Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
110


__ADS_3

Samuel kembali setelah beberapa saat, setelah mandi dengan air hangat rasanya tubuhku sedikit ringan dan juga sudah tidak kaku saat di gerakkan seperti tadi.


Samuel meletakkan piring berisi sarapan untukku, di atas meja dekat jendela dengan dua sofa single di kanan dan kirinya. Aku masih diam di kursi di depan meja rias, aku rasa aku juga belum bisa berdiri dan berjalan ke sana.


"Aku akan menggendong mu agar kamu bisa duduk si sofa!" seru Samuel lalu dengan cepat mengangkat tubuhku.


Aku cukup terkesima dengan apa yang dilakukan oleh Samuel sejak pagi tadi. Tapi apa dia tidak pergi bekerja ya.


"Kamu tidak pergi ke perusahaan?" tanya ku pelan.


"Tidak, aku akan disini bersamamu!" jawabnya singkat.


Deg


Entah kenapa rasanya jantungku seperti di tekan kuat. Aneh, tapi tidak sakit. Tapi sedetik kemudian setelah dia mendudukkan aku di sofa, segera aku menghela nafas ku panjang.


Dia ikut duduk di sofa yang satu lagi setelah menariknya agar lebih dekat dengan sofa yang aku duduki. Dia meraih piring berisi beberapa sosis goreng dan juga roti panggang. Aku menatapnya heran, apa yang akan dia lakukan. Aku akan salah paham kalau sampai dia benar-benar menyuapiku, seorang Samuel Virendra menyuapiku. Aku harus senang atau bagaimana, ini keberuntungan atau apa?


"Aku akan potongkan kecil-kecil agar kamu mudah saat makan!" ucapnya.


Aku memutar bola mataku.


'Apa yang sudah aku pikirkan, tentu saja tidak mungkin dia menyuapiku. Khayalan ku benar-benar tidak masuk akal!' keluh ku dalam hati.


Tapi setelah aku memikirkan nya lagi, aku malah terkekeh sendiri. Aku bahkan mengharapkan sesuatu yang lebih setelah semua keajaiban yang terjadi sejak pagi tadi.


"Ini, makan lah!" ucap Samuel lalu meletakkan piring itu di atas pangkuan ku.


Aku segera memegang piring itu, di pinggiran nya dengan kedua tanganku. Lalu perlahan meraih garpu dan mulai menusuk roti bersamaan dengan sosis panggang yang sudah berlumuran mayonaise.

__ADS_1


"Aku ada meeting jam sembilan, setelah selesai aku akan mengantarmu ke rumah ayah Rama!" ujarnya lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Tangan ku yang sudah kembali terangkat kembali turun, sosis yang hampir masuk ke dalam mulutku pada akhirnya aku letakkan kembali ke piring, aku tersenyum kecut sambil menghembuskan nafas pendek.


'Apa yang aku pikirkan, sebenarnya manusia seperti apa Samuel itu, baru saja dia bilang akan menemani ku seharian, dan sedetik kemudian dia langsung bilang akan meeting dan aku harus menunggunya untuk bisa ke rumah ayah. Bodohnya kalau berharap sesuatu yang lebih padanya!' gumam ku dalam hati.


Aku lalu menyantap sarapan ku, aku juga sudah sangat lapar.


Beberapa menit kemudian Samuel sudah keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi, di kamar mandi itu ada dua ruangan. Selain bathtub dan shower, ada juga satu sisi yang memang khusus untuk berganti pakaian.


"Aku pergi dulu, jangan kemana-mana!" ucapnya lalu keluar dari dalam kamar.


Dia bahkan mengatakan semua itu tanpa menoleh ke arah ku. Tapi ya sudahlah, memangnya apa yang aku harapkan. Dia tidak mungkin mengulurkan tangannya dan membiarkan aku mencium punggung tangannya seperti kalau ayah akan pamitan pergi pada ibu kan? sudahlah. Aku memilih untuk melanjutkan sarapan ku.


