Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
310


__ADS_3

Sebelum tiba di kediaman Virendra, mobil yang Naira tumpangi bersama dengan bibi Merry tiba-tiba mogok di jalan, kebetulan sekali jalan itu sudah hampir masuk ke jalur tol. Dan disana lumayan sepi tanpa ada perumahan atau bangunan lainnya. Dan kebetulan yang kurang menguntungkan lagi adalah supir yang membawa mereka bukan pak Urip.


Bibi Merry dan Naira cukup lama menunggu di dalam mobil. Bibi Merry yang penasaran pun ingin keluar untuk melihat sebenarnya apa yang membuat mobil yang di tumpangi nya ini mogok. Biasanya semua mobil keluarga Virendra tidak akan pernah mogok di tengah jalan karena setiap pagi akan selalu di cek terlebih dulu oleh montir yang memang bertugas untuk melakukan itu. Mengecek kondisi mesin, tekanan ban dan juga semua yang ada di dalam dan di luar mobil.


"Nyonya muda, tetap di dalam ya. Bibi mau lihat sebenarnya ada apa dengan mobil ini, tidak biasanya mobil keluarga Virendra mogok di tengah jalan begini!" ujar bibi Merry dan langsung di balas sebuah anggukan dari Naira.


Bibi Merry lalu keluar dari dalam mobil dan menutup kembali pintu mobil, setelah itu bibi Merry menghampiri supir yang sedang memeriksa mesin mobil.


"Budi, kenapa sama mobilnya?" tanya bibi Merry pada Budi salah satu supir di keluarga Virendra.


"Tidak tahu Bi, tadi pagi semua sudah di periksa montir dan katanya mobil ini baik-baik saja. Kenapa ya ini?" tanya Budi sambil menggaruk kepalanya karena merasa kebingungan.


"Bagaimana sih Budi, periksa lagi!" tegur bibi Merry yang mulai merasakan perasaan tidak enak karena melihat beberapa orang dengan sepeda motor sepertinya sedang melihat ke arah mereka.


"Sepertinya mesin baik-baik saja, coba saya periksa bahan bakarnya dulu bibi Merry!" ucap Budi lalu beralih ke dalam mobil dan memeriksa panel yang menunjukkan masih tidaknya bahan bakar.


"Astaga bibi Merry, bensinnya habis. Bagaimana bisa ya, padahal tadi pagi saya sudah isi full" terang Budi yang juga merasa bingung kenapa bisa seperti itu.


"Tadi waktu di kantor tuan, kamu tinggalkan tidak mobil ini?" tanya bibi Merry.


"Saya cuma pergi beli rokok sebentar bibi Merry!" jawab Budi.


Bibi Merry menatap kesal pada Budi.


"Ck ... kan sudah aku bilang tadi, tunggu di mobil!" kesal bibi Merry dan Budi hanya bisa menunduk merasa bersalah.


Bibi Merry makin cemas ketika beberapa orang dengan beberapa motor itu malah berhenti di dekat mereka.


"Bi, kenapa mereka berhenti?" tanya Budi yang malah bersembunyi di belakang bibi Merry.


Bibi Merry hanya bisa mendengus kesal, kalau saja ada pak Urip dia tidak akan terlalu panik. Karena meskipun usianya sudah tidak muda lagi, tapi pak Urip sangat pandai bela diri, tapi karena sekarang dia hanya bersama Budi yang hanya pintar mengemudi dan mengerti mesin saja, bibi Merry jadi sangat cemas. Apalagi di dalam mobil ada Naira, dan dia juga sedang hamil.

__ADS_1


Bibi Merry langsung bergegas membuka pintu mobil dan berkata.


"Nyonya muda, kunci pintu mobilnya. Jangan keluar apapun yang terjadi!" ucap bibi Merry lalu menutup kembali pintu mobil.


Naira yang terkejut dengan apa yang di katakan bibi Merry langsung melihat ke arah jendela mobil. Dia ikut panik karena beberapa orang berpakaian preman sedang berjalan mendekati Budi dan bibi Merry. Naira dengan cepat meraih ponsel dari dalam tas nya lalu menghubungi Samuel.


"Halo sayang, kamu sudah sampai...!"


"Mas, mobil kami mogok. Ada beberapa preman, mas cepat datang di jalan yang menuju jalan tol, cepat mas!" ucap Naira panik.


"Naira, tenang. Aku akan segera ke sana!" ucap Samuel dan langsung memutuskan panggilan telepon.


Naira menyimpan kembali ponselnya, setidaknya dia sudah menghubungi Samuel. Meskipun dia tidak yakin, Samuel akan sampai sebelum para preman itu bertindak macam-macam.


Sementara di luar, bibi Merry dan Budi masih bersikap sangat tenang ketika salah seorang preman sudah berada sangat dekat dengan mereka.


"Kenapa mobilnya Bu, mogok ya?" tanya salah seorang yang ada gambar tato burung unta di lengannya yang hanya memakai rompi dan kaos tanpa lengan.


"Ya sudah Bu, kalau mogok tinggalin aja mobilnya, sama kuncinya sekalian ha ha ha!" salah seorang yang lain malah terkekeh sambil bertepuk tangan dan yang lain juga ikut terkekeh.


Dan ada satu lagi yang memakai ikat kepala di kepalanya malah berjalan mendekat ke arah mobil.


"Wah bro, ada wanita cantik nih di dalam mobil!" serunya setelah melihat ke arah kaca mobil yang tertutup.


"Tunggu!" seru bibi Merry.


"Kalian mau mobil ini kan, ambil saja. Tapi jangan ganggu nyonya kami. Budi mana kuncinya?" tanya bibi Merry.


Budi lalu mengeluarkan kunci mobil yang ada di dalam sakunya dan memberikannya pada bibi Merry.


"Wah, rupanya dia nyonya kalian. Coba kalian lihat kemari, sepertinya nyonya mereka ini lebih berharga daripada mobil ini!" seru pria yang memakai ikat kepala tadi.

__ADS_1


Bibi Merry makin cemas.


'Nyonya muda, aku harap nyonya sudah menