
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah ayah, aku benar-benar menumpahkan semua kekesalan ku pada mas Sam. Aku menangis sejadi-jadinya, dan melihat keadaan ku yang seperti ini, Riksa tidak langsung mengajak ku pulang.
Kami berada di tepi pantai, yang sebenarnya jaraknya lumayan jauh dari rumah ayah Rama.
Riksa mengeluarkan satu buah botol air mineral yang ada di dashboard mobil nya. Dia membuka tutup botolnya dan mengulurkan nya padaku.
"Ini, minumlah dulu!" ucap Riksa padaku.
Aku meraih botol itu dan meminumnya. Setelah menangis dan minum air rasanya perasaan ku jadi sedikit lega.
"Aku boleh bantu jelaskan tentang bagaimana Caren bisa bekerja di perusahaan?" tanya Riksa.
Aku menoleh ke arah Riksa, sebenarnya dalam hati kecilku ingin sekali aku mendengarkan apa alasannya kenapa sampai mas Sam menerima Caren di perusahaan nya. Tapi mendengar nama wanita itu saja di sebut aku sudah sangat merasa kesal.
"Tidak perlu, aku tidak mau tahu. Aku sudah lebih baik, kita ke rumah ayah saja sekarang!" ucap ku pada Riksa.
"Baiklah!" ucap Riksa lalu kembali menyalakan mesin mobil lalu kami pun pergi meninggalkan pantai menuju ke rumah ayah.
Saat kami keluar dari pantai, aku melihat ada beberapa penjual es kelapa muda.
"Riksa, aku mau itu. Berhenti sebentar!" ucap ku pada Riksa.
Riksa lalu menghentikan mobilnya di tepi jalan. Aku segera melepaskan sabuk pengaman ku tapi Riksa menahannya.
"Aku saja, kamu tunggu di dalam saja. Mau berapa buah?" tanya Riksa.
"Em, untukku, untuk mu, ayah, ibu dan Ibras. Enam buah!" ucap ku pada Riksa.
Riksa sedikit mengernyit heran.
"Bukan kah seharusnya lima Naira, atau kamu ingin dobel?" tanya Riksa lagi.
"Em, itu tadi kan bos mu bilang mau menyusul. Satu lagi untuknya!" ucap ku pelan pada Riksa.
Aku bisa melihat Riksa tersenyum sekilas. Aku juga heran kenapa aku masih mengingat Samuel. Padahal aku sedang sangat kesal padanya.
Baru beberapa lama, Riksa kembali menghampiri ku dan mengetuk kaca mobil.
__ADS_1
"Naira, mau pakai gula tidak?" tanya Riksa.
"Air kelapanya manis tidak?" aku balik bertanya pada Riksa.
Dan Riksa mengangkat bahu nya pertanda dia tidak tahu air kelapa itu manis atau tidak.
"Sebentar aku tanya dulu!" ucap Riksa lalu pergi kembali ke arah tukang penjual es kelapa muda itu.
Beberapa detik kemudian Riksa datang dengan satu buah kelapa muda yang sudah di buka dan dengan sebuah pipet transparan ukuran sedang di atasnya.
"Ini Nai, cobalah!" ujar Riksa sambil mendekatkan buah kelapa muda itu ke arah ku.
Aku meminumnya dan rasanya sedikit tawar.
"Em, kurang manis. Tambah gula saja!" ucap ku pada Riksa.
Riksa kemudian kembali ke arah tukang es kelapa muda itu dan tak lama kemudian dia balik lagi ke arah mobil.
"Nai, mau pakai gula merah atau putih?" tanya Riksa lagi.
"Enak yang mana?" tanya ku sekalian membuatnya bingung.
"Tidak tahu, aku tidak pernah minum es kelapa dengan gula. Biasanya original!" jawab Riksa.
"Gula putih saja. Cepat lah Riksa!" ucap ku.
Riksa segera kembali dan membawa beberapa buah kelapa yang sudah di kupas tempurungnya dan di letakkan di tempat khusus.
Kami segera menuju rumah ayah Rama.
