Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
162


__ADS_3

(Suara dering ponsel)


"Mas, ponsel mu berdering sejak tadi!" ucap ku pada Samuel yang masih enggan melepaskan pelukannya dari pinggang ku.


"Biarkan saja, aku lelah!" ucapnya.


"Kalau begitu lepaskan aku, aku yang akan mengangkat ponsel itu!" ucap ku lagi.


Karena sejak tadi ponsel Samuel terus berbunyi, jika tidak penting tidak mungkin seseorang akan menghubunginya berulang kali.


"Baiklah, baiklah aku saja!" ucapnya lalu beranjak bangkit dari posisi tidur nya dan meraih ponsel yang ada di atas meja di sebelah tempat tidur nya.


Aku juga langsung duduk dan bersandar ke sandaran tempat tidur dan memperhatikan suamiku yang terlihat sangat malas menerima telepon itu. Dia bahkan tidak melihat siapa yang memanggil dan langsung menggeser icon telepon berwarna hijau ke atas.


"Halo!" ucap Samuel.


Aku terkesiap ketika Samuel menunjukkan ekspresi terkejut bahkan menjauhkan ponselnya dari telinga nya.


Samuel lalu melihat ke arah ku dan menghidupkan speaker ponselnya. Dia kemudian bergegas naik ke atas tempat tidur dan menghampiri ku.


"Sayang, ini ibu!" ucapnya.


"Sam, keterlaluan. Ibu sudah menghubungi mu lima kali. Apa-apaan kamu!" teriak ibu Stella dari ujung telepon.


"Sayang, bicaralah. Kalau tidak Ratu Elisabeth ini tidak akan berhenti marah!" bisik Samuel padaku.


Aku mengangguk paham, aku mendekatkan mulut ku pada ponsel yang di pegang oleh Samuel.


"Halo Bu, ini Naira ibu apa kabar?" tanya ku gugup.


Sebenarnya aku juga cukup terkejut dengan suara ibu Stella yang meninggi tadi.


"Naira, mana anak nakal itu?" tanya ibu Stella.


"Ada di samping ku Bu!" jawab ku pada ibu Stella.


"Ck... baiklah, aku akan buat perhitungan dengan mu lain kali Samuel. Sekarang kalian berdua dengarkan ibu baik-baik ya!" ucap ibu Stella.


Aku dan Samuel saling pandang lalu memperhatikan apa yang akan dikatakan oleh ibu Stella.


"Kalian kembalilah ke ibukota, karena sekarang ibu dan ayah juga kakek sedang berada di bandara, kami akan segera kembali ke ibukota!" terang ibu Stella.

__ADS_1


Aku dan Samuel mengangguk paham.


"Naira, kamu sudah dengar apa yang dikatakan oleh ayah mertuamu kan, jadi nanti di depan kakek kamu harus bertingkah seperti seorang wanita yang sedang hamil muda. Kamu pasti bisa Naira, ya!" ucap ibu Stella yang membuat ku menelan saliva ku dengan susah payah.


"Iya Bu!" jawab ku ragu.


Namun aku dan Samuel memang sudah menyetujui hal itu. Itu semua kami lakukan demi kakek. Aku harap semua akan berjalan dengan baik.


"Baiklah, ibu sudah harus naik pesawat, Naira ibu berharap banyak padamu nak!" ucap ibu Stella sebelum memutuskan panggilan telepon nya.


Aku melihat ke arah Samuel yang kembali meletakkan ponsel itu di atas meja.


"Sayang, jangan takut. Apapun yang terjadi ke depannya. Kita akan hadapi bersama!" ucap Samuel seolah mengerti apa yang sedang aku khawatir kan.


Aku tersenyum, rasanya sangat tenang saat ada seseorang yang berjanji akan melindungi dan seluruh berada di sisi disaat situasi apapun yang kita hadapi.


Kami lalu berkemas, Samuel memesan tiket pesawat untuk kami pulang kembali ke ibukota.


***


Beberapa jam kemudian, kami sudah berada di bandara ibukota. Aku tersenyum dan melambaikan tangan ku saat aku melihat Riksa datang menjemput kami.


"Riksa!" aku tanpa sadar memanggil Riksa dengan suara yang lumayan kencang.


Aku menoleh, dan tatapan tajam Samuel membuat ku menelan saliva ku dengan susah payah, aku baru sadar kalau apa yang aku lakukan ini salah, aku terlalu berlebihan. Aku juga tidak tahu kenapa, tapi aku merasa sangat senang melihat Riksa dan bertemu dengannya.


"Kamu seperti sudah sepuluh tahun tidak bertemu Riksa?" tanya Samuel dan aku pun hanya bisa tersenyum canggung.


"Maaf mas!" hanya itu saja yang bisa aku ucapkan.


"Tetap berada di belakang ku, jangan dekat-dekat dengan Riksa!" perintah Samuel dan aku langsung mengangguk patuh.


Kami pun menghampiri Riksa, Samuel mendorong troli yang berisi barang-barang kami.


"Selamat datang bos, nyonya bos!" ucap Riksa sopan.


Aku baru saja akan tersenyum pada Riksa. Namun dengan cepat Samuel menoleh dan berbisik.


"Senyum padanya juga tidak boleh!" bisik Samuel dengan nada tegas dan raut wajah serius.


Aku jadi mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


'Apa-apaan itu, masa' hanya senyum juga tidak boleh!' protes ku dalam hati.


"Kamu bawa semua ini ke dalam mobil!" ucap Samuel menyerahkan troli itu pada Riksa dan menggandeng tangan ku agar cepat meninggalkan Riksa.


Aku hampir saja menoleh ke belakang, ke arah Riksa. Tapi sebelum itu Samuel menarik ku dengan cepat.


"Jangan curi-curi pandang padanya ya, aku akan memotong gajinya 50% kalau sampai kamu melakukan hal itu!" ucapnya tanpa melihat ke arah ku.


Aku di buat takjub, bukan hanya karena potongan gaji yang begitu besar. Tapi juga karena Samuel seperti bisa membaca apa yang akan aku lakukan.


'Apa sekarang dia bisa membaca isi hatiku?' tanya ku dalam hati.


Kami sudah berada di dalam mobil, di perjalanan menuju ke kediaman Virendra. Sebenarnya aku sedikit gugup, bukan hanya karena akan bertemu dengan kakek Virendra, tapi juga karena aku akan menjadi menantu tertua disana. Di dalam pesawat tadi, Samuel banyak menjelaskan tentang apa saja yang harus aku lakukan di rumah itu sebagai menantu tertua.


Dari mulai pengaturan ruangan dan juga mengawasi tugas-tugas para asisten rumah tangga, menu masakan setiap harinya dan hal-hal kecil lain di rumah besar itu.


"Bagiamana perusahaan Riksa?" tanya Samuel pada Riksa. Dan suara Samuel tadi berhasil menyadarkan aku dari lamunan ku barusan.


Riksa yang duduk di depan, di samping pak Urip sedikit menoleh ke belakang.


"Perusahaan...!"


"Tidak usah berbalik Riksa, tetap menghadap ke depan!" sela Samuel sebelum Riksa bisa bicara.


Setelah mengatakan itu, Samuel melirik ke arah ku membuat aku merasakan bulu kuduk ku semuanya berdiri.


Riksa lalu dengan cepat menghadap ke depan dan mulai menjawab pertanyaan Samuel.


"Perusahaan berjalan baik bos, kerja sama dengan tuan Thomas juga sudah mulai berjalan. Dan ada satu pengembang lagi yang ingin bergabung dengan perusahaan kita. Semua baik-baik saja bos!" jawab Riksa panjang lebar.


"Lalu bagaimana penyelidikan mengenai kecelakaan yang menimpa Naira waktu itu?" tanya Samuel.


Bukan hanya Riksa yang terkejut atas pertanyaan Samuel. Aku juga terkejut, masalahnya aku yang meminta pada Riksa untuk tidak mengatakan hasil penyelidikannya pada Samuel sebelum semuanya benar-benar jelas.


"Maaf bos, tapi rekaman CCtv masih kurang jelas. Kami masih berusaha...!"


"Jika besok belum juga ada hasil yang pasti, maka kamu akan aku pindah tugaskan ke Papua!" ucap Samuel membuat Riksa langsung menutup rapat mulutnya.


Aku jadi tidak enak hati pada Riksa, tapi kalau dia melaporkan hasil penyelidikannya maka hubungan Samuel dan Adam akan jadi taruhannya.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2