Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
33


__ADS_3

"Kamu baru bangun? cepat mandi dan bersiap. Aku sedang dalam perjalanan ke rumah mu, kita akan menjemput ibu ku di bandara!" seru Samuel dengan suara keras pada Naira.


Naira melirik ke arah cucian nya yang masih beberapa helai lagi dan belum di bilas dan harus dia jemur.


'Tanggung banget tuh cucian, tinggal dikit lagi. Bilas sama jemur dulu keburu kali lah!' batin Naira.


"Hei, kamu pingsan ya? dengar tidak apa yang aku katakan?" bentak Samuel lagi dari ujung telepon dan membuat Naira menjauhkan lagi ponselnya dari telinga.


"Iya, iya dengar. Iya sudah otewe mandi nih!" ucap Naira yang memutuskan panggilan telepon nya dan meletakkan nya lagi di atas meja.


"Ih, marah-marah mulu, ngomong kan bisa ya biasa aja, aku ini masih muda, kalau kena serangan jantung gimana coba!" omel Naira sambil melanjutkan pekerjaan nya yang menurut nya tanggung kalau harus dia tinggalkan sekarang.


***


Sementara di dalam sebuah mobil mewah, Samuel hampir saja membanting ponsel milik Riksa, kalau saja Riksa tidak cepat menahannya.


"Bos, jangan di banting. Sebentar lagi akan ada email penting dari PT Harga Raksa masuk itu!" seru Riksa cepat sambil meraih ponsel milik nya dari tangan Samuel yang sudah bergerak ke atas dan hendak membanting ponsel tersebut.


"Gadis itu mulai kurang ajar seperti nya, dia berani memutuskan panggilan telepon. Harus nya aku yang melakukan nya!" gerutu Samuel sambil memasang wajah garang nya.


Riksa hanya bisa menghela nafasnya lega melihat ponselnya selamat dari kemarahan Samuel. Riksa juga heran kenapa hanya karena hal seperti itu, kemarahan Samuel sudah seperti kehilangan proyek milyaran rupiah saja.


"Memangnya kamu tidak mengajarinya dengan benar? kamu tidak beritahu dia jika aku menelpon maka sebelum aku mengakhiri panggilan ku dia tidak boleh memutus panggilan itu meskipun baterai nya tinggal satu persen?" tanya Samuel kesal.


Riksa sampai mengerutkan keningnya mendengar apa yang di katakan Samuel.


"Tapi bos, seperti nya poin itu tidak ada dalam surat perjanjian mu dan Naira!" ucap Riksa menjelaskan yang sebenarnya.


"Benarkah?" tanya Samuel tak mau mengakui kesalahannya.


"Kalau begitu tambahkan poin itu disana, dan tambahkan jika Gadis ceroboh itu membuat ku marah, maka hutangnya bertambah 10 persen! ah tidak, 20 persen!" tegas Samuel.


Riksa hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan, dia tidak menyangka bos nya ini begitu aneh pagi ini. Dia jadi penasaran, apa yang membuat bos nya begitu berhati-hati terhadap Naira.


"Bos, sebenarnya ada apa dengan mu?" tanya Riksa.


Samuel langsung menoleh dan menatap tajam Riksa.


"Apa maksud pertanyaan mu itu? mau ku potong gaji mu?" tanya Samuel dengan nada tidak senang dan naik setengah oktaf dari nada suara yang sebelumnya.


Riksa langsung ciut dan tersenyum kaku.


"Tidak bos! baik akan ku tambahkan poin itu di surat kontrak perjanjian nya. Apa aku perlu memberikan salinan nya pada Naira?" tanya Riksa lagi.


"Tidak perlu, kamu saja yang simpan. Setelah pernikahan berikan surat kontrak itu padaku, aku yang akan menyimpannya!" jawab Samuel tanpa memandang ke arah Riksa.