Saat sedang melewati proyek pembangunan mini market, aku menghela nafasku berat.
"Riksa, bagaimana dengan penyelidikan kasus tabrakan itu?" tanya ku mengalihkan perhatian ku.
Aku jadi ingat lagi pada Samuel karena melihat proyek pembangunan minimarket itu. Dan aku kembali merasa sedih dan kecewa karena itu aku mengalihkan topik pembicaraan agar aku juga lupa pada hal yang membuat ku kesal tadi.
"Oh, iya aku sampai lupa memberitahukan hal ini padamu karena masalah yang terjadi di kantor. Aku sudah menyelidiki nya, ternyata kamu benar. Bukan Adam yang melakukan nya." jawab Riksa.
__ADS_1
Dan setelah mendengar ucapan Riksa, aku pun memperhatikan dengan seksama apa yang akan dikatakan Riksa selanjutnya.
"Lalu siapa pelakunya?" tanya ku penasaran.
Aku sejak awal memang sudah yakin kalau bukan Adam pelakunya. Aku tahu Adam memang tidak menyukai ku, tapi dia juga tidak akan melakukan perbuatan jahat seperti itu. Aku yakin pada dasarnya Adam itu baik orangnya. Anak dari ayah Damar dan juga ibu Stella tidak mungkin ada yang punya tabiat tidak baik.
Seperti Samuel yang keras di luar tapi lembut dan baik di dalamnya.
'Huh, kenapa lagi-lagi aku harus mengingat mas Sam!' keluh ku dalam hati.
"Karena apa yang kamu katakan kemarin, aku memutuskan untuk menyelidiki Adam. Dan benar saja pada hari dan tanggal terjadinya kecelakaan itu, Adam memang menyewa mobil di showroom itu. Tapi pada jam kejadian kecelakaan itu terjadi, Adam berada di rumah sakit Sentosa, dia melakukan check up rutin disana. Dan baru kali jam dua siang dan itu pun langsung pulang ke kediaman Virendra. Bibi Merry yang mengatakan hal itu. Setelah itu dia tidak kemana-mana lagi, bahkan yang mengembalikan mobil itu ke showroom adalah pak Urip." jelas Riksa panjang lebar.
Aku mengangguk kan kepala ku paham. Sebenarnya aku bersyukur sekali karena pelakunya bukan Adam, tapi aku juga penasaran sebenarnya siapa yang berniat mencelakai ku, atau saat itu memang orang itu tidak sengaja.
"Jadi apa itu sebenarnya memang benar-benar kecelakaan biasa?" tanya ku pada Riksa.
Riksa terdiam sejenak.
"Nai, sebenarnya itu memang seperti di sengaja. Sebab, dari rekaman CCtv yang sudah kami lihat dan pelajari beberapa kali. Mobil itu terlihat diam sebentar sebelum mengebut dan hampir saja mencelakai mu. Seperti sedang menunggu mu lewat!" jelas Riksa.
"Tapi jangan cemas Nai, cepat atau lambat kami pasti akan menemukan siapa yang mencelakai mu itu!" ucap Riksa lagi.
"Riksa...!"
Riksa langsung menoleh ke arah ku sekilas lalu kembali fokus mengemudi.
"Ya!" jawab nya.
"Apa mungkin yang mencelakai ku adalah salah satu wanitanya mas Sam?" tanya ku ragu.
Riksa hanya diam, kurasa dia juga bingung harus menjawab apa.
"Naira, aku akan katakan satu hal padamu. Bosa itu memang banyak sekali penggemar nya. Tapi saat ini aku yakin kalau satu-satunya wanita yang ada di hati bos dan sangat dia cintai itu adalah kamu. Kamu tidak tahu sih berapa frustasi nya dia saat kamu bahkan hanya memutuskan panggilan telepon nya, dan kamu tidak tahu betapa dia ingin cepat pulang saat semua pekerjaan sudah selesai hanya untuk bertemu dengan mu, melihat mu dan mendengar suara mu. Percayalah padaku Naira, bos sangat mencintai mu!" ucap Riksa membuat hatiku merasa terenyuh.
***
Bersambung...
__ADS_1