
Sementara itu di butik milik Puspa, Mega dan juga Putra sedang adu mulut dengan Emi, sekertaris Puspa.
"Saya tidak berbohong nyonya, saya memang tidak tahu dimana sekarang bis berada, bos memang sudah dua hari ini tidak ke butik. Dia hanya menghubungi saya saja agar membuka butik karena sudah banyak pesanan dan kami harus menyelesaikan pesanan-pesanan yang sudah di konfirmasi!" jelas Emi karena sejak tadi Mega terus saja menuduhnya berbohong kalau dia memang tidak tahu dimana bos nya itu berada.
"Kenapa kamu bisa menghubungi nya sedangkan kami tidak, mana nomer Puspa?" tanya Mega yang sudah seperti kebakaran jenggot mencari keberadaan Puspa.
Emi lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan nomer yang tadi pagi menghubungi nya.
"Ini Nyonya, tapi saya benar-benar tidak berbohong!" ucap Emi.
Mega mengambil ponsel Emi lalu mencatat nomer yang menghubungi Emi itu ke dalam ponselnya, namun ketika Mega melakukan itu malah tertera di layar ponselnya kontak panggilan Puspa. Mega semakin kesal dan menyerahkan ponsel Emi dengan mendorongnya ke arah Emi.
"Astaga!" pekik Emi pelan sambil mengusap dadanya.
Emi sangat bersyukur dia bisa menahan ponselnya itu tepat waktu, jika tidak bisa saja ponselnya itu jatuh ke lantai dan bisa rusak. Karena itu Emi mengelus dadanya dan bersyukur.
'Syukurlah tidak jatuh, ibu nya bos ini kenapa sih?' tanya Emi dalam hati.
Sementara itu Putra yang merasa kalau tindakan istrinya itu semakin keterlaluan pun menegur Mega.
"Bu, sebaiknya kamu tenang. Dengan bersikap seperti ini tidak akan banyak membantu!" ucap Putra berusaha mengingatkan Mega.
Mega yang merasa kalau suaminya malah tidak mendukungnya pun mulai merasa kesal juga pada suaminya itu.
"Bersikap seperti apa yah? seperti apa? kamu juga ayah kandungnya Puspa kan, seharusnya kamu juga sama paniknya seperti aku. Sudah tiga hari kita tidak bertemu dengan Puspa, sudah tiga hari pula anak kita tidak pulang ke rumah. Aku masih harus tenang? katakan bagaimana aku bisa tenang?" tanya Mega yang wajahnya sudah mulai memerah karena sudah mulai emosi lagi.
Emi yang mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Mega pun ternganga tak percaya.
"Bos tidak pulang? lalu bos kemana?" tanya nya tanpa sadar.
Mega lalu menoleh dan menatap tajam ke arah Emi.
__ADS_1
"Cepat hubungi bos mu!" seru Mega pada Emi.
"Tapi nyonya, saya tidak bisa menghubungi bos...!"
"Bagaimana tidak bisa menghubungi nya?" tanya Mega membentak Emi.
Emi yang bahkan belum selesai dengan apa yang dia katakan pun sampai terjingkat ke belakang sangking terkejutnya mendengar bentakan dari Mega.
"Bu!" tegur Putra yang melihat kalau sekertaris anaknya itu mulai ketakutan.
"Apa yah? katakan kenapa tidak bisa? tadi pagi kalian bicara kan? kenapa tidak bisa menghubunginya sekarang?" tanya Mega dengan ekspresi yang jika melihatnya siapapun pasti akan takut juga.
Emi meskipun merasa takut tapi dia tetap berusaha untuk menjawab.
"Saya tidak mengerti nyonya, tapi memang sejak kemarin saya tidak bisa menghubungi nomer bos. Dan tadi pagi saat bos menghubungi saya, dia bilang kalau untuk saat ini memang dia sengaja mengatur nomer teleponnya seperti itu, hanya bisa menghubungi nomer yang dia inginkan dan tidak bisa dihubungi. Begitu nyonya, tuan!" jelas Emi dengan sedikit gugup.
"Puspa!" pekik Mega yang sudah sangat frustasi terhadap apa yang dilakukan oleh Puspa.
"Sudahlah Bu, mungkin Puspa masih butuh waktu." ucap Putra berusaha menenangkan Mega.
