
Mas Sam kembali dari dapur dengan membawa segelas air dingin yang dia ambil sendiri dari lemari pendingin.
"Makanan itu pedas sekali. Ayah aku tidak bisa makan pedas!" ucap Samuel yang terkesan mengadu pada sanga ayah.
Ayah langsung berdiri dan meraih piring yang berisi makanan untuk Samuel.
"Tidak usah nak, makan yang lain saja. Ibu juga buat ayam goreng tadi! ayah ambilkan ya?" tanya ayah yang sudah membawa piring itu berjalan ke arah dapur.
Samuel kemudian mengikuti ayah ke dapur, ibu kembali mendekati ku dan berbisik padaku.
"Naira, kasihan juga ya nak Samuel. Dia terlihat sangat kepedasan. Bibir dan wajahnya sampai merah begitu!" ucap ibu yang kurasa sudah mulai iba pada Samuel.
"Biarkan saja Bu, aku sedang kesal padanya!" jawab ku pada ibu.
"Memang apa yang sudah dia lakukan?" tanya ibu terlihat sangat penasaran.
Aku diam sebentar, awalnya aku memang tidak ingin menceritakan pada ibu perihal apa yang sudah terjadi antara aku dan juga mas Sam. Karena aku pikir ayah dan ibu tidak perlu tahu hal ini, mereka bisa khawatir. Tapi karena sekarang ini ayah dan ibu sudah terbagi menjadi dua kubu. Aku rasa sebaiknya aku harus menceritakan hal ini pada ibu, agar ibu punya alasan kuat saat membelaku nanti di depan ayah.
"Dia sudah mempekerjakan mantan kekasihnya di kantor nya, tanpa bilang dulu atau bertanya padaku Bu!" jawab ku.
Ibu langsung melebarkan matanya.
"Apa?" pekik ibu yang terlihat semakin marah dari yang sebelumnya tadi.
Bahkan ibu sudah meletakkan kedua tangannya di pinggangnya. Ibu terlihat mendengus kesal.
"Pasti mantan pacar nya itu yang mengganggu Samuel kan? siapa namanya, dimana rumahnya? biar ibu yang samperin perempuan itu!" ucap ibuku dengan semangat yang menggebu-gebu.
__ADS_1
Aku malah jadi khawatir sendiri karena ibu malah terlihat lebih marah dan cemburu daripada aku.
"Ibu, untuk apa ibu samperin perempuan itu?" tanya ku pada ibu ku yang seperti lupa kalau dirinya baru saja sembuh.
Ibu benar-benar terlihat sangat bersemangat dan menggebu-gebu. Sampai dia lupa kalau dia belum sehat betul.
"Hah, mau apa lagi. Tentu saja ibu mau memberikan pelajaran tentang baik dan buruk pada perempuan itu. Yang benar saja, kenapa dia berani-beraninya merayu dan menggoda suami orang!" kesal ibu.
Setelah ibu mengatakan kalimat nya itu, malah aku yang jadi lemas. Masalahnya kalau pun perempuan itu mengerahkan semua kemampuannya untuk menggoda mas Sam, seandainya mas Sam tidak menanggapi nya pasti dia juga tidak akan berhasil, dan dia tidak akan bisa bekerja di perusahaan mas Sam.
Aku rasanya benar-benar kesal sekali kenapa mas Sam itu lemah sekali menghadapi mantan kekasihnya itu.
"Ck... kenapa menyalahkan perempuan itu Bu, kalau suami ku itu tidak menanggapinya pasti perempuan itu akan menyerah dengan sendirinya!" ucap ku lirih sambil menundukkan wajah ku.
Aku merasa kalau semua ini adalah salahku, aku yang datang belakangan. Aku juga harus siap sakit hati kan jika mas Sam mendadak jatuh cinta lagi pada mantan kekasihnya itu, secara hubungan nya dengan wanita itu lebih lama daripada hubungan mas Sam dengan ku yang baru hitungan bulan.
Ibu juga langsung diam, tapi ibu segara merangkul ku.
Aku langsung melihat ke arah ibu, mendongakkan kepalaku ke atas sedikit.
