
Sepertinya bukan aku saja yang kecewa, ibu terlihat berdecak kesal dan melihat ke arah Riksa.
"Nak Riksa, kenapa kamu bawa-bawa alat seperti itu kemari. Nanti pak RT dan warga lain bisa marah kalau di jalan komplek kita ini masuk alat berat seperti itu. Jalan bisa rusak, ibu gak mau di demo warga, cepat bawa pergi alat itu dari sini!" seru ibu pada Riksa.
Aku hanya manggut-manggut ke arah Riksa sebagai apresiasi kalau aku sangat setuju sekali pada apa yang di katakan oleh ibu ku.
"Tenang saja Tante, saya sudah ijin pak RT dan sudah memberi dana perbaikan jalan kalau sampai ada jalan yang rusak dan pipa air yang pecah karena alat berat ini lewat!" jawab Riksa dengan santainya.
Aku langsung memicingkan mataku ke arah Riksa.
"Dasar perusak kesenangan orang!" gumam ku kesal.
"Apa daya ku Nai, aku hanya anak buah. Dan suami mu adalah bos ku!" sahutnya.
Aku makin kesal saja karena Riksa masih menyahuti seperti itu. Aku lalu memilih untuk tidak menanggapi Riksa lagi karena ayah dan juga mas Sam sudah keluar dari dalam rumah.
"Hei Riksa, kemari bawa sedikit maju lagi sampai aku bisa memetik buah kelapa itu!" seru mas Sam pada Riksa.
Aku makin kesal saja saat mas Sam mengatakan perintahnya pada Riksa itu sambil melirik ke arah ku. Bahkan dia menyunggingkan senyum tipis yang aku bisa baca sebagai senyuman yang menyiratkan kalau dia merasa sudah menang, itu senyuman kemenangan nya.
'Ih, nyebelin. Kenapa sih dia harus kaya raya banget. Sampai bisa sewa itu alat berat dan ganti rugi jalanan rusak!' keluh ku dalam hati.
Rasanya sangat kesal, karena niat ku untuk mengerjai mas Samuel tidak berhasil. Aku mendengus kesal.
"Sudahlah, aku tidak ingin air kelapa muda lagi!" ucap ku lalu masuk ke dalam rumah.
"Sayang, jadi bagaimana? aku masih harus petik buah kelapa itu tidak?" tanya Samuel dengan suara yang keras karena aku sudah berjalan masuk ke dalam meninggalkan nya.
Aku tidak menjawab bahkan tidak menoleh ke arahnya. Aku terlalu kesal. Tapi aku dengar ibu malah menyahuti apa yang ditanyakan oleh mas Sam tadi padaku.
__ADS_1
"Suruh pergi saja nak Sam, haduh ada-ada saja sih!" ucap ibu juga sama jengah nya dengan ku.
Aku lalu masuk ke dalam kamar, aku rasa aku harus mandi agar kepala dan otakku kembali segar dan bisa berfikir dengan benar. Aku masih ingin membuat mas Sam pergi sari sini, karena aku benar-benar sedang kesal padanya dan sedang tidak ingin berada dekat dengannya. Sungguh tidak ingin.
Aku masuk ke dalam kamar mandi dan menenangkan pikiran ku dengan mengguyur kepala ku dengan air dingin. Sudah hampir malam, dan tubuh ku juga rasanya lelah sekali. Setelah keluar dari dalam kamar mandi, aku melihat ibu sedang membuka lemari pakaian ku, bukan membuka saja sih sepertinya ibu ku yang cantik itu sedang mengeluarkan isi lemari ku dan mengacak-acak baju ku yang tersusun rapi di dalamnya.
Aku yang penasaran dengan apa yang dilakukan oleh ibu pun segera mendekati ibu dan bertanya padanya, sambil memperhatikan dirinya yang sepertinya sedang mencari sesuatu.
"Ibu lagi ngapain?" tanya ku sambil mengeringkan rambut ku dengan handuk.
"Ibu sedang berusaha membantumu!" jawab ibuku tanpa melihat ke arahku. Dia malah sibuk mengeluarkan lagi pakaian ku dari dalam lemari.