Emi yang ketakutan pun memilih untuk mengambil langkah seribu dan meninggalkan ruangan Puspa itu.
Emi berlari dengan cepat menuju ke ruangan lain yang jaraknya lumayan jauh dari ruangan Puspa.
"Hufh... hufh...!" Emi sampai ngos-ngosan karena kencangnya dia berlari.
"Mbak Emi kenapa?" tanya Widya salah satu karyawan di butik Puspa.
"Huh, aku baru saja habis lolos dari amukan macan betina Wid, ih serem deh!" jawab Emi sambil bergidik ngeri mengingat saat Mega mengamuk padanya tadi.
***
__ADS_1
Sementara itu di kamar rawat Vina, kedua orang tua Vina masih terus berusaha untuk tenang saat mereka berdebat soal siapa yang akan pindah ke kediaman siapa.
Adam mengatakan kalau Vina lah yang harus pindah dan tunggal di kediaman Virendra. Dan Kevin juga Lisa sama sekali tidak setuju pada hal itu. Namun Stella dan juga Damar juga menginginkan hal yang sama dengan Adam, karena mereka masih cemas pada kondisi Adam, dan mereka juga bisa melihat kalau Kevin dan Lisa sepertinya sangat tidak suka pada Adam. Itu membuat Stella merasa tidak tenang kalau sampai Adam harus tinggal di kediaman Rahardja.
"Tapi kami juga ingin merawat putri kami, kenapa tidak Adam saja yang tinggal di kediaman kami!" seru Lisa pada semua yang ada di ruangan tersebut.
Sementara empat orang yang usianya masih muda hanya diam. Mereka adalah Samuel, Naira, Puspa dan juga Riksa. Dari tadi saat kedua pasang orang tua saling berdebat, dua pasangan muda ini juga hanya diam dan saling pandang. Mereka tak mau ikut campur dalam hal ini.
"Benar, apalagi kondisi Vina membutuhkan perhatian khusus. Kami tidak mau sampai ada kesalahan!" tambah Kevin.
Karena merasa perdebatan tak kunjung selesai, maka sebagai orang yang paling dituakan di ruangan itu pun, kakek Virendra berusaha membuka suaranya.
"Begini, nak Kevin dan nak Lisa. Bagaimana pun juga sebaik-baiknya wanita yang sudah menikah itu adalah tinggal bersama dengan suaminya, di rumah suaminya. Dan di kediaman Virendra juga ada Stella, ibu mertua Vina, juga Naira dan Puspa saudari ipar Vina yang akan ikut menjaga dan merawat Vina. Sebagai kakek dan dan sekarang juga adalah kakeknya Vina. Aku yang akan jamin segala kebutuhan Vina akan terpenuhi di kediaman Virendra." tegas kakek Virendra.
Puspa yang di sebut oleh kakek Virendra sebagai saudari ipar sama seperti Naira pun tersipu malu. Tapi Adam langsung melihat kea arah Riksa dengan tatapan kesal.
Lisa juga langsung saling pandang dengan Kevin.
"Begini besan, rumah kami juga seperti rumah kalian. Jadi kalian pun juga bisa setiap saat datang untuk menemui Vina. Pintu rumah kami selalu terbuka 24 jam untuk besan sekeluarga!" tambah Stella berusaha meyakinkan Lisa dan juga Kevin.
"Atau bagaimana kalau kita tanyakan saja pada Vina, mau tidak dia tinggal di kediaman Virendra?" sambung Damar yang mencoba juga ikut mencari jalan tengah dari perdebatan yang tak kunjung selesai sejak tadi.
"Nah benar! kita tanyakan saja pada Vina!" sahut Stella yang sangat setuju dengan usulan dari suaminya.
"Vina, kamu mau kan tunggal di kediaman Virendra?" tanya Stella dengan sangat ramah pada Vina.
Tanpa ragu, Vina langsung menganggukkan kepalanya.
"Iya tante, Vina mau tinggal di sana!" jawab Vina dengan yakin membuat Lisa dan Kevin menghela nafas berat karena sesungguhnya mereka masih tidak rela dengan pernikahan ini, apalagi kalau sampai anaknya tunggal dengan orang yang telah menyebabkan semua masalah ini terjadi.
***
__ADS_1
Bersambung...