Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
131


__ADS_3

'Apa ini mimpi!' gumam ku dalam hati.


Aku masih tak percaya apa yang aku lihat tentang sikap Samuel padaku. Dia masuk lalu memanggilku sayang. Tapi setelah aku pikir dia memang memanggilku sayang kalau berhadapan dengan Kenzo. Kalau itu sih aku rasa hanya ingin menunjukkan pada Kenzo kalau hubungan ku dengannya baik-baik saja.


Tapi sikapnya tadi yang langsung membeli obat untukku, aku kembali berpikir tentang itu. Lalu dia yang mencium keningku. Aku bahkan masih merasa kalau hati ku berdesir, rasanya takjub dan merasa sangat di hargai.


"Suami mu ternyata sangat mencintai mu ya?" tanya Kenzo membuat ku langsung menoleh ke arahnya dan segera tersadar dari lamunan ku.


Aku menghela nafasku, kenapa juga orang ini masih berada di sini.


"Tuan muda Hasigawa, aku istrinya. Memangnya kalau tidak mencintai ku, dia mau mencintai siapa?" tanya ku pada Kenzo.


Tidak tahu ya, sejak tahu kalau dia itu selingkuhan nya Caren. Aku malah kehilangan respect dan rasa hormat ku padanya. Saat mengetahui kalau dia melakukan itu karena tidak tahu hubungan antara Samuel dan juga Caren, aku mulai sedikit respect lagi. Tapi begitu dia berusaha mengungkap hubungan Samuel dan terkesan ingin membuat Samuel terkesan buruk. Aku jadi kehilangan respect sama sekali padanya.


"Tidak kah kamu merasa kalau kata-kata mu ini terlalu ketus jika kamu tujukan pada seseorang yang telah menyelamatkan nyawa mu?" tanya nya lagi dengan suara yang terdengar sedih.


'Hais, dia benar juga. Mau seberapa aku tidak perduli padanya. Dia tetaplah orang yang telah menyelamatkan nyawa ku!' gumam ku dalam hati.


"Baiklah, Maafkan aku tuan muda Hasigawa jika kata-kata ku membuatmu tersinggung. Dan terima kasih atas bantuan mu. Aku tahu kalau kamu tidak menolong ku mungkin...!"


Tapi sebelum aku bisa menyelesaikan apa yang ingin aku katakan Kenzo malah sok akrab dan meletakkan jari telunjuk kanannya di depan bibit ku.


Aku langsung menepis jarinya itu dengan sedikit kasar. Tapi dia malah terkekeh dan mundur beberapa langkah dari ku.


"Kamu memang wanita yang menarik Naira, aku harus akui kalau soal wanita Samuel memang luar biasa dalam memilih." ucapnya kemudian.


"Naira!" panggil Riksa yang baru saja masuk ke dalam ruangan.


Aku dan Kenzo langsung melihat ke arah Riksa yang berjalan masuk dengan sedikit tergesa-gesa menghampiriku. Riksa menyentuh lengan ku dan menunjukkan tatapan khawatir.


"Bagaimana keadaan mu Naira? Apa yang terjadi?" tanya Riksa cemas, aku benar-benar bisa melihat raut cemas itu terpancar dari wajahnya.

__ADS_1


Aku tersenyum pada Riksa.


"Tidak apa-apa, hanya lecet saja! aku juga tidak tahu, kejadian itu begitu cepat. Aku keluar dari perusahaan mas Sam, lalu melihat mobil pak Urip masih ada di seberang. Aku bermaksud menghampiri pak Urip, tapi aku dengar beberapa orang berteriak dan...!" aku langsung menggelengkan kepalaku dengan cepat.


"Aku terjatuh, di dorong oleh tuan muda Hasigawa. Untung saja ada dia, kalau tidak mobil hitam itu pasti sudah benar-benar menabrak ku!" ucapku sambil menoleh ke arah Kenzo.


Riksa juga melakukan hal yang sama dengan ku. Dia juga menoleh ke arah Kenzo lalu mengulurkan tangannya pada Kenzo.


"Terimakasih banyak tuan muda Hasigawa, karena anda telah menyelamatkan Naira!" ucap Riksa sopan.


Kenzo tidak langsung menjabat tangan Riksa melainkan melihat ke arahnya lalu ke arah tangannya bergantian. Baru kemudian Kenzo menjabat tangan Riksa dan itu hanya sekilas saja.