Author POV end

__ADS_1


***


Samuel Virendra POV


Aku masih berada di dalam mobil bersama dengan Riksa menuju ke rumah gadis ceroboh yang akan segera ku nikahi itu.


Entah kenapa aku jadi kesal sendiri, semalam aku mengalami hal yang sangat aneh. Selepas kepergian Riksa, aku lantas masuk ke dalam kamar ku. Dan segera membaringkan tubuh ku di atas tempat tidur, namun ponsel ku tiba-tiba saja berbunyi, ada sebuah pesan dari ibu ku.


Aku membuka pesan itu, ibu mengirimkan sebuah foto seorang gadis dengan gaun pengantin berwarna putih, riasannya sederhana dan menurut ku dia cantik.


Tapi semakin lama aku perhatikan, aku rasa aku mengenali siapa gadis itu. Itu adalah Naira, aku langsung membanting ponsel ku di atas kasur. Bisa-bisanya aku tidak langsung mengenali gadis ceroboh itu dan malah mengatakan kalau dia cantik.


Tak lama setelah ku hempaskan ponsel itu, ponsel itu pun berdering. Dan aku melihat ibu ku yang memanggil. Dengan cepat aku menggeser tombol hijau dan menerima panggilan dari wanita yang sangat aku sayangi itu.


"Halo Bu!" sapa ku pada ibu ku.


"Bagaimana calon menantu ibu? dia cantik kan?" tanya ibu dengan nada yang terdengar mengejek ku.


"Biasa saja!" sahut ku dengan cepat.


"Hei tuan muda Virendra, mengaku saja. Aku yakin kamu tadi mengagumi foto yang aku kirim!" ejek ibu ku lagi.


"Aku sudah katakan biasa saja Bu, aku sudah melihat nya tadi!" ucap ku beralasan, padahal saat Riksa mau menunjukkan foto Naira saat feeting gaun pengantin, aku menolak untuk melihat nya.


"Jangan berbohong pada ibu, Riksa yang bilang kamu tidak mau melihat foto Naira. Sekarang kamu pasti menyesal kan?" tanya ibu lagi dan aku masih mendengar nada mengejek di setiap kalimatnya.


"Baiklah, aku memang baru melihat nya. Tapi memang dia biasa saja!" jawab ku cuek.


"Bukan begitu Bu..!" aku menyela ucapan ibu ku.


"Dia memang selalu cantik setiap harinya, jadi walaupun dia berpakaian seperti itu, dia terlihat seperti biasanya, ya cantik!" ralat ku.


"Ha ha ha bagus sekali Sam, ibu sudah merekam percakapan kita ini. Nanti begitu ibu sampai di sana, ibu akan memperdengarkan apa yang kamu katakan ini pada Naira!" ucap ibu ku senang.


"Ibu, kenapa melakukan itu. Ibu ini benar-benar...!"


"Apa? berani mengeluh tentang ibu?" tanya ibu ku.


Dan aku tidak akan mengeluh tentang nya, dia lah wanita yang paling aku sayangi di seluruh dunia.


"Tidak ibu, sudahlah. Bagaimana keadaan kakek?" tanya ku mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


Sebelum menjawab pertanyaan ku, aku bisa mendengar ibu menghela nafas berat.


"Kakek belum siuman ya?" tanya ku lagi.


"Iya, kakek mu belum sadar. Kamu tahu Sam, ayah mu sangat sedih. Kalau kamu lihat kondisi ayah mu sekarang dia bahkan lebih kurus dari sebelumnya. Ibu jadi cemas harus meninggalkan ayah mu dan kakek mu meskipun hanya untuk beberapa hari!" jelas ibu.

__ADS_1


Aku membenarkan posisi duduk ku dan bertanya pada ibu.


"Ibu mau kemana?" tanya ku cepat karena aku benar-benar penasaran.


