
"Bagaimana kalau kita meminta beberapa orang kita melindungi Naira dan keluarga secara diam-diam?" tanya Riksa mengemukakan pendapat nya pada Samuel.
Samuel merasa apa yang di katakan oleh Riksa itu benar, bagaimana pun dirinya lah yang membawa Naira pada situasi nya saat ini. Kalau tidak menikah kontrak dengan Samuel maka Naira tidak akan berurusan dengan gadis manja keluarga Morgan itu. Jadi menurut Samuel adalah hal yang pantas untuk dia lakukan, jika memberikan perlindungan dan rasa aman pada Naira dan juga keluarganya.
Samuel mengangguk kan kepalanya dengan cepat.
"Kamu benar, perintahkan beberapa orang melindungi Naira dan keluarga nya. Ada lagi?" tanya Samuel yang mengerti kalau Riksa masih belum selesai bicara.
Samuel melihat Riksa menundukkan kepalanya sekilas dan melihat ke arah nya lagi. Kemungkinan dia masih ingin menyampaikan sesuatu.
"Bagaimana kalau kita memberikan Naira asuransi bos, dia dan keluarganya memerlukan itu!" lanjut Riksa lagi.
"Tentu saja, kamu urus itu untuk mereka! daftarkan dengan jumlah yang sama seperti milik mu!" seru Samuel.
Riksa sangat senang, dia tersenyum sangat lebar dan memang ekspresi wajahnya menunjukkan kalau dia sangat senang.
Samuel terlihat sangat tidak menyukai ekspresi Riksa yang menurut nya berlebihan itu.
"Ada apa dengan mu? apa aku bilang aku akan memberikan asuransi lagi untuk mu, kenapa kamu terlihat begitu senang?" tanya Samuel curiga dan penasaran pada saat yang bersamaan.
Riksa menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak terasa gatal.
"Bukan begitu bos, aku senang bos menerima saran ku!" ucap nya berasalan.
Padahal dia senang karena dia bisa mengabulkan permintaan Naira. Tapi dia tidak ingin berdebat dengan Samuel, dia takut Samuel salah paham kalau dia merasa senang untuk Naira.
Samuel masih tidak percaya dengan jawaban Riksa, dia masih menilik ke arah Riksa dengan tatapan penuh kecurigaan.
"Kamu jangan macam-macam ya, kamu tidak menyukai gadis ceroboh itu kan?" tanya Samuel yang sudah mulai pada intinya.
Riksa terkejut, dan dengan cepat menggeleng kan kepalanya dengan cepat berkali-kali.
"Bos, mana mungkin aku berani melakukan itu bos. Dia kan calon istri mu!" jawab Riksa dengan cepat.
__ADS_1
Riksa meyakinkan Samuel karena memang saat ini dia tidak memiliki perasaan lebih pada Naira, dia saat ini hanya menganggap Naira teman, dan juga sangat menghargai dan ingin melindungi Naira, karena dia adalah calon istri dari Samuel yang merupakan bos nya. Lagipula Naira itu sangat baik. Jadi Riksa juga ingin bersikap baik pada Naira. Itu saja dan tidak lebih untuk saat ini.
Samuel masih memicingkan matanya, tapi dia memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan ini ketika pak Ranu sudah datang dan memberitahu kalau kamar tamu sudah siap.
"Maaf tuan, kamar nya sudah siap!" seru pak Ranu dan langsung mendapatkan anggukan kepala dari Samuel.
"Iya pak Ranu, kamu juga bisa istirahat sekarang!" seru Samuel.
"Terimakasih tuan!" sahut pak Ranu lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Samuel melihat ke arah Riksa.
"Kamu tidak mau pulang?" tanya Samuel ketus.
"Iya bos, aku pulang. Permisi!" jawab Riksa canggung.
Samuel lalu masuk ke dalam rumah, dia juga sudah merasa tubuhnya sangat lelah dan ingin istirahat. Sementara Riksa mulai merasa ada yang aneh dengan bos nya itu.
"Perasaan ku saja, atau bos memang kesal saat aku perduli pada Naira" gumam Riksa lalu meninggalkan Rumah Samuel.