"Aku mengenal mu Riksa Nugraha, setahuku kamu anak tunggal bukan? lalu kenapa kamu terlihat begitu perduli pada Naira?" tanya Kenzo dengan pandangan penuh selidik pada Naira.


"Memangnya kenapa kalau bukan adik kandung, aku sudah menganggap Riksa seperti kakak ku sendiri!" seru ku menyela.


Aku gemas melihat Riksa hanya diam dan Kenzo yang terus bicara. Dan terkesan memojokkan Riksa.


"Kamu masih disini Kenzo. Aku kira kamu sudah pergi!" seru Samuel yang baru masuk sambil memberikan sebuah botol air mineral ukuran kecil dan juga membuka sebuah strip kapsul obat dan memberikan nya padaku.


"Hei, kenapa seolah aku ini pengganggu. Aku yang menyelamatkan istri tercinta mu ini. Tidak kah ada kata yang ingin kamu sampaikan Sam?" tanya Kenzo sambil melihat kedua tangannya di depan dadanya sendiri.


Samuel masih membantu ku minum obat. Setelah itu baru dia berbalik menghadap ke arah Kenzo.


"Tuan muda Hasigawa, terimakasih banyak atas pertolongan anda kepada istriku. Sekarang kamu sudah boleh meninggalkan tempat ini, sekali lagi terima kasih!" ucap Samuel pada Kenzo dengan tegas.


Kenzo hanya bisa menghela nafasnya.


"Baiklah, tapi aku punya sebuah saran sebaiknya selidiki masalah ini. Aku rasa itu bukan sebuah kebetulan!" ucap Kenzo membuat Samuel menampakkan raut wajah serius.


Tapi kemudian dia mengangguk paham.

__ADS_1


"Baiklah, aku pasti akan menyelidiki ini semua!" ucap Samuel.


"Oke, aku akan pergi. Jaga wanita mu baik-baik." seru Kenzo lalu pergi.


Aku melihat kepergian Kenzo, dan sebelum benar-benar pergi dia terlihat menoleh lagi ke belakang. Aku sedikit tidak nyaman dengan tatapannya itu padaku.


"Riksa, kamu dengar kan apa yang dikatakan Kenzo tadi. Sekarang kembali lah ke perusahaan dan periksa semua kamera pengawas di luar maupun di dalam gedung. Pastikan orang itu tidak lolos. Mengerti!" perintah Samuel pada Riksa.


Riksa pun langsung mengangguk paham dan kembali menoleh ke arahku sekilas baru dia meninggalkan ruangan. Setelah Riksa pergi, Samuel mendekatiku dan memperhatikan luka yang tidak terlalu parah yang ada di kedua telapak tangan ku.


"Aku rasa kita harus menunda perjalanan ke Bali nanti malam!" ucap Samuel.


Aku langsung menggelengkan kepalaku dengan cepat.


"Tidak usah mas, mas berangkat saja. Aku tidak ikut!" ucap ku pada Samuel.


Aku tahu betapa pentingnya acara itu bagi proyek baru Samuel. Aku tidak ingin hanya karena aku dia sampai tidak jadi pergi ke acara itu.


"Lalu aku akan di anggap sedang bertengkar dengan istriku begitu?" tanya nya dengan tatapan tajam.


"Bu... bukan begitu mas. Kalau begitu kita berangkat saja. Ini benar-benar sudah tidak sakit kok!" ucapku.


"Kamu yakin?" tanya Samuel lagi.


Aku langsung mengangguk kan kepala ku dengan cepat.


"Iya, acaranya besok malam bukan. Aku pasti sudah baikan!" ucapku membuat Samuel bertambah yakin kalau kami tidak perlu membatalkan perjalanan bisnis itu.


"Baiklah kalau begitu, lain kali kamu harus lebih hati-hati. Kalau aku bilang tunggu di depan lobi maka tunggu saja di sana. Tidak perlu berlari menghampiri mobil seperti itu! Mengerti!" ucapnya dengan tegas.


Aku langsung mengangguk paham. Entah kenapa aku merasa kalau Samuel terlihat begitu perhatian padaku. Tapi aku yakin, perhatiannya ini pasti hanya karena dia harus tampil baik dengan ku di hadapan orang-orang yang mengetahui kalau aku dan dia memang sudah menikah.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2