Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
137


__ADS_3

Apa yang aku pikirkan, aku menangis? memangnya apa yang aku tangisi. Pria yang sedang aku pandang dari jauh itu memang mencintai wanita yang saat ini ada di pelukan nya. Memang seperti itu kenyataan nya. Lalu apa yang aku tangisi.


Aku menundukkan kepalaku lalu menyeka semua air mata yang membasahi pipi ku. Aku menghirup nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan nya perlahan. Aku lalu melihat ke belakang, ke arah Kenzo yang berdiri dengan tatapan mata tajam ke arah Samuel dan Caren.


"Apa tujuan mu sebenarnya?" tanyaku mencoba untuk bersikap biasa saja.


Tatapannya berubah, tadi dia menatap tajam pada Samuel dan begitu beralih padaku, dia menatap ku heran.


"Maksud mu?" tanya nya berbalik bertanya padaku.


Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran ku hingga aku berani bertanya seperti itu pada Kenzo. Tapi aku tadi sempat berfikir kenapa dia malah menunjukkan pemandangan ini padaku, kenapa dia tidak bisa menjaga tunangannya agar jangan sampai mengganggu suami ku. Tapi kemudian aku kembali tersadar, kalau aku bertanya seperti itu padanya, maka dia akan balik bertanya kenapa aku tidak bisa menjaga suami ku.


Dan jika dia mengatakan itu, maka aku tidak akan punya jawaban untuk pertanyaan nya itu. Apa aku harus katakan kalau aku ini hanya istri kontrak Samuel. Aku benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana. Aku berbalIk lagi dan melihat ke arah Samuel yang masih memeluk Caren dengan lembut.


Tanpa bicara lagi, aku langsung berlari dari tempat itu dan menuju ke kamar ku. Aku berlari masuk ke dalam lift lalu menuju lantai di mana kamar ku berada. Aku membuka pintu kamar dan membanting tubuh ku di atas tempat tidur.


Aku menangis sejadi-jadinya. Aku menangisi sikapku yang aneh ini, kenapa aku merasa kesal melihat Samuel memeluk Caren. Kenapa aku begitu sakit hati mendengar Samuel masih perduli pada Caren. Apakah karena Caren pernah menamparku dan berlaku kasar padaku dulu. Aku bangkit dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi, mengguyur kepala ku dengan air dingin, agar semua pikiran aneh di kepala ku pergi.


Beberapa menit kemudian, aku keluar dari dalam kamar mandi, rasanya segar dan otakku mulai bisa di ajak berkompromi.


"Kenapa mandi malam-malam begini?" sebuah suara membuatku menoleh ke arahnya ketika baru keluar dari dalam kamar mandi.


Tapi rasanya aku malas menjawab pertanyaan nya itu. Entah keberanian yang kudapat dari mana, tapi aku malah melengos mengabaikan Samuel dan berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti.

__ADS_1


Dia juga tidak langsung marah seperti biasanya kalau aku acuhkan, dia malah terus memperhatikan ku. Dari aku mengambil baju di lemari juga kembali lagi masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah berganti pakaian dan mengeringkan rambut di dalam kamar mandi. Aku keluar dan langsung berjalan ke arah tempat tidur. Dan Samuel masih di tempatnya tadi, duduk di sofa single tak jauh dari jendela kamar hotel. Aku juga tidak melihat ke arahnya dan langsung berbaring lalu menyelimuti seluruh tubuhku dengan selimut sampai batas leher. Aku bahkan memiringkan tubuh ku sehingga membelakangi Samuel.


"Kamu marah?" tanya Samuel dengan suara yang makin meninggi.


Aku menelan saliva ku dengan perlahan lalu memejamkan mataku. Aku berharap agar aku cepat tertidur agar tidak perlu memperdulikan nya lagi. Tapi sikap nya memang tidak seperti biasanya, jika aku tak menjawab pertanyaan nya biasanya dia akan langsung marah. Tapi dia tidak melakukannya.


