Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
75


__ADS_3

Author POV


"Hatciuhh.. Hatciuhh!" Riksa menggosok-gosok hidungnya yang sejak tadi terasa gatal. Sejak tadi dia terus saja bersin.


Stella yang berada tak jauh darinya, segera menghampiri nya dan menepuk bahu Riksa pelan.


"Ada apa Riksa? apa kamu tidak sehat?" tanya Stella yang khawatir pada keadaan Riksa.


Saat ini mereka sedang berada di pinggir pantai, mereka benar-benar berlibur. Ibras dan juga Adam sedang bermain jet ski, sedangkan Stella, Damar, Rama dan Anisa sedang memanggang ikan bersama di pinggir pantai. Sementara Riksa dari tadi masih saja sibuk dengan laptop nya.


Riksa meletakkan tangannya di atas punggung tangan Stella yang sedang menepuk bahunya, dia tersenyum dan menoleh ke arah Tante yang sudah seperti ibunya itu.


"Tidak apa-apa Tante, tapi dari tadi aku terus bersin dan kuping ku berdenging. Tapi kurasa tubuh ku baik-baik saja!" jelas Riksa mengatakan pada Stella apa yang dia rasakan.


Stella tersenyum.


"Mungkin sedang ada yang memikirkan mu!" ucap Stella.


Riksa mengernyitkan dahi nya.


"Memikirkan aku?" tanya nya bingung.


Stella mengangguk dengan cepat.


"Iya, ada seseorang yang sedang sangat merindukan mu sedang memikirkan mu. Mungkin saja orang itu adalah seorang wanita cantik, wanita yang tanpa kamu sadari sebenarnya terus memperhatikan mu...!" Stella coba untuk mendeskripsikan tentang Puspa.


Tapi Riksa menyelanya.


"Tante, tidak mungkin. Ini pasti karena aku terlalu banyak minum es kelapa. Sebaiknya aku tidak minum ini lagi!" ucap Riksa sambil mendorong gelas es kelapa yang ada di meja di dekatnya sedikit menjauhkan benda itu.


"Ck... sudahlah. Kalau sampai wanita itu nanti keburu di ambil orang, kamu baru tahu rasa ya!" kesal Stella tapi Riksa malah tersenyum melihat Tante nya itu mengomel.


Sementara Adam terlihat kesal melihat ibunya yang sedang bersenda gurau bersama dengan Riksa. Adam memutuskan berhenti untuk bermain jetski lalu berjalan menuju ke arah ibunya dan juga Riksa.


"Dari jauh kalian terlihat seperti ibu dan anak!" celetuk Adam yang ikut duduk di samping Riksa.


"Hai Adam, sudah selesai bermain jetski nak! apa kamu haus? ibu akan ambilkan minuman, kamu mau apa?" tanya Stella pada Adam.


"Boleh ibu, seperti nya segelas jus jeruk sangat menyegarkan!" jawab Adam.


Stella segera pergi dari sana, Stella menuju ke dapur resort untuk membuatkan jus jeruk yang di inginkan oleh Adam. Mereka memang menyewa resort ini agar lebih mengenal satu sama lain antara dua keluarga ini. Mereka sengaja tidak membawa pelayan kecuali yang membersihkan kamar mereka dan yang mencuci makanan dan peralatan yang telah mereka pakai.


Setelah Stella menjauh, Adam mulai menunjukkan wajah seriusnya pada Riksa.


"Belum bisa memastikan apakah kak Sam akan ke Singapura atau tidak?" tanya Adam dengan wajah serius.


Riksa menghentikan pekerjaannya dan melihat ke arah Adam.


"Aku rasa aku harus pergi dulu dari sini baru aku bisa merencanakan hal itu dan membuat hal itu terjadi...!"


"Tapi ibuku tidak memperbolehkan mu pergi bukan?" tanya Adam menyela apa yang ingin dikatakan oleh Riksa.

__ADS_1


Riksa memang sudah mengatakan pada Stella jika dia harus bekerja dan mengambil tanggung jawab di beberapa meeting penting karena Samuel sedang cuti panjang karena dia baru menikah. Tapi tetap saja Stella tidak mengijinkan hal itu, dia ingin menghabiskan quality time bersama seluruh anggota keluarga, karena Stella juga sudah menganggap Riksa anaknya maka Stella tidak mengizinkan Riksa untuk pergi dari sini.


