
Bersama dengan Dina, aku masuk ke dalam lift menuju lantai 22.
"Bau makanan nya enak sekali nyonya bos. Apakah itu ikan bakar?" tanya Dina.
"Kamu benar, Dina. Kita bisa makan bersama. Aku bawa empat potong. Ini cukup untuk kita berempat!" jawab ku.
"Maaf nyonya bos, tapi bos tidak akan membiarkan kami menyentuh makanan nya!" kata Dina terlihat sedih.
"Begitu ya, maafkan aku Dina!" ucap ku yang tidak enak hati.
"Kenapa minta maaf padaku nyonya bos, kalau bos mendengar ini dia akan memotong gaji ku!" jelas Dina.
Aku langsung menutup mulutku dengan tangan ku yang tidak memegang kotak makanan. Tidak menyangka hak seperti itu saja akan membuat Samuel marah. Sepertinya memang untuk jadi asistennya atau sekertaris pribadi nya harus bertelinga tebal dan bermuka tembok. Astag, mengerikan sekali.
Ting
Ketika kami tiba di lantai 10, pintu lift terbuka. Dan memperlihatkan seorang pria seumuran Samuel dengan wajah oriental dan dua orang di belakang nya, seperti nya mereka asisten nya.
"Tuan muda Hasigawa!" sapa Dina sambil membungkuk sedikit ke arah pemuda itu.
Pemuda itu tersenyum tipis lalu melihat ke arahku. Aku ingat Samuel pernah bilang untuk tidak bersikap seperti itu, waktu itu aku membungkuk pada tuan Rizaldi dan Samuel sangat marah. Maka kali ini aku tidak melakukan hal yang sama dengan apa yang di lakukan oleh Dina.
Aku hanya tersenyum tipis, sama seperti yang pria itu lakukan.
"Apa Samuel ada di ruangannya?" tanya pria itu pada Dina.
Tapi wajah Dina terlihat panik saat pria itu menanyakan pertanyaan itu padanya.
"Maaf tuan muda Hasigawa, tapi... tapi bos akan makan siang dengan istrinya, dan bos berpesan agar tidak ada yang mengganggu nya. Mereka baru saja menikah, jadi..!" ucapan Dina terhenti ketika pria itu menatap ke arah ku.
"Jadi nona ini adalah istri dari Samuel?" tanya pria yang di panggil tuan muda Hasigawa oleh Dina.
Aku mengangguk kan kepala ku pelan.
"Iya, dia nyonya Naira Samuel Virendra. Istri bos Samuel!" jawab Dina dengan mantap.
Pria itu melihat ku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aku merasa tidak nyaman dengan apa yang di lakukan nya itu.
"Tuan, apa yang anda lakukan membuat saya tidak nyaman. Tolong jangan melihat saya seperti itu!" ucap ku.
Jelas aku tidak suka pada caranya melihat ku, sebenarnya tidak ada pandangan aneh. Tapi tetap saja di perhatikan secara mendetail begitu sangat tidak menyenangkan.
__ADS_1
"Berapa lama kamu sudah menikah dengan Samuel?" tanya pria itu.
Aku mengernyitkan dahi.
"Satu bulan!" ucap ku.
"Oh, jadi apa kamu tahu bahwa meskipun Samuel sudah menikahi mu dia...!"
Ting
Aku langsung keluar dari dalam lift ketika pintu lift terbuka dan meninggalkan semua orang di dalamnya. Termasuk Dina dan tiga orang itu. Apa yang dikatakan oleh pria bernama tuan muda Hasigawa itu sungguh membuatku tidak nyaman. Dan apapun itu, pasti bukan hal yang baik. Karena saat dia akan bicara, hatiku bahkan menyuruhku untuk segera pergi meninggalkan nya.
Dengan cepat aku berjalan menuju ke ruangan kerja Samuel.
Tok tok tok
"Mas, ini aku!" ucap ku.
"Masuk!" seru suara dari arah dalam.
Ketika aku masuk, Samuel langsung berdiri dari kursi kebesaran nya dan langsung menghampiri ku.