Tapi baru akan makan lagi, aku mendengar suara pintu kamar yang kembali terbuka. Aku pikir itu pelayan yang akan membereskan kamar karena kamar ini sangat berantakan, dan tentu saja aku tidak akan mampu membereskan nya dengan kondisi pinggang yang rasanya nyaris patah.


Tapi ketika aku mendengar langkah kaki yang membuat punggung bagian belakang ku merinding, aku langsung berbalik. Dan betapa terkejutnya ternyata sebuah tangan terulur di depan ku.


"Pegal ini tangan, kenapa malah bengong!" dia mulai berseru dengan nada yang meninggi.


Aku langsung meletakkan garpu di atas piring dan meraih tangannya. Aku mencium punggung tangannya dengan lembut. Aku lalu melepaskan nya, dan menatap tak percaya ke arah wajah Samuel.


"Oke, aku berangkat!" ucapnya lalu berbalik dan pergi.


Aku masih menatap ke arah punggung nya yang berjalan menjauh sampai menghilang di balik pintu. Aku langsung mencubit pipiku sendiri,


"Augh! sakit! ternyata ini bukan mimpi!" gumam ku takjub.


Aku tak percaya apa yang baru saja aku pikirkan benar-benar terjadi. Baru saja semalam aku merasa sangat kesal pada pria itu, tapi saat ini hatiku benar-benar dibuat melambung tinggi. Rasanya seperti dia menganggap ku benar-benar istrinya, tapi aku kan memang benar istrinya.

__ADS_1


"Selamat pagi nyonya muda!" sapa seseorang dari arah belakang.


Aku langsung tersadar dari pikiran dan lamunanku. Aku menoleh dan pak Ranu terlihat memperhatikan sekeliling kamar.


"Nyonya muda, apa anda baik-baik saja?" tanya pak Ranu khawatir.


Aku tahu setelah melihat betapa berantakan nya kamar ini, semua orang akan berfikir hal yang sama dengan pak Ranu. Mereka pasti mengira Samuel benar-benar telah menyakiti ku. Itu memang benar, tapi entah kenapa semua perhatian dan semua uang dia lakukan untuk ku pagi ini membuatku bisa memaafkan perlakuan nya semalam.


Aku tersenyum pada pak Ranu, berusaha memberitahu nya kalau aku sudah tidak apa-apa.


"Tidak apa-apa pak Ranu, tolong minta pelayan membereskan semua ini ya!" ucap ku dan langsung di balas dengan sebuah anggukan cepat dari pak Ranu.


Saat pak Ranu akan keluar, aku memanggilnya


"Pak Ranu!" panggil ku membuat pak Ranu menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Iya nyonya muda!" jawab nya sopan.


"Terimakasih karena sudah mengkhawatirkan aku!" ucap ku lembut membuat mata pria paruh baya itu memancarkan keteduhan.


Pak Ranu tersenyum dan berkata,


"Sudah seharusnya nyonya muda!" ucapnya pelan lalu berbalik dan meninggalkan kamar ini.


Aku menghela nafas lega, setidaknya ada orang-orang ini yang selalu perduli padaku dan mencemaskan aku. Ada Puspa, Riksa juga pak Ranu, orang-orang yang ku kenal setelah aku terlibat dengan Samuel. Mereka semua sangat baik, dan aku beruntung mengenal mereka. Tapi kalau aku pikir lagi, jika tidak bertemu dengan Samuel, aku juga tidak akan bertemu mereka bukan. Jadi, bertemu Samuel itu keberuntungan atau ketidakberuntungan ku? aku masih bertanya-tanya dalam hati.


"Selamat pagi nyonya muda, saya akan membereskan kamar nyonya muda!" seorang pelayan datang dan meminta ijin padaku agar bisa membereskan kamar yang berantakan ini.


"Iya silahkan!" jawab ku dan lanjut menyantap sarapan ku yang sejak tadi tidak habis-habis.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2