"Besok adalah hari ulang tahun perempuan itu, kakak pasti juga sudah menyiapkan hadiah untuknya. Coba kamu hubungi Dina, kurasa sekertaris nya itu sudah di perintahkan oleh kakak untuk mengirimkan sesuatu yang berharga dan menguras tabungan kak Samuel!" seru Adam.


Riksa tertegun pada apa yang di ucapkan Adam, dia tidak menyangka Adam yang dulu dia kenal sebagai seorang yang cuek, tidak perduli dan terkesan masa bodoh. Kini sudah berubah menjadi orang yang begitu berbeda. Dia bahkan tak percaya dengan apa yang dia dengar, dia tak percaya kata-kata seperti itu bisa keluar dari mulut seorang pemuda yang sebagian besar masa mudanya di habiskan di pusat rehabilitasi.


"Aku bahkan tidak memikirkan itu!" sahut Riksa


"Heh, aku tahu. Kamu sudah mulai tua pak Riksa!" ucap Adam mengejek Riksa.


Tapi Riksa tidak terlalu menghiraukan apa yang dikatakan oleh Adam. Dia segera menghubungi sekertaris pribadi Samuel yang lain, yang saat ini bertanggung jawab mengurus semua yang ada di perusahaan.


Tut tut


Terdengar suara nada telepon yang terhubung, beberapa saat kemudian.


"Halo Riksa!" sapa Dina dari seberang sana.


"Halo Dina, apakah semuanya baik-baik saja? maaf aku tidak bisa membantu mu!" ucap Riksa mencoba untuk bersikap sangat baik.


Tapi mendengar Riksa bicara seperti itu pada Dina, membuat Adam tidak tahan untuk membuka suaranya.


"Dasar pembual!" celetuk Adam dengan suara yang cukup keras, kemungkinan Dina bisa mendengar suaranya itu.


"Siapa itu Riksa? apakah teman mu?" tanya Dina ingin tahu.


"Bukan, dia tuan Adam!" jelas Riksa.


"Oh, semuanya masih dalam kendali Riksa. Aku juga sudah pesankan tiket dan juga hotel untuk bos dan istrinya selama tiga hari di Singapura, kurasa mereka akan...!"


Ekspresi yang sama juga di perlihatkan oleh Adam. Dia juga terkejut mendengar kalau Samuel dan Naira akan ke Singapura.


"Iya Riksa, awalnya bos hanya memesan satu tiket dan satu reservasi di hotel, tapi beberapa jam kemudian dia memintaku menambahkan satu tiket lagi karena akan membawa nyonya Naira bersamanya. Kamu tahu, aku sih mengira kalau ini adalah bulan madu mereka!" jelas Dona mengutarakan apa yang ada di pikiran nya.


"Pffttt!" Adam tidak dapat menahan tawanya.


Dia terus menggelengkan kepalanya.


"Dasar, jika mereka akan bulan madu. Tidak mungkin awalnya kakak hanya pesan satu tiket bukan?" tanya Adam melihat ke arah Riksa.


Tapi Riksa masih tidak ingin menghiraukan Adam, dia kembali fokus pada apa yang dikatakan oleh Dina.


"Kapan mereka berangkat?" tanya Riksa dengan wajah serius.


"Satu jam lagi, mungkin sekarang mereka sudah dalam perjalanan ke bandara!" jelas Dina.


"Lalu, apa adalagi yang bos perintahkan padamu?" tanya Riksa yang masih penasaran.


"Iya, sebelumnya dia memintaku memesan perhiasan limited edition dari perancang nomer satu di kota ini dan meminta untuk di kirimkan ke hotelnya, Riksa aku rasa dia ingin memberikan kejutan pada nyonya Naira. Aku tidak menyangka kalau bos akan sangat jatuh hati pada nyonya Naira, tapi setelah aku lihat nyonya Naira kemarin sih, aku tidak heran kenapa bos bisa begitu terpikat padanya, dia itu sangat cantik, dia juga ramah. Dia bahkan mau memeluk ku saat aku memberikan ucapan selamat di pernikahan nya kemarin itu!" jelas Dina panjang lebar.


Adam terlihat serius mendengarkan apa yang dikatakan oleh sekertaris pribadi kakaknya itu. Dia juga sesekali menoleh ke arah Riksa.

