Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
112


__ADS_3

Aku mengerjakan mataku beberapa kali, mendengar Samuel berkata kalau aku juga adalah wanita yang berhubungan seperti itu dengannya, itu artinya selama beberapa tahun menjalin hubungan dengan Caren dia tidak pernah menyentuh Caren.


Terdengar seperti tidak masuk akal untuk ku, karena saat dia mencium Caren di hotel waktu itu seperti mereka sudah sangat sering melakukan itu, gestur tubuh mereka, gerakan tangan mereka menunjukkan mereka mengenal satu sama lain dengan mendalam.


Tapi jika apa yang dikatakan Samuel itu benar, maka wajar saja sih dia marah seperti itu pada Caren. Karena wanita itu melakukan perbuatan seperti itu di depannya dengan orang lain padahal mereka belum menikah.


Aku menggelengkan kepala ku dengan cepat berkali-kali.


"Ih, ngapain juga aku ngurusin masalah mereka!" gumam ku pada diriku sendiri.


Karena sudah tidak ada yang bisa aku lakukan di dalam ruangan ini, maka aku juga menyusul Samuel ke luar. Dia terlihat berjalan ke arah kamar kami. Aku juga sudah mengemas baju ku di dalam tas ku di kamar.


"Nyonya muda!" panggil pelayan yang tadi melayani ku di dalam ruangan bioskop mini itu.


Aku kemudian menghentikan langkahku dan berbalik melihat ke arah pelayan tersebut.


"Iya, kenapa?" tanya ku biasa-biasa saja.


"Maaf nyonya, apakah sudah selesai menontonnya jika sudah saya akan membereskan tempat itu?" tanya padaku dengan sopan dia bahkan menundukkan sedikit kepalanya.


Dan aku pun langsung mengangguk.


"Iya, bereskan saja!" jawab ku harus segera meninggalkan pelayan itu dan melangkah menuju ke arah ke pintu kamarku.


Setelah sampai di depan pintu, aku langsung membukanya aku berfikir akan langsung meminta agar semua mengantarkanku pulang ke rumah ayahku. Tapi begitu aku membuka pintu pemandangan yang membuat mataku membelalak lebar kembali terjadi.


Samuel mengeluarkan pakaian yang sudah ku tata rapi di dalam tasku ke atas tempat tidur.


Aku langsung bergegas berjalan dengan cepat menghampiri Samuel.

__ADS_1


"Mas, kenapa pakaiannya dikeluarin lagi?" tanyaku dengan nada pelan sambil duduk di sebelah tumpukan pakaian ku yang baru dikeluarkan oleh Samuel dari dalam tas.


"Kenapa membawa pakaian sebanyak ini? kamu mau pergi 5 hari atau 5 bulan?" tanyanya dengan nada ketus.


Aku langsung banget kan kembali dahiku dan menatapnya heran. Kenapa aku merasa sepertinya dia tidak ingin aku pergi lama-lama, atau mungkin itu hanya perasaanku saja. Ya, pasti itu hanya perasaanku saja. Mana mungkin tuan arogan ini menginginkan aku tinggal di sisinya. Yang ada dia pasti selalu marah-marah jika berada di dekatku.


"Itu hanya 5 setel pakaian, sekarang kan musim hujan. Takutnya nanti pakaianku nggak kering di rumah Ibu kan nggak ada mesin cuci, jadi buat jaga-jaga aja bawa pakaian segitu!" jelas ku panjang lebar sambil menatap sedikit berhati-hati ke arah Samuel, aku tidak mau ada kata-kataku yang menyinggung nya kalau tidur dia dia pasti membatalkan untuk mengizinkan aku menginap di rumah ayah.


"Tidak usah bawa pakaian, lagipula semua pakaian lamamu ini akan aku buang!" tegas nya dan mulai beralih ke lemari dan membukanya dia mengeluarkan semua pakaianku dan melemparkannya begitu saja ke lantai.


Aku sangat terkejut melihat apa yang dilakukan aku juga bangkit berdiri dan menghampirinya sambil memunguti pakaian yang ada di lantai dan membawanya ke atas tempat tidur.


