menghubungi anak buahnya yang lain. Samuel meminta anak buahnya yang lain memeriksa CCtv jalan yang menuju ke dalam dan keluar dari jalan menuju rumah Puspa.
Setelah memastikan hal itu, Samuel segera mendekati Riksa dan menepuk-nepuk pundaknya beberapa kali.
__ADS_1
"Aku tahu kamu mencemaskan Puspa, tapi kamu juga harus tetap menjaga pikiran mu tetap tenang. Aku yakin kita pasti bisa menemukan nya, secepatnya!" ucap Samuel berusaha membuat Riksa tenang.
Karena sepintar apapun seseorang, dalam kondisi panik dan cemas yang berlebihan maka dia akan mendadak jadi orang yang paling bodoh di dunia.
Mereka kembali lagi ke dalam, untuk berpamitan pada Putra dan juga keluarga Puspa lainnya.
"Om, Tante kami akan memeriksa seluruh CCtv komplek ini, kami harus pergi ke pusat informasi!" seru Samuel terburu-buru.
"Aku ikut!" ucap Jonathan yang langsung maju mendekati Samuel.
Mata Samuel menatap ke arah Jonathan dengan pandangan tidak senang.
"Nak Samuel tolong biarkan Jonathan ikut, dia pasti mencemaskan Puspa!" seru Mega membuat Samuel yang awalnya ingin menolak hanya diam dan berdecak kecil hingga tidak ada yang mampu mendengarnya kecuali Jonathan saja.
Riksa juga hanya bisa menghela nafas berat, karena dia juga tidak senang tunangan kekasihnya itu ikut bersama dirinya dan Samuel.
Samuel langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kursi kemudi, Jonathan juga langsung duduk di kursi penumpang bagian belakang.
Riksa yang sudah menyalakan mesin langsung memacu laju mobilnya menuju pusat kendali dan informasi perumahan itu.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di tepat tujuan. Riksa langsung berlari keluar dari mobil dengan cepat menuju pusat informasi, di susul oleh Riksa dan juga Jonathan. Tapi mereka semua terkejut ketika Riksa membuka pintu dan mendapati pada penjaga sudah jatuh pingsan dan rekaman CCtv sama sekali tidak ada gambarnya alias hanya seperti ribuan semut yang sedang merayap.
"Sial!" geram Riksa.
Samuel juga langsung memukulkan tangannya ke udara.
"Kita terlambat!" serunya.
***
__ADS_1
Bersambung...