Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
78


__ADS_3

Sudah hampir petang saat kami tiba di sebuah hotel yang sangat mewah dan megah, kalau tidak salah nama tempat ini Marine Bay gitu. Aku dengar saat Samuel bercakap dengan supir yang menjemput kami. Ternyata supir itu dari hotel ini. Fix, artinya hanya aku dan Samuel yang berada di sini. Tidak ada anak buah Samuel yang ikut ataupun sudah stay disini untuk menjepit kami.


Sebenarnya aku sedikit tidak nyaman, meskipun bisa di bilang inikan pergi dengan suami sendiri, tapi aku ini sedang menemani suami ku bertemu dengan pacarnya, apapun bisa terjadi. Tapi saat aku berfikir positif, aku dapat menyimpulkan.


Mungkin itu semua dia lakukan karena tidak ingin di ganggu saat menghabiskan waktunya dengan pacarnya itu.


Kami di arahkan oleh seorang petugas hotel ke kamar kami. Benar saja ternyata memang kamar kami, hanya satu kamar. Aku juga tidak mengerti. Setelah kami masuk ke dalam dan petugas yang membawakan tas kami itu pergi, aku baru berani bertanya pada Samuel.


"Tuan, apa kita akan tinggal dalam satu kamar?" tanya ku pada Samuel.


Dan setelah aku bertanya seperti itu, aku lihat raut wajah Samuel menjadi suram. Dia memandang ku dengan menyipitkan matanya.


"Kamu punya uang tidak? kalau punya pesan saja satu kamar lagi! kalau tidak, ya diam saja. Lagi pula aku juga tidak akan tinggal disini bersamamu, aku akan tinggal di apartemen Caren!" jawab nya tidak perduli.


Aku langsung menutup mulutnya yang menganga dengan tangan ku.


"Tuan akan tinggal di apartemen Caren, jangan bercanda dong tuan!" keluh ku pada Samuel.


Lagi-lagi apa yang ku tanyakan membuat Samuel menatap ku dengan tatapan tidak suka.


"Kenapa? apa kamu berharap ini benar-benar akan menjadi bulan madu kita, jangan mimpi kamu!!" ketus nya.


Aku hanya bisa menghela nafas, aku mengeluh bukan karena ingin bersama Samuel dan tidak berharap sedikit pun untuk bulan madu dengannya. Tapi kalau dia pergi dan tinggal dengan Caren, lalu bagaimana dengan aku. Aku tidak tahu apapun tentang tempat ini. Dan yang lebih parah lagi adalah aku tidak membawa sepeserpun uang.


"Bukan begitu tuan, aku tidak berharap bisa bukan madu dengan tuan...!" aku menjeda kalimat ku ketika tatapan tajam Samuel lagi-lagi tertuju padaku.


"Maksud ku, aku tentu berharap bisa berbulan madu dengan tuan!" aku maralat apa yang aku katakan meski sebenarnya aku geli sendiri mendengar apa yang telah aku katakan ini.


"Kalau mimpi jangan ketinggian, walaupun di dunia ini sudah tidak ada wanita lain. Aku juga tidak akan menyentuh mu!" ucap Samuel dengan tegas.

__ADS_1


Aku hanya bisa menghela nafas lagi.


'Yang mau kamu sentuh juga siapa? aku hanya butuh makan!' batin ku kesal.


"Maaf tuan, bukan begitu!"


"Bukan begitu, bukan begitu! dari tadi kamu hanya mengatakan kalimat seperti itu, sebenarnya kamu itu mau ngomong apa?" tanya Samuel dengan nada yang kian meninggi.


'Ya ampun, darah tingginya kumat. Bisa kena serangan jantung aku kalau begini terus!' batin ku lagi.


Aku mulai mendekatinya dan berbicara dengan lembut, kalau tidak dekat mungkin dia akan semakin marah saja karena suaraku tidak terdengar oleh nya.


"Kenapa dekat-dekat?" pekik nya lagi.


Aku sampai terjingkat ke belakang karena terkejut.