Keesokan harinya...


Aku membuka mataku perlahan, tidur ku nyenyak sekali. Mungkin karena aku sangat lelah. Aku duduk di atas tempat tidur sambil meregangkan otot tangan dan leher. Dan saat aku menoleh ke arah kiri, aku lihat Samuel sedang tidur sambil duduk bersandar di sofa tempatnya tadi malam, bahkan dengan pakaian yang sama. Aku lihat ke arah bawah, kakinya bahkan masih memakai sepatu.


Seharusnya aku tidak perduli bukan, tapi kenapa rasanya kasihan melihat dirinya tidur dengan posisi seperti itu, sangat tidak nyaman.


'Eh, apa yang kupikirkan. Sudahlah, siapa juga yang suruh dia tidur disitu!' batin ku kemudian


Tapi, aku terkejut ketika aku membuka pintu kamar mandi dan Samuel sudah berdiri di depan ku dengan satu tangannya menekan dinding di samping pintu kamar mandi.


"Astaga...!" ucapku terkejut. Aku bahkan mundur kebelakang selangkah dan memegang dadaku.


Setelah melihat itu Samuel, aku menghela nafas lega. Tapi aku tidak mau menatapnya, aku coba lewat di celah kecil yang ada di sebelah kirinya. Tapi ketika aku akan lewat, dia malah meletakkan tangannya yang satu lagi ke dinding. Dan posisinya sekarang dia seperti sedang mengurungku dengan kedua tangannya.


Mau tak mau aku juga harus melihat ke arahnya kan, untuk memastikan sebenarnya apa mau pria ini.

__ADS_1


Aku hanya menatapnya dan tidak bicara, dia juga melakukan hal yang sama. Sampai beberapa menit berlalu. Aku mulai merasa tidak nyaman dan memalingkan wajah ku ke arah lain. Terserah saja, dia mau berdiri seperti ini terus, silahkan. Aku juga sudah biasa berdiri selama berjam-jam saat aku bekerja di toko buku Ko Acong dulu. Jadi tidak masalah.


"Kenapa tidak mau bicara padaku?" tanya Samuel dengan suara yang sangat berat. Mungkin karena dia baru bangun tidur.


Aku masih tidak ingin menjawab, aku memang seperti ini. Kalau aku sedang kesal lebih baik aku diam, karena kalau aku di paksa bicara aku akan menangis malah.


"Kamu marah?" tanya nya lagi.


Aku masih diam, dan itu membuatnya mengeraskan rahangnya. Aku bisa lihat itu.


"Naira, jangan uji kesabaran ku. Tidak kah kamu merasa kalau aku sudah terlalu baik padamu?" tanya nya dengan nada suara yang penuh penekanan.


Aku menghela nafas ku panjang, aku memberanikan diriku untuk menatapnya lagi.


"Kalau begitu jangan bersikap baik padaku, bersikap seperti pertama kali kita bertemu saja, bicara dengan kasar, jangan panggil aku Naira, panggil saja perempuan ceroboh, atau hei... jangan bersikap baik padaku, karena aku akan salah paham!" ucapku dan apa yang ku katakan barusan membuatnya diam mematung, bahkan saat aku menurunkan satu tangannya dari dinding dia masih diam.


Aku langsung berjalan keluar dari kamar, setelah menutup pintu kamar aku berjongkok di depan kamar sambil menutup wajahku dengan tangan.


"Huh, berani banget aku ngomong kayak gitu sama dia. Mampus deh, nambah gak tuh hutang!" gumam ku.


Aku langsung berdiri dan berdecak kesal pada diriku sendiri.


"Sarapan dulu deh, kalau-kalau nanti dia ngajak ribut, aku sudah punya tenaga yang cukup!" gumam ku lagi lalu berjalan menuju ke restoran hotel yang ada di lantai satu.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2