Dia mengajakku duduk di sofa dan aku meletakkan kotak makanan yang terdiri dari empat tingkat dengan ukuran yang lumayan besar.
"Mas, apa disini ada piring, sendok dan gelas?" tanyaku pada Samuel.
"Apa kamu pikir ruangan ku ini pantry, yang benar saja. Kenapa tidak bawa dari rumah?" tanya nya seolah menyalahkan aku.
Aku hanya diam lalu menarik tangan ku yang awalnya sedang membuka kotak makanan yang ada di atas meja yang aku bawa. Aku lalu menundukkan kepala ku dan melihat ke arah tangan yang ada di pangkuan ku.
Aku mau lihat apa ekspresi Samuel melihat ku seperti ini. Dan benar saja Samuel langsung mengusap kepalanya gusar.
"Oke baiklah, aku akan telepon Dina dan menyuruhnya mengambil semua yang kamu butuhkan!" seru Samuel lalu mendekati meja kerjanya.
'Yang aku butuhkan, yang mau makan kan kamu mas!' ucap ku dalam hati
Samuel menekan sebuah nomer tanpa menyentuh gagang telepon.
"Dina!" panggil Samuel.
"Tapi tak ada jawaban dari seberang sana!"
__ADS_1
Brak
Mataku dan Samuel langsung melihat ke arah pintu. Pria yang tadi di panggil oleh Dina sebagai tuan muda Hasigawa tiba-tiba memaksa masuk dengan Dina yang terlihat tergesa-gesa mengejarnya.
"Maaf bos, saya sudah berusaha...!" ucapan Dina terpotong karena Samuel menyelanya.
"Tidak apa-apa, ambil Dua piring, dua pasang alat makan dan dua gelas kemari secepatnya!" perintah Samuel pada Dina.
"Baik bos!" ucap Dina dan langsung pergi keluar dari ruang kerja Samuel.
Dua asisten dari pria itu juga hanya berdiri di luar ruangan. Samuel menghampiri pria itu.
"Sepertinya memang kamu sangat senggang ya Kenzo!" ucap Samuel yang terkesan sangat tidak suka dengan kedatangan pria bernama Kenzo itu.
Tunggu dulu, namanya Kenzo. Sepertinya aku pernah dengar nama itu. Tapi kapan dan dimana nya aku lupa.
Pria itu kemudian melihat ke arah ku.
"Apakah nyonya Samuel sudah tahu kejadian 3 Minggu yang lalu, saat di Singapura!" ucap Kenzo membuat Samuel menghela nafas panjang.
"Jika kamu bermaksud membuat istriku tidak percaya padaku, maka sayang sekali niat mu itu tidak akan pernah terwujud!" ucap Samuel dengan yakin.
Aku hanya diam, aku baru ingat sekarang. Aku pernah mendengar nama Kenzo disebut oleh Samuel saat dia memutuskan hubungan dengan Caren. Aku bisa menyimpulkan kalau pria di depan ku ini adalah orang yang telah berselingkuh dengan Caren.
Aku langsung menelan saliva ku dengan susah payah, dia sudah melakukan hal itu dengan. Caren sebelum menikah. Apakah pria ini memang pria mesum. Aku jadi merinding, karena mengingat dia tadi melihat ku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Tanpa di suruh pria itu malah duduk di sofa yang ada di sebelah kanan ku. Aku langsung menggeser duduk ku menjauh, meski tidak satu sofa tetapi aku merasa sangat tidak nyaman berada dekat dengan orang ini.
"Jadi nyonya Samuel, benarkah kamu tahu kalau suami mu jauh-jauh pergi ke Singapura hanya untuk menemui kekasihnya!" tanya Kenzo padaku dengan tatapan remeh pada Samuel.
Aku bisa melihat rahang Samuel mengeras dan tangannya pun terkepal.
"Mantan kekasihnya!" ucap ku tegas.
Aku bicara dengan tatapan tegas pada Kenzo.
'Baik, anggap saja saat ini aku sedang membalas kebaikan mu pada ayah ku!' batin ku dalam hati sambil melihat sekilas ke arah Samuel.
***
Bersambung...
__ADS_1