__ADS_1


Sedangkan Riksa malah merasa cemas setelah mendengar semua penuturan dari Dina.


"Baiklah, terimakasih Dina!" ucap Riksa sebelum memutuskan panggilan telepon nya.


Riksa kembali memperlihatkan wajah serius di depan Adam.


"Kurasa Naira sudah menyarankan hal itu pada bos, dia tidak akan pernah kepikiran untuk pergi ke Singapura bukan?" tanya Riksa.


Adam yang selama ini sebenarnya selalu tidak pernah sependapat dengan apa yang dikatakan dan dipikirkan oleh Riksa. Kini mengangguk paham.


"Kami benar, kurasa perempuan bodoh itu sudah menciptakan kesedihan untuknya sendiri, kecuali jika dia juga tidak benar-benar menyukai kakak!" ucap Adam setuju dengan pendapat Riksa tapi juga menyindirnya secara halus.


"Tuan Adam, bukan kah semua sudah sesuai keinginan mu. Sekarang bagaimana?" tanya Riksa yang mencoba mengalihkan topik pembicaraan Adam.


Sebenarnya Riksa lebih mencemaskan keadaan Naira nanti disana, gadis itu pernah bilang padanya kalau keluar kota saja dia belum pernah. Dan sekarang dia ke luar negeri dengan seseorang yang pasti tidak akan perduli padanya meskipun status nya adalah suaminya. Riksa begitu cemas, akan bagaimana Naira disana nanti.


"Aku sudah bilang kan kalau kakak sudah ada disana, selanjutnya serahkan saja padaku!" seru Adam dengan percaya diri.


Mendengar apa yang di katakan oleh Adam membuat Riksa sedikit ragu, sejak mengatakan kalau dirinya juga tengah mengawasi Caren, setiap Riksa bertanya padanya tentang rencananya, Adam tak pernah mau memberitahukan kepada Riksa.


Hal itu membuat Riksa semakin mencemaskan keberadaan Naira disana, bagaimana kalau rencananya itu justru akan membuat Naira berada dalam kesulitan atau bahkan berada dalam bahaya.


Tapi kalau Riksa terus bertanya pada Adam, dia takut Adam akan kembali salah paham pada hubungan antara dirinya dan Naira.


"Aku harap rencana mu berhasil, tapi aku juga berharap kamu juga memikirkan konsekuensinya setelah kamu menjalankan rencana itu...!"


"Kamu cemas pada perempuan bodoh itu?" tanya Adam menyela Riksa.


"Namanya Naira tuan, dan dia adalah kakak ipar mu!" seru Riksa sedikit meninggikan nada suaranya.


Jika Samuel memanggil Naira perempuan ceroboh, Riksa masih bisa mentolerir hal itu. Tapi jika Adam memanggil Naira dengan sebutan perempuan bodoh, Riksa merasa kalau itu sangatlah tidak pantas. Mengingat status nya adalah adik iparnya.


"Woh, kamu membelanya lagi? Puspa akan sedih mendengar ini!" balas Adam menyindir Riksa lagi.


Riksa malah mengerutkan keningnya mendengar nama Puspa di sebutkan disini.


"Kenapa lagi dengan Puspa?" tanya Riksa tidak mengerti.


"Ck... tidak usah berpura-pura lagi Riksa. Jangan serakah, jika tidak bisa mendapatkan kakak ipar ku kami akan beralih pada Puspa bukan?" tanya Adam.


Riksa bahkan telah mengepalkan tangannya kali ini. Jika saja yang berada di hadapannya ini bukan adik dari bosnya, dan bukan anak dari wanita yang telah menyelamatkan hidupnya. Riksa pasti sudah melayangkan tinjunya pada Adam.


"Aku rasa kami sudah salah paham Adam, bukan hanya padaku, tapi pada Naira dan Puspa juga. Kami hanya teman!" jelas Riksa mencoba menjelaskan sekaligus meredam rasa kesalnya pada Adam.


"Heh, kamu pikir aku kakak ku, yang akan percaya pada ucapan mu?" balas Adam lagi dan kali ini menatap Riksa dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh kekesalan.


Tapi Riksa melihat tatapan Adam itu seperti orang yang sedang cemburu.


'Dia seperti sedang cemburu, tapi pada siapa?' tanya Riksa dalam hati.


Author POV end

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2