***
Stella tersenyum puas pada hasil karya ke empat asisten nya. Dia kemudian mencari Samuel di kamar tamu. Dan ketika Stella membuka pintu dia sudah melihat Samuel yang sudah tertidur pulas sambil memeluk guling. Stella tersenyum dan menghampiri putranya itu, kebiasaan Samuel ketika tidur memang seperti itu selalu memeluk guling baru dia bisa tidur nyenyak.
Stella mengelus lembut kepala Samuel. Matanya berkaca-kaca, ada rasa haru menyelimuti hari Stella, karena besok putra nya itu akan menikah. Dan artinya Samuel akan menjadi seorang kepala rumah tangga, membimbing istrinya dengan kasih sayang menjadikan keluarga kecilnya keluarga yang bahagia.
Stella pun teringat pada putra bungsunya, dia lalu menjauh dari Samuel dan menghubungi Adam. Tapi kemudian Stella memutuskan untuk keluar dari dalam kamar Samuel ketika Adam sudah mengangkat panggilan telepon dari Stella.
"Halo Bu!" sapa Adam.
"Halo nak, kamu dimana? sudah di jalan atau..?"
"Bu, aku sudah ada di Mansion. Baru saja sampai satu jam yang lalu. Ibu tenang saja, aku pasti hadir di pernikahan Samuel!" jawab Adam.
__ADS_1
Stella terlihat menghela nafas lega.
"Nak, Ibu tahu semuanya tidak mudah bagimu. Tapi sekarang semua sudah membaik kan, semua sudah baik-baik saja, Ayah, ibu dan kakak mu akan selalu mendukung mu. Ibu mohon tinggal lah bersama kami ya, kamu jangan ke luar kota lagi, tinggal lah dengan ibu, ya nak!" pinta Stella pada Adam putra bungsunya yang selama ini memang tinggal di luar kota.
"Aku tahu, ibu sangat menyayangi ku. Kita akan bicara lagi ketika kita bertemu. Selamat malam Bu!" ucap Adam lalu menutup panggilan telepon dari Stella.
Stella memeluk ponsel yang dia pegang, di menangis. Stella sangat sedih, karena kesibukan nya dan suaminya selama ini. Dia sampai tidak menyadari kalau Adam, putra bungsunya mempunyai penyakit yang disebut dengan bipolar. Dan karena penyakit itu, Adam sampai harus terjebak pada pergaulan yang tidak baik. Dia bahkan sampai harus menjalani rehabilitasi saat dia duduk di bangku SMA dan sejak keluar dari rehabilitasi. Adam memutuskan untuk tinggal jauh dari keluarga nya, dia tidak ingin membuat keluarga nya malu karena perilaku buruknya di masa lalu.
Meskipun sekarang dia sudah di tanyakan sembuh dan bersih, tapi tetap saja dia punya catatan kelam. Dan dia tidak ingin karena dia, keluarga di gunjing oleh orang lain.
Adam memilih tinggal dengan paman dari Stella di sebuah desa, dan memilih membantu paman ibunya itu mengurus ladang dan kebun daripada hidup nyaman bersama orang tuanya dan kakaknya.
Stella menghapus air matanya ketika ponselnya berdering.
"Halo Stella!" sapa Damar dari ujung telepon.
"Halo Mas, bagaimana keadaan mu? bagaimana juga keadaan ayah?" tanya Stella.
"Kamu kenapa?" tanya Damar yang sepertinya bisa mengerti keadaan Stella hanya dengan mendengar suaranya saja.
"Tidak apa-apa, katakan. Besok jam berapa aku harus menjemput mu di bandara?" tanya Stella mengalihkan perhatian Damar.
"Jika semua sesuai rencana, maka aku akan tiba sekitar pukul 9 pagi. Apa Adam sudah datang?" tanya Damar.
"Iya, dia sudah datang. Dia sudah di Mansion!" ucap Stella dengan nada yang kembali bergetar.
"Stella, jangan menangis. Kita akan bicara padanya. Kita pasti bisa membujuknya untuk tinggal lagi bersama kita!" ucap Damar dengan lembut.
"Aku harap begitu!" lirih Stella.
Author POV end
***
__ADS_1
Bersambung...