Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
27


__ADS_3

Selama dalam perjalanan, Riksa banyak sekali mendapatkan telepon. Untungnya tekhnologi sekarang sungguh canggih. Sehingga saat melakukan panggilan telepon Riksa tidak perlu memegang ponselnya, hanya perlu menyambungkan bluetooth ke earphone dan dia pun bisa melakukan panggilan telepon itu sambil tetap mengemudi dan fokus ke arah depan.


Aku terus memperhatikan nya, tapi aku juga tidak ingin mengganggu nya, aku lebih memilih diam sambil sesekali melirik ke arah Riksa yang masih tetap bersikap tenang dan fokus.


Tapi aku malah memikirkan sesuatu yang tiba-tiba saja terlintas di kepala ku.


'Kelihatannya dia sibuk sekali, em... jadi penasaran dia ini punya pacar atau tidak ya?' batin ku sambil sesekali memperhatikan nya


Dari sekian banyak hal yang mungkin aku pikirkan, aku juga tidak mengerti, kenapa malah pikiran itu yang terlintas. Tapi sungguh, hal itu membuatku sangat penasaran.


Setelah mengakhiri panggilan telepon yang terakhir, Riksa melirik sekilas ke arah ku. Dia tersenyum dan membuatku langsung mengalihkan pandangan ku ke arah jendela di samping kiri ku. Tingkah ku ini benar-benar seperti seseorang yang ketahuan mencuri atau semacamnya. Jika dia bertanya, aku pasti mengatakan apa yang ada di kepala ku. Semoga saja dia tidak bertanya.


"Ada apa?" tanya nya kemudian.


Aku memejamkan mataku cepat.


'Kenapa dia malah bertanya?' tanya ku dalam hati.


Aku menghela nafas dalam, lalu menoleh ke arahnya sambil menggaruk tengkuk ku yang sebenarnya tidak gatal.


"Itu, aku tadi berfikir. Kamu sangat sibuk, banyak sekali telepon masuk dan kamu juga banyak menghubungi orang lain. Apa setiap hari kamu memang sesibuk ini?" tanya ku ragu dan aku sendiri terkejut kenapa aku bertanya seperti itu.


Awalnya bukan kalimat itu yang ingin aku tanyakan, tapi aku juga tidak tahu kenapa malah kalimat seperti itu yang keluar dari mulut ku. Sebenarnya itu cukup bagus, daripada aku bertanya tentang pacar. Itukan privasi, kemungkinan antara dia marah atau menjawab itu setara.


Sebelum menjawab pertanyaan ku, Riksa sempat memberikan senyum teduh nya seperti biasanya.


"Ini sudah seperti rutinitas bagi ku, jika tidak sibuk maka aku malah merasa ada yang kurang, bahkan merasa ada sesuatu yang hilang!" jelasnya.

__ADS_1


"Lalu keluarga mu?" tanya ku penasaran.


Citttt


Riksa menginjak pedal rem secara tiba-tiba, membuat ku tersentak dan tangan ku terhantam dashboard mobil lumayan kuat karena aku menahan agar kepala ku tidak menghantam dashboard.


Riksa tampak terkejut, dia segera melepaskan sabuk pengaman nya dan memeriksa keadaan ku.


"Naira, maaf. Aku tidak sengaja. Aku refleks melakukan itu, apa kamu baik-baik saja?" tanya nya dengan cepat dengan banyak pertanyaan. Kurasa dia ini panik sekaligus menyesali apa yang telah dia lakukan barusan.


Aku melihat tangan ku yang merah, dan sejujurnya aku sangat terkejut. Tapi melihat wajah panik Riksa, aku segera menggelengkan kepalaku dengan cepat.


"Tidak apa-apa, aku yang harus minta maaf. Tidak seharusnya aku bertanya privasi padamu!" seru ku dengan suara yang aku sendiri bisa mendengarkan jika suara ku ini gemetaran.


