Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
18


__ADS_3

Author POV


Setelah menguping obrolan Riksa dan Puspa dari balik pintu, Naira masuk ke dalam ruangan itu. Para petugas dan asisten dari Puspa juga sedang menyusun beberapa gaun yang baru setelah memasukkan gaun yang awalnya telah mereka persiapkan.


Riksa segera bangun dari duduknya ketika melihat Naira menghampiri nya dengan perlahan. Riksa sedikit menilik ke arah Naira karena gadis itu terlihat cemas dan dari tadi hanya menundukkan kepalanya saja.


"Naira, apa semua baik-baik saja?" tanya Riksa yang sepertinya juga ikut merasa cemas.


Puspa ikut berdiri dan menghampiri Riksa dan juga Naira, dia khawatir kalau Naira mengalami sesuatu saat pengukuran tinggi badan tadi.


"Ada apa? apa terjadi sesuatu tadi?" tanya Puspa lembut.


Naira menatap Riksa dan Puspa secara bergantian.


"Tadi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian...!"


Puspa terlihat sedih, dia mengira Naira mendengar apa yang dia katakan tentang betapa Samuel mencintai Caren dulu. Puspa lalu dengan cepat beralih merangkul Naira yang memang tingginya jauh di bawah Puspa.


"Em, begini Naira. Itu masa lalu, sekarang Samuel kan hanya mencintai kamu. Kalau tidak mana mungkin dia memutuskan Caren dan menikah dengan mu?" tanya Puspa yang membuat Naira mengernyitkan dahinya.


Naira menoleh sekilas pada Riksa.


'Jadi nona cantik ini juga tidak tahu kalau ini hanya pernikahan kontrak dadakan!' batin Naira.


Riksa tampak canggung, dia bahkan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Riksa berdehem untuk menghilangkan kecanggungan nya.


"Ekhem, Puspa bisakah kita mulai?" tanya nya mengalihkan perhatian Puspa dan juga Naira.


"Oke, karena tinggi mu hanya sekitar 1 setengah meter maka gaun-gaun ini kurasa sangat cocok untuk mu!" seru Puspa yang mendapatkan kekehan dari Riksa namun Naira malah menghela nafas nya berat.


Dia tahu tingginya memang segitu, tapi tak harus juga kan Puspa mengatakan semua itu. Itulah yang di keluhkan oleh Naira dalam hembusan nafas berat nya.


Puspa mengambil sebuah gaun putih yang terlihat sederhana.


"Coba yang ini ya Naira!" seru Puspa sambil melirik ke arah Mila.

__ADS_1


Dengan sigap Mila menghampiri Puspa lalu meraih gaun itu dan mempersilahkan Naira untuk memasuki sebuah ruangan yang berada di balik cermin di ruangan itu. Naira kembali takjub, bagaimana tidak. Saat tepi cermin itu di sentuh, lebih tepatnya pada ukiran berbentuk bunga, cermin itu seperti pintu lipat yang terbuka secara otomatis.


Naira terlihat masih melamun, sebelum Mila menyentuh lengannya.


"Mari nona!" seru Mila.


Setelah Mila dan Naira masuk, Mila kembali menyentuh tombol di dinding dan secara otomatis lagi, pintu kaca lipat itu langsung tertutup lagi.


Puspa langsung mendekat Riksa sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Em, Riksa coba kamu jujur padaku. Sebenarnya dia itu pacar Samuel atau bukan?" tanya Puspa yang memang sudah mulai curiga karena sikap Naira jauh dari sikap wanita-wanita yang biasanya ada di pergaulan mereka.


"Jika bos mengatakan dia adalah pacarnya, memang siapa yang berani membantah nya?" tanya Riksa balik.


