
Author POV
Samuel yang berkata akan menemui dokter, mang benar-benar menemui dokter Wulan yang ada di sebelah ruang UKS. Setelah di jelaskan bagaimana kondisi ibu mertuanya, Samuel pun bergegas kembali ke ruang UKS tempat Anisa, Rama dan juga Naira masih berada.
Tanpa sengaja Samuel kembali mendengar perkataan Rama yang membuat dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Tanpa basa-basi lagi, Samuel langsung berjalan keluar dari UKS, menjauh sedikit dari tempat itu menuju ke sebuah taman yang sepi dan menghubungi seseorang.
"Halo bos!" jawab seseorang Nyang berada di ujung telepon dan orang itu tak lain dan tak bukan adalah Riksa.
"Bos, selamat ya. Aku sudah dengar dari Tante Stella kalau Naira sudah hamil. Selamat sekali lagi bos, karena kamu akan menjadi seorang ayah!" ucap Riksa yang terdengar sangat tulus dan ikut bahagia atas kabar baik ini.
"Terimakasih banyak Riksa, aku tahu kamu sangat bahagia mendengar kabar ini. Tapi aku yakin kebahagiaanmu itu tidak sebesar kebahagiaan yang aku rasakan, karena kamu mu tidak mungkin tahu rasanya menjadi calon ayah kan, menikah saja belum kamu!" ucap Samuel yang terkesan menyindir Riksa.
Kalau orang lain yang diajak bicara seperti itu oleh Samuel, mungkin saja akan tersinggung dalam hatinya. Tapi karena orang itu adalah Riksa, yang merupakan seseorang yang sudah tebal telinganya mendengar kata-kata kasar dan segala sindiran sindiran halus dari Samuel yang juga merupakan bos nya itu. Maka Riksa hanya terdengar menghela nafasnya pelan.
"Iya bos aku tahu, kamu adalah orang yang paling bahagia saat ini!" ucap Riksa seperti tidak membantah pernyataan yang diutarakan oleh Samuel barusan.
"Ada hal yang penting yang aku ingin kamu mencari tahu tentang hal ini!" seru Samuel.
"Ada apa bos?" tanya Riksa sebenarnya tidak menyela ucapan Samuel karena dia bertanya sesaat setelah semua selesai dengan kalimatnya.
Tapi bagi Samuel Riksa menyelanya.
"Hei, bisa tidak dengarkan dulu sampai selesai baru kamu menyela ucapan ku!" tegur Samuel.
Padahal sebenarnya teguran itu memang tidak diperlukan karena Riksa memang benar-benar tidak menyela nya.
"Maaf bos!" ucap Riksa.
Dan seperti biasanya juga pria bernama Riksa itu tidak mau berdebat panjang lebar dengan bosnya. Dia selalu memilih untuk mengalah dan meminta maaf saja daripada memperpanjang urusan yang sebenarnya memang tidak perlu.
"Cari tahu dengan siapa asik ipar ku berkelahi di sekolahnya!"
Dan kali ini Riksa memang menyela Samuel.
__ADS_1
"Maksud bos Ibras?" tanya Riksa memastikan.
"Ck... !" Samuel berdecak kesal.
"Memangnya siapa lagi adiknya Naira, dia kan cuma punya satu adik!" kesal Samuel pada Riksa.
Menurut Samuel, akhir-akhir ini kinerja dan cara kerja Riksa sangat lambat, entah apa yang membuatnya menjadi seperti ini tapi yang jelas Samuel akan mencari tahu tentang hal itu kalau masalah keluarga istrinya semuanya sudah beres.
"Maaf bos, aku pikir Adam sudah punya calon?" tanya Riksa memberikan alasan dan alibinya kenapa tadi dia bertanya seperti itu kepada Samuel.
"Huh, kamu yang paling tahu kalau aku sangat mengharapkan hal itu. Agar Adam tidak lagi sewot padaku dan Naira saat kami bermesraan!" ucap Samuel yang malah sepertinya sedang curhat colongan pada sahabat sekaligus anak buahnya yang sangat dia percayai itu.
