Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
50


__ADS_3

Baru saja aku merasa begitu senang karena apa yang dikatakan oleh Puspa kalau kemungkinan Samuel si lidah tajam itu belum datang karena dia berubah pikiran dan kabur dari pernikahan.


Tapi kesenangan ku itu langsung buyar seketika, karena ternyata si lidah tajam itu datang, dia masuk ke dalam ruangan kamar hotel ini dengan sempoyongan dan langsung tiduran di ranjang ukuran king size di dalam kamar ini. Aku melihat Riksa mengikuti di belakang nya dan sejak tadi terlihat menghela nafas dan sesekali memegangi kepalanya.


"Hei kenapa tuan muda ini?" tanya Puspa yang langsung menggoyang-goyangkan lengan Samuel hingga dia merasa terganggu dan mengeluh kesal.


"Aghh, jangan ganggu aku. Aku mau tidur sebentar lagi!" serunya dengan mata terpejam.


"Riksa, kamu terlihat tidak sehat? apa kamu sakit?" tanya ku yang sedari tadi memperhatikan Riksa yang terus menerus memegangi kepalanya.


"Heh, kenapa malah memperhatikan Riksa? Naira lihat calon suamimu ini, dia seperti tidak kuat membawa kepala nya sendiri!" seru Puspa dengan keheranan.


"Apa dia begadang semalam, dia sangat mengantuk seperti nya?" tanya ku pada Riksa sambil sesekali menoleh ke arah Samuel yang kurasa dia memang sedang sangat ingin tidur karena dari tadi matanya terpejam begitu rapat.


Puspa malah terkekeh mendengar pertanyaan ku.


"Naira sayang, calon suami mu ini bukan habis begadang! tapi dia habis minum! Dia ini bukannya mengantuk, tapi dia ini mabuk!" jelas Puspa.


Aku membulatkan mataku,


"Dia mabuk? bagaimana bisa dia mabuk?" tanya ku terkejut.


Kalau dia mabuk, dia pasti akan membuat masalah. Kata orang kalau orang yang sedang tidak sadar karena mabuk itu suka mengatakan kebenaran yang tersembunyi. Bagaimana kalau dia mengatakan tentang kontrak pernikahan kami pada ayah dan ibu, mereka pasti akan sangat sedih. Mereka akan kecewa padaku.


Melihat ku panik, Puspa langsung menghampiri ku dan mengusap lengan ku.


"Tenang Nai, seperti nya tidak terlalu parah!" ucap Puspa menenangkan aku.


Setelah bicara padaku, Puspa lalu beralih pada Riksa


"Riksa, lakukan sesuatu!" seru Puspa.


"Aku sudah memesan air lemon, sebentar lagi pasti akan datang. Setelah itu aku akan memandikan nya, agar dia cepat sadar!" jawab Riksa yang sepertinya dalam keadaan yang tidak baik.


Pakaian nya berantakan, dan wajahnya terlihat kusam. Dia pasti sangat lelah.


"Bagaimana bisa kamu tidak tahu dia minum?" tanya Puspa.

__ADS_1


"Aku melihat itu botol yang biasanya, yang kadar alkohol nya rendah. Setelah aku periksa ternyata itu minuman jenis baru yang dia beli!" jelas Riksa.


Tak lama kemudian ada pelayan datang dan membawa minuman lemon pesanan Riksa. Riksa memaksa Samuel untuk bangun dan duduk.


"Ayolah bayi besar, kamu harus bangun dan minum, air lemon ini!" seru Riksa.


"Pffftt!" aku menahan tawaku agar tidak terdengar oleh Riksa dan juga Puspa yang sedang mencekoki Samuel dengan air lemon.


Entah kenapa aku jadi melihat sisi lain Riksa disini, dia seperti kakak nya Samuel padahal umurnya terpaut, tiga tahun di bawah Samuel. Aku juga melihat betapa Puspa berusaha membuka mulut Samuel untuk memasukkan air limun itu ke dalam mulutnya.


Sementara Riksa memegang tangan dan berusaha menahan tubuh Samuel, Puspa seperti nya kesulitan meminta Samuel membuka mulutnya.


"Pencet hidung nya!" seru ku membuat Riksa dan Puspa menoleh bersamaan ke arah ku.