"Mas, memangnya kenapa kok mau dibuang?" tanya ku yang sungguh tidak menginginkan hal itu terjadi.


Kalau semua pakaian ini dibuang lah gua kan pakai apa. Uang bulanan ku bahkan belum dia berikan, lalu tabunganku juga tidak seberapa. Dia masih terus mengobrak-abrik isi lemari dan melemparkan pakaian-pakaian yang aku bawa dari rumah ayah. Dia hanya menyisakan dua buah pakaian pemberian Puspa juga tua buah tas dan sepertinya dia tidak mau menyentuh pakaian dalam, jadi semua masih aman di tempatnya.


"Pakai yang kamu pakai itu saja ke rumah ayah mu, kita akan mampir ke mall untuk membeli pakaian baru, ayo!" ajaknya lalu pergi begitu saja meninggalkan pakaian yang masih berserakan di lantai dan lemari yang sudah acak-acakan.


"Huh, dasar orang kaya. Tapi sudahlah aku rasa tidak ada gunanya berdebat dengannya!" ucap ku dan langsung mengikutinya setelah mengambil ponsel ku dari atas meja dan memasukkan nya ke dalam tas.


Setelah aku keluar beberapa pelayan sepertinya akan masuk ke dalam kamarku, mungkin si tuan muda kejam itu sudah memerintahkan mereka untuk membereskan kamar sebelum dia kembali setelah mengantar ku ke rumah Ayah.


Aku keluar dari rumah, dan sudah ada mobil yang biasa digunakan untuk mengantarku ke mana-mana oleh Pak Urip. Aku berdiri di samping mobil itu, aku melihat ke kanan dan ke kiri.


"Kemana perginya mas Sam?" gumam ku pelan.


Tapi aku terkejut ketika melihat pak Urip keluar dari garasi.


"Loh, kalau yang di sana pak Urip, yang nyupir mobil ini siapa?" gumam ku lagi.

__ADS_1


Dan tak lama setelah aku bergumam seperti itu pintu kaca mobil tiba-tiba terbuka.


"Hei, cepat masuk! jangan harap tuan muda ini mau membukakan pintu mobil untukmu ya!" seru Samuel yang sudah duduk di kursi kemudi.


Aku terkejut, tapi sedetik kemudian aku langsung membuka pintu mobil untuk penumpang bagian depan. Aku langsung duduk dan asu memasang sabuk pengaman.


"Mas, bisa mengemudi?" tanya ku dengan sangat berhati-hati.


Masalahnya selama ini aku belum pernah melihat Samuel mengemudi.


"Mau lihat seberapa bisa aku mengemudi?" tanya nya dengan raut wajah yang membuat ku sedikit ngeri.


Dan benar saja setelah kami keluar dari pintu gerbang, Samuel sepertinya sedang menunjukkan keahliannya dalam mengemudi, tidak hanya kecepatan tinggi tapi ini kecepatannya tinggi sekali. Aku bahkan berpegangan dengan kuat pada pegangan mobil yang berada di bagian atas kaca mobil.


"Mas, jangan ngebut-ngebut!" ucap ku dengan nada suara sudah bergetar.


Aku takut sekali, meskipun terlihat lihai tapi tetap saja mengemudi dengan cara seperti ini sangat berbahaya.


"Cium aku!" seru nya singkat.


Aku langsung pembalakan mataku dengan sangat lebar kurasa, apa aku tidak salah dengar. Apa yang dia minta barusan, dia menyuruhku menciumnya. Samuel Virendra memintaku menciumnya. Aku rasa aku pasti salah dengar.


Karena aku masih tertegun, Samuel kembali bicara.


"Cium aku sekali, akan aku turunkan kecepatan mobil ini 10 km/jam!" serunya sambil melihat ku sekilas.


Aku masih terdiam, masalahnya adalah Dia pernah mengatakan kepadaku bahwa satu ciuman untuk nya berharga seratus juta, aku jadi bingung apa yang harus aku lakukan. Kalau ingin kecepatan normal maka aku harus menciumnya tiga kali, itu artinya aku juga menambahkan hutangku tiga ratus juta kan. Aku harus bagaimana?


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2