"Kemana lagi? tentu saja menemui calon menantu ibu dan lebih dekat dengannya. Ingat ya besok pagi, jemput ibu di bandara bersama dengan Naira. Jika tidak ada halangan dan perjalanan ibu lancar, sekitar jam delapan ibu akan sampai di bandara. Sam, dengar tidak?" tanya ibu ku.


"Iya ibu aku dengar!" jawab ku cepat.


"Baiklah, ibu tutup dulu telepon nya. Ingat sebelum tidur kamu harus melihat foto Naira sekali lagi, jika tidak maka dia akan datang dalam mimpimu! selamat malam Sam!" ucap ibu ku.


"Selamat malam Bu!" sahut ku.


Panggilan telepon dari ibu sudah terputus, tapi apa yang dikatakan ibu tadi seolah masih terus menggema di telinga ku.


"Aku tidak percaya apa yang di katakan oleh ibu dan aku tidak akan melihat foto gadis ceroboh itu lagi!" gumam ku yang langsung meletakkan ponsel ku di atas meja dan merebahkan tubuh ku di atas kasur.


Tapi sialnya apa yang di katakan oleh ibu ku itu menjadi kenyataan. Dan semalam gadis ceroboh itu benar-benar datang dalam mimpi ku. Dia dengan gaun pengantin yang dia pakai dan yang lebih membuatku kesal, ketika aku mendekatinya dia malah menjauh dan semakin menjauh. Aku sampai terjaga jam satu dini hari dan tidak bisa tidur lagi.


Bagaimana aku bisa memimpikan hal seperti itu, dia mengacuhkan aku. Seorang gadis biasa dengan tingkat kecerobohan level maksimal mengacuhkan aku. Aku sampai tidak bisa tidur lagi sampai pagi karena terus memikirkan hal ini.


"Bos, mau sarapan dulu atau tidak?" tanya Riksa membuat ku tersadar dari ingatan ku tentang apa yang terjadi semalam.


"Aku tidak lapar!" jawab ku ketus.


"Bos, marah juga butuh tenaga! pak supir kita berhenti di restoran di depan itu ya!" seru Riksa.


Aku tidak mau berdebat lagi dengannya, benar apa yang dia katakan kalau marah pun perlu tenaga. Dan menghadapi gadis itu juga butuh tenaga. Aku bahkan masih tidak percaya bagaimana bisa gadis itu hadir di mimpiku, bahkan Caren, wanita yang paling aku cintai setelah ibu ku pun tidak pernah hadir dalam mimpiku. Lebih parahnya lagi, aku tidak bisa melupakan kejadian dalam mimpi itu bagaimana pun aku berusaha.


Saat bertemu dengan gadis ceroboh itu nanti, aku akan buat perhitungan dengannya. Bisa-bisa nya dia mengabaikan aku.


Kami telah masuk ke dalam restoran dan Riksa memesankan sarapan untuk ku dan juga dirinya. Aku melihat Riksa menyantap makanan nya dengan lahap, ku yakin makanan ini enak. Karena selera Riksa dalam hal makanan itu sangat bagus. Tapi entah kenapa saat berada di dala mulutku, makanan ini terasa hambar.


"Apa kita memesan makanan yang sama?" tanyaku pada Riksa.


"Iya bos!" jawab nya singkat.


"Benarkah? coba tukar piring mu dengan milikku!" perintah ku padanya dan dia langsung menukar piring kami.


Aku melihat dia masih makan dengan lahap, dan aku mencoba makanan yang tadi dia makan. Dan masih sama, rasanya masih lah hambar.


'Ada apa ini? lidah ku bahkan juga ikut kesal pada gadis ceroboh itu!' keluh ku dalam hati.


Setelah sarapan kami melanjutkan perjalanan ke rumah gadis itu. Dan aku rasa aku akan benar-benar darah tinggi menghadapi gadis bernama Naira itu.


Bagaimana tidak, saat aku dan Riksa sampai di rumahnya, dia masih memakai setelan piyama sambil menjemur pakaian di depan rumah nya.


Samuel Virendra POV end

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2