"Kamu pikir aku tuli?" pekiknya lagi dengan suara yang lebih tinggi, bukan setengah oktaf lagi. Tapi satu setengah oktaf dari sebelumnya. Aku rasa kalau ini hotel biasa dan bukan hotel mewah, pasti tetangga di kamar sebelah akan terkejut dengan teriakan Samuel.


Tapi memang sepertinya apapun yang aku katakan hanya akan salah saja di mata dan telinga Samuel. Aku lagi-lagi harus menghela nafasku.


'Sabar Nai, sabar. Daripada di tinggalin!' gumam ku dalam hati mencoba untuk menyemangati diri sendiri.


"Tidak tuan, baiklah aku minta maaf. Aku yang tidak bisa bicara dengan benar, dan mengatakan maksud ku dengan benar!" ucap ku dan aku lihat Samuel mulai mengecilkan sedikit matanya yang tadinya terbelalak marah.


"Benar, kamu memang bodoh!" ketus nya.


'Tajem banget lidahnya, astaga!' keluh ku lagi tapi hanya di dalam hati.


"Tuan, jika tuan meninggalkan aku sendirian disini, apa yang harus ku lakukan? tuan aku juga tidak punya uang, lalu bagaimana aku bisa bertahan hidup?" tanya ku sedikit diplomatis padahal kan aku bisa saja langsung bilang bagaimana dengan makanan untuk ku kalau dia tinggal.

__ADS_1


Aku mengatakan kalimat seperti itu agar terkesan sedikit lebih pandai bicara, tapi kurasa di mata Samuel aku tetaplah bodoh.


"Ck ck ck, tidak pernah tinggal di hotel?" tanya nya dengan nada meremeh dan tatapan yang begitu merendahkan ku.


Aku hanya menggeleng kan kepala ku dengan cepat. Karena aku memang tidak pernah menginap di hotel, aku kan punya rumah. Maksud ku rumah ayah, tapi aku juga kan bisa tinggal dengan nyaman di rumah ayah lalu untuk apa aku menginap di hotel, dan kalaupun keluar kota bersama dengan ayah, ibu dan juga Ibras. Kami akan tidur di rumah saudara kami, untuk apa tinggal di hotel kalau ada rumah saudara yang begitu nyaman dan suasana nya juga begitu hangat.


Tapi Samuel malah terkekeh.


"Benar-benar kampungan, kalau kamu lapar tinggal telepon saja layanan kamar, minta di bawakan makanan dan apapun yang kaku butuhkan!" jelasnya.


"Semua uang aku butuhkan?" tanya ku padanya lagi.


"Iya, anggap saja ini sebagai kompensasi karena kamu sudah ikut aku kesini agar ibuku tidak marah!" jawabnya.


Aku baru tahu ada hal seperti itu, aku mengangguk paham. Aku lihat Samuel sedang mengambil satu setel pakaian casual yang sangat bagus. Aku rasa dia akan mandi dan setelah itu dia akan pergi menemui Caren.


Awalnya aku cemas, tapi karena dia bilang apapun yang aku butuhkan aku bisa hubungi layanan kamar, maka aku tidak khawatir lagi. Karena aku pasti bisa bertahan hidup meskipun hanya diam saja di dalam kamar. Lagipula kamar ini cukup besar dan juga nyaman.


Beberapa saat kemudian, Samuel yang tadi sudah masuk ke kamar mandi pun keluar dari sana. Penampilan nya sudah berbeda, meski aku tidak terlalu menyukai nya tapi dengan pakaian casual, dia terlihat lebih tampan dan keren. Dia terlihat lebih muda dan juga fresh.


"Aku akan langsung ke apartemen Caren!" ucapnya sambil meraih gagang kopernya dan menariknya menuju ke arah pintu.


Aku hanya mengangguk, tapi kemudian dia berbalik dan melihat ke arah ku.


"Jangan keluar dari kamar ini dan jangan biarkan seorang pun masuk, siapapun itu, mengerti!" perintahnya padaku.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2