"Begitu ya? lalu coba kamu katakan padaku dimana kalian bertemu dengan nya?" tanya Puspa lagi belum menyerah, dia masih berusaha mengungkap kebenaran dari Riksa


"Dengar nona designer yang cantik dan pintar, sebaiknya jika ingin mengetahui tentang itu kamu bertanya saja pada bos, karena apa? karena bos lah yang pertama kali bertemu dengannya, dan dimana mereka bertemu pertama kali. Bos pun tidak menceritakan nya padaku. Yang bisa aku katakan adalah, Naira itu gadis yang baik. Aku juga sudah beberapa kali bertemu dengan keluarga nya, dan ayah nya adalah ayah yang luar biasa..."


"Ekhem!" Puspa berdehem membuat Riksa berhenti memuji Naira dan keluarga nya.


"Aku yang salah dengar atau kamu memang sedang mengagumi calon istri bos kesayangan mu itu?" tanya Puspa yang lantas membuat Riksa terbungkam.


Puspa menepuk bahu Riksa pelan.


"Aku akan katakan satu hal, Samuel akan sangat menyesal karena tidak melihat Naira feeting gaun pengantin!" seru Puspa membuat lamunan Riksa teralihkan.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Riksa.


"Karena saat seperti ini, Naira tidak memakai make up berlebihan, dan sesungguhnya kecantikan dan aura akan terpancar saat ini!" jelas Puspa dan Riksa masih diam.


"Tidak percaya? tunggu dan lihat lah!" seru Puspa menoleh ke arah pintu kaca yang sepertinya akan terbuka.


Riksa juga ikut mengarahkan pandangannya ke arah pandangan Puspa.


Pintu kaca lipat itu perlahan terbuka, sedikit demi sedikit dan semakin lebar. Hingga terbuka sepenuhnya, dan di tengah nya berdiri seorang gadis dengan gaun pengantin berwarna putih, rambut yang sanggul sembarang dengan kerudung putih tersemat di sanggulnya, make up yang membuatnya terlihat lebih dewasa dan benar! dia terlihat sangat berbeda.

__ADS_1



Riksa bahkan menatapnya tanpa berkedip, gadis itu tidak terlalu tinggi dan dengan gaun yang telah dipilih kan oleh Puspa, begitu sempurna saat Naira memakainya.


Puspa ikut terdiam ketika melihat reaksi yang di tunjukkan oleh Riksa.


Dia mulai khawatir, karena teman dekatnya selain Samuel ini bahkan tak berpaling dari Naira yang hanya diam dan tersenyum di depan nya dan juga Puspa.


Bahkan Puspa lebih terkejut lagi, ketika Riksa maju ke depan dan menghampiri Naira.


"Bagaimana?" tanya Naira begitu antusias.


Riksa tidak langsung menjawab pertanyaan Naira, dia malah mengarahkan tangannya ke lengan Naira, menuntunnya untuk menghadap ke cermin yang ada di sebelah kanannya.


Naira lumayan bingung, begitu pula dengan Puspa, dia tidak bisa menebak apa yang sedang dilakukan oleh Riksa.


"Itu adalah gadis tercantik yang pernah ku temui!" ucap Riksa dengan suara yang sangat lembut sambil menunjuk ke arah cermin dengan telunjuk kirinya.


Deg


Naira menatap ke arah cermin, namun bukan melihat pantulan bayangan nya sendiri. Tapi melihat ke arah Riksa. Jantung nya mulai berdetak tak karuan, tangan Riksa yang sebelah kanan masih memegang lengan Naira. Dan Naira melihat ke arah tangan Riksa itu, lalu ke arah cermin.


Sampai akhirnya mata mereka saling bertemu, manik mata Riksa dan Naira saling bertemu.


Deg


Kini Riksa yang merasa jantungnya berdegup dengan kencang dan tak beraturan.


Puspa yang melihat kejadian itu pun merasa cemas.


"Ekhem!" Puspa berdehem lalu menghampiri Riksa dan juga Naira.


"Bagaimana? aku selalu tepat dalam pilihan pertama ku. Mau gaun yang ini? atau lihat dia memakai yang lain dulu?" tanya Puspa dengan cepat sambil menarik tangan Riksa dari lengan Naira.


Author POV end

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2