"Maksudnya Bu?" tanya ku.
"Ya kalau sedang hamil, bukan hanya makanan dan kegiatan saja yang harus di jaga, tapi segala tutur kata juga harus di jaga. Karena setiap tutur kata atau ucapan yang keluar dari mulut kita ini akan menjadi sebuah doa, dan kadangkala niat kita mau menyumpahi orang lain malah bisa berbalik pada diri kita atau keluarga kita sendiri!" jelas ibu panjang lebar.
Aku yang menyimak apa yang di katakan oleh ibu ku hanya manggut-manggut saja. Aku memperhatikan setiap katanya. Ternyata kalau sedang hamil itu banyak sekali aturan dan pantangannya. Tapi aku bersyukur ada ibu dan juga ibu Stella yang selalu memeringatkan aku dan juga memperhatikan aku.
Tak lama setelah aku dan ibu mengobrol aku mendengar suara mobil yang terdengar sangat keras dan bising mesinnya. Bahkan seperti bukan suara mobil, seperti suara alat berat yang ada di proyek-proyek pembangunan jalan atau bangunan besar.
__ADS_1
Karena merasa sangat penasaran sebab belum pernah ada hal seperti itu di komplek perumahan ini. Aku ingin keluar dan melihatnya.
"Ibu ikut Nai, tunggu sebentar!" ucap ibu sembari berusaha untuk bangun.
Ketika melihat ibu yang berusaha untuk bangun tapi sedikit mengalami kesulitan. Aku berinisiatif untuk membantunya. Dan saat ingat apa yang dikatakan ibu tadi aku jadi terkekeh sendiri.
"Eh Nai, kenapa malah tertawa? apa yang lucu? kita bahkan belum lihat ada apa diluar itu?" tanya ibu dengan raut wajah bingung.
Aku segera menghentikan tawa ku.
"Aku hanya ingat apa yang ibu katakan tadi, kalau ibu mau nyamperin wanita mantan kekasihnya mas Sam itu, tapi berdiri saja ibu belum kuat sendiri, bagaimana ibu akan mengejar wanita itu kalau dia lari?" tanya ku sambil terkekeh dan membantu ibu berjalan keluar.
"Ck... kamu ini Nai, ibu kan hanya mengekspresikan apa yang ibu rasakan dan pikirkan. Kalau perempuan itu lari kan tinggal ibu teriaki maling saja, ibu tidak perlu mengejarnya dia akan di kejar massa ha ha ha!" ibu kembali tertawa senang.
Aku bahkan ikut tertawa senang juga melihat ibu bicara seperti itu. Bukan hanya memikirkan nya aku bahkan membayangkan bagaimana kalau wanita yang terlihat sangat anggun dan elegan seperti Caren lari tunggang langgang di kejar warga kalau sampai ibu benar-benar meneriakinya maling di depan orang banyak. Itu pasti sangat konyol sekali.
"Astagfirullah!" pekik ibu membuatku kaget dan langsung tersadar dari lamunan ku lalu melihat ke arah ibu.
Saat aku melihat ke arah ibu, aku mengernyitkan dahi ku karena ibu terlihat sangat terkejut melihat ke arah depan. Saat aku juga melihat ke arah yang ibuku lihat, aku tidak kalah terkejut. Sebab yang ada di depan kami adalah sebuah alat berat yang biasa di pakai untuk pembangunan proyek, memindahkan alat berat, sebuah eksavator berwarna oranye terang benar-benar terparkir di depan rumah ayah.
"Nai, apa ini?" tanya ibu benar-benar syok.
Dan kami lebih terkejut lagi saat dari arah belakang muncul Riksa dengan pakaian yang masih sama dengan yang dia pakai saat pergi dari rumah ayah tadi sore.
"Nai, Tante Anisa. Dimana bos? aku sudah datang dengan alat yang dia butuhkan untuk mengambil kelapa muda langsung dari pohonnya!" ucap Riksa membuat ku dan ibu saling pandang dan menggelengkan kepala kami secara bersamaan.
Aku rasa aku sudah salah karena mengira akan bisa mengerjai mas Sam.
__ADS_1
***
Bersambung...