Aku sungguh masih merasa panik. Sebelum nya aku memang jarang naik mobil, kalau tidak ada acara pernikahan yang jauh dan harus sewa travel. Dan aku tidak pernah duduk di depan seperti ini. Jadi ketika Riksa menginjak pedal rem mendadak tadi. Aku benar-benar terkejut, dan jujur saja jantungku berdetak dengan sangat cepat.


Lagipula kenapa aku malah tiba-tiba bertanya tentang keluarga, ini kan sama privasi nya dengan bertanya tentang pacar. Aku ini terkadang kelewat bocor kalau bicara, tak bisa di saring dulu. Bisa habis aku kalau yang ada di hadapan ku sekarang adalah si lidah tajam.


Tapi aku juga melihat kalau dia seperti nya mendadak menjadi sedih. Aku rasa aku telah membuatnya sedih. Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan?


"Riksa maaf, aku hanya...!"


"Tidak apa-apa Nai, kamu tidak tahu. Jadi kamu tidak perlu minta maaf. Tapi mulai sekarang tolong jangan bertanya tentang keluarga ku lagi ya Nai!" pinta nya padaku. Dan meskipun dia terlihat sangat sedih, dia mengatakan kalimat itu dengan lembut.


Aku jadi semakin merasa bersalah saja. Aku mengangguk, dan dia kembali memeriksa keadaan ku, dia meraih kedua tangan ku dan melihat kedua telapak tangan ku yang memerah. Dia terlihat sedih melihat hal itu.


"Apa ini sakit?" tanya nya sambil meniup telapak tangan ku.

__ADS_1


Deg deg deg


Terus terang saja, aku yang memang tidak pernah sedekat ini dengan seorang pria. Dan di perlakukan begitu lembut dan manis seperti ini sebelumnya. Aku tidak bisa menampik, jika jantung ku berdetak sangat kencang saat ini. Aku berharap dia tidak mendengarkan nya, karena terus terang saja, aku bahkan bukan hanya bisa merasakan nya tapi bisa mendengarnya.


Aku dengan cepat menarik tangan ku, membuat Riksa terkesiap. Tapi aku tak mau di perlakukan sebaik ini olehnya, aku bisa baper nanti.


"Em, aku sudah tidak apa-apa. Kita bisa pergi sekarang kan?" tanya ku.


Riksa langsung tersenyum dan mengangguk kan kepalanya. Dia kembali memasang sabuk pengaman dan menyalakan kembali mesin mobilnya. Kami melanjutkan perjalanan kami ke percetakan.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di tempat yang kami tuju. Dan lagi-lagi aku di buat terpana pada percetakan yang dimaksud oleh Riksa. Ini bukan percetakan undangan yang seperti aku lihat sebelumnya, dan tidak seperti yang ada di daerah sekitar tempat tinggal ku.


"Riksa, ini serius percetakan? ini terlihat seperti sebuah perusahaan!" tanya ku pada Riksa.


Dia yang sudah berada di depan ku langsung mengajak ku masuk ke dalam.


"Kamu benar, ini memang perusahaan percetakan. Ayo masuk!" ajak nya.


Aku lalu mengikuti nya, Riksa seperti sengaja melambatkan langkah nya agar bisa sejajar dengan ku.


Sikap nya ini sungguh sopan dan perhatian. Betapa beruntungnya orang yang akan menjadi teman hidupnya.


Kami di sambut oleh seorang yang mengaku sebagai manager tempat ini. Lagi-lagi kami di perlakukan dengan baik dan istimewa, bahkan beberapa orang yang sedang mengantri dan seperti nya datang lebih dulu sebelum kami terlihat memandang kami dengan tidak suka.


"Selamat datang tuan Riksa, silahkan kami sudah menyiapkan ruangan khusus untuk anda dan nona agar kalian nyaman saat memilih design undangan nya, silahkan!" ujar manager itu mempersilahkan kami menuju ke sebuah ruangan yang sangat bagus dan nyaman.


'Wah, memang ya! kalau banyak uang hidup begitu menyenangkan!' batin ku.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2