"Benar, pencet hidungnya!" sahut Riksa melihat ke arah Puspa.


Samuel memberontak ketika Puspa memencet hidungnya, tapi dia tidak bisa bergerak karena Riksa menahan tangannya dan tubuhnya. Akhirnya Samuel membuka mulutnya dan dengan cepat Puspa memasukkan semua air lemon yang ada di dalam gelas.


"Uhuukk!"


Puspa menjauh dan Riksa melepaskan tangan Samuel.


Riksa hanya menghela nafas nya berat, sementara Puspa terkekeh melihat Samuel marah-marah dengan air lemon yang belepotan di sekitar wajah, leher dan membasahi baju yang Samuel pakai.


Aku juga tidak bisa menahan tawa ku, aku memalingkan wajah dan melihat Samuel yang masih marah-marah dari pantulan cermin di depan ku. Melihat dia kesal, aku sungguh merasa senang dan sangat puas.


"Sudah sadar belum bos?" tanya Riksa berhati-hati.


"Ck... yang mabuk itu aku atau kamu, lihat aku berdiri dan marah-marah begini apa aku kelihatan belum sadar?" tanya nya kesal.


"Kalian berdua menyebalkan!" ucap Samuel lalu berjalan menuju ke kamar mandi. Dia lalu berhenti dan menoleh kebelakang, dia melihat ke arah ku.


"Kami juga, kalian bertiga menyebalkan!" serunya lalu menutup pintu kamar mandi dengan membanting nya.


"Ha ha ha!" Puspa tertawa sangat puas sampai terpingkal-pingkal.


Sedangkan Riksa malah merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang tadi di tiduri oleh Samuel.

__ADS_1


"Huh, lelah sekali!" keluhnya.


Dan aku pun bisa melihat nya, Riksa pasti sangat lelah mengurus semua ini. Dia adalah pria yang sangat hebat, beruntung sekali orang yang bisa menjadi kekasih atau bahkan istrinya.


"Maaf nona, ini milik siapa ya?" tanya asisten Puspa setelah melihat sebuah jas berwarna biru tua yang senada dengan gaun yang aku pakai.


"Eh, itu bukannya milik adiknya nona Naira!" seru salah satu asisten yang lain.


"Antarkan cepat, kamu kan harus menyiapkan calon mempelai laki-laki nya!" seru Puspa.


"Em, biar aku saja. Aku kan sudah selesai. Ibras kan ada di kamar sebelah. Biar aku saja!" ucap ku menawarkan bantuan.


Karena aku tahu, Puspa akan segera mempersiapkan pakaian dan make up untuk Samuel dan kedua asisten nya akan membantunya dan juga membantu Riksa dengan pakaian nya.


"Baiklah Nai, jalan pelan-pelan ya. Jangan berlari!" kelakar Puspa padaku.


Aku mengangguk dan berjalan pelan keluar dari dalam kamar ku. Aku melihat ke arah kamar di sebelah ku.


"Aih, tadi itu Ibras bilang sebelah kanan apa kiri ya kamarnya dari kamar ibu?" tanya ku pada diriku sendiri.


"Coba yang ini saja!" ucapku setelah berdiri tepat di depan pintu kamar sebelah kanan dari kamar ibuku.


Tadi Ibras bilang kamarnya di sebelah kamar ibu. Aku langsung membuka pintu, dan ternyata di dalamnya tidak ada orang. Aku masuk lebih dalam dan melihat ada celana panjang dan kemeja pria.


"Ah, ternyata benar. Aku letakkan disini saja kalau begitu!" ucap ku sambil berjalan mendekati tempat tidur dengan maksud untuk meletakkan jas Ibras.


Setelah itu aku berniat untuk keluar dari kamar itu, tapi aku mendengar suara dari dalam kamar mandi. Aku berinisiatif untuk memberitahu Ibras kalau jas nya ada si atas tempat tidur. Aku pun mengetuk pintu kamar mandi.


Tok tok tok


"Ibras, jas kamu kakak taruh di atas tempat tidur ya!" ucap ku sedikit keras.


Ceklek


"Aghkk!" pekik ku setelah melihat seorang pria yang tidak aku kenal dengan hanya lilitan handuk dan rambut basah kuyup membuka pintu.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2