Aku jadi heran, apa yang dimaksud oleh ibu. Bagaimana caranya dia membantuku dengan mengacak-acak isi lemari ku.
"Maksudnya gimana sih Bu, aku gak ngerti? ibu cari apa?" tanya ku lagi yang memang sangat penasaran dengan apa yang sedang ibu ku lakukan.
Dia bilang akan membantuku, tapi yang aku lihat dia mengeluarkan pakaian ku dan melemparkannya ke atas ranjang. Sudah hampir separuh isi lemari ku berpindah dari dalam lemari ke luar, lebih tepatnya ke atas tempat tidur.
Aku sampai menaikkan kedua alis ku tinggi setelah ibu mengatakan hal itu padaku.
"Ngapain ibu cari pakaian ku yang kurang bahan, mau di tambahin, mau di permak?" tanya ku menduga-duga maksud dan tujuan dari ibu ku tersayang ini.
Ibu akhirnya menghentikan aktivitas nya dan melihat ke arah ku sambil mendengus pelan.
"Nai, kamu masih mau kasih pelajaran buat suami kamu kan?" tanya ibu dengan ekspresi wajah yang begitu serius.
Aku langsung mengangguk kan kepala ku dengan cepat.
"Iya, ibu ada ide?" tanya ku pada ibu.
__ADS_1
Karena sesungguhnya aku memang sedang tidak ada ide lagi, memberi makanan pedas sudah gagal, meminta dia memanjat pohon juga gagal. Aku juga tidak ingin keterlaluan, jadi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang.
"Ini adalah salah satu caranya! dengarkan ibu baik-baik!" seru ibu dengan tatapan serius.
Aku juga menatap ibu dengan serius.
"Nanti saat kamu tidur dengan nak Samuel...!"
"Ibu, aku kan tadi sudah bilang kalau aku mau tidur dengan ibu saja!" ucap ku menyela apa yang akan ibuku katakan.
"Ih, anak ini dengar dulu. Tadi itu ibu sudah bilang pada ayah, tapi ayah melarang ibu tidur dengan mu. Kamu tahu kan ayah mu itu sudah mulai sangat menyayangi menantunya itu, ucapan ibu mana di dengar!" jelas ibu.
Aku langsung terduduk lemas di atas kasur. Tadinya kan aku pulang ke rumah ayah karena ingin menghindarkan mas Sam yang membuat ku kesal karena keputusan nya yang menurut ku sangat tidak adil padaku itu. Dia memutuskan sesuatu yang sangat penting tanpa bertanya pendapat ku. Tapi dia malah menyusul kemari, ke rumah ayah membuat ku tidak bisa menenangkan diriku..
Ibu lalu ikut duduk di sebelah ku dan merangkul pundak ku.
"Jangan sedih dulu, dengarkan dulu ibu baik-baik!" seru ibu membuatku langsung menoleh ke arahnya.
"Tadi kan ibu belum selesai bicara, kamu main potong saja! ibu lihat di sinetron kemarin ya, ada istri yang ingin mengerjai suaminya. Caranya itu, dia pakai pakaian yang sangat minim saat akan tidur dengan suaminya, tidak lupa dia sedikit menyenggol-nyenggol suaminya itu, sampai si suami tergoda. Dan saat suaminya sudah sangat tergoda, dia malah meninggalkan suaminya itu sendirian di dalam kamar. Jadi panas dingin kan suaminya!" terang ibu padaku.
Aku terkekeh mendengar cerita ibu.
"Jadi ibu mau aku seperti itu?" tanya ku dan langsung di balas anggukan kepala cepat oleh ibu.
"Ibu akan bawa pakaian ganti mu di kamar Ibras. Ibu akan kasih dia uang jajan lebih besok supaya dia mau tidur di ruang keluarga, bagaimana rencana ibu, keren kan?" tanya ibuku sambil terkekeh.
Aku tidak menyangka, ibu ku bisa punya ide seperti itu. Aku benar-benar sudah tidak sabar melihat reaksi mas Sam nanti. Biar saja dia panas dingin, siapa suruh dia membuat ku kesal.
***
__ADS_1
Bersambung...