"Sudahlah, pokoknya cepat cari tahu dengan siapa Ibras berkelahi dan siapa orang tua dari anak-anak yang membuat masalah itu. Riksa dengarkan aku baik-baik. Jika mereka adalah anggota dari pemilik yayasan sekolah tempat ayah dan ibu mertuaku bekerja, maka buat agar mereka tidak memiliki hak lagi atas yayasan itu. Dan jika mereka adalah para donatur maka buat mereka agar tidak bisa menjadi donatur di mana pun lagi. Kamu mengerti maksudku kan Riksa?" tanya Samuel dengan tegas.
"Baik bos, secepatnya pekerjaan yang bus katakan tadi akan cepat selesai dan bos akan mendengar kabar baik!" ucap Riksa dengan tegas.
"Oh ya, satu hal lagi Riksa. Carikan asisten rumah tangga yang bekerja pagi hingga sore hari untuk ibu mertua ku. Pastikan yang sudah berpengalaman dan yang masakannya enak!" perintah Samuel lagi.
"Baik bos! satu jam lagi, asisten rumah tangga itu akan berada di depan rumah om Rama!" jawab Riksa dengan penuh keyakinan.
Saat dia masuk ke dalam ruangan, ternyata Anisa sudah sadar dari pingsannya.
"Ibu, ibu sudah sadar?" tanya Samuel yang langsung mendekati sang ibu mertua.
Anisa tersenyum pada Samuel.
"Selamat ya nak Samuel, kamu sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Ibu minta maaf karena malah membuat nak Samuel harus repot-repot kemari menjenguk ibu!" ucap Anisa yang merasa tak enak hati pada Samuel.
"Kenapa ibu bilang begitu, ibu juga kan ibu ku. Sama sekali tidak repot" jawab Samuel.
"Kata dokter kalau ibu sudah sadar, ibu sudah boleh pulang. Kita pulang sekarang ya Bu!" ajak ayah Rama dengan suara yang pelan dan lembut.
"Bagaimana dengan kantin yah?" tanya Anisa.
__ADS_1
"Ibu sudah jangan di pikirkan, mulai besok ibu tidak akan bekerja di kantin lagi. Dan ayah juga tidak akan bekerja menjadi penjaga sekolah lagi!" ucap Samuel membuat ketiga orang yang lainnya yang ada di dalam ruangan itu sangat terkejut.
Tapi ada raut bahagia di wajah Naira saat mendengar Samuel mengatakan itu.
"Nak Samuel tapi... ayah tidak mau merepotkan nak Samuel. Ayah masih bisa bekerja, ayah masih sehat!"
"Ibu juga!" sambar Anisa yang tidak mau membebani menantunya itu.
"Lalu harus aku apakan lahan yang akan ku bangun minimarket di dekat rumah ayah dan ibu itu?" tanya Samuel dengan raut wajah yang dia buat sedih.
Naira bahkan terkejut.
"Lahan di dekat rumah ayah?" tanya Naira bingung.
Samuel langsung mengangguk kan kepalanya.
"Ayah tahu kan disana sedang ada pembangunan?" tanya Samuel pada Rama.
Dan Rama mengangguk perlahan.
"Iya, sudah satu minggu lahan itu ada pembangunan sebuah bangunan yang sepertinya memang mirip dengan bangunan minimarket!" jawab ayah Rama yang juga masih bingung.
"Sejak Naira mengatakan disana ada lahan, aku sudah membelinya dan mengurus ijin untuk mendirikan bangunan juga tempat usaha. Sebuah minimarket dengan nama Rama mini store!" ucap Samuel.
Rama sangat terharu, dia bahkan menangis dan segera mengusap air matanya dan memeluk Samuel secara spontan.
"Masyaallah nak Samuel, kebaikan apa yang sudah ayah lakukan dimasa lalu sampai ayah mempunyai menantu sebaik nak Samuel!" ucap ayah seraya sesekali masih tersedu.
Anisa juga memeluk Naira, dan mereka juga sudah menangis. Tanpa memberitahu, tanpa bertanya Samuel bahkan sudah menyiapkan segalanya untuk kesejahteraan Rama dan Anisa.
Author POV end
***
__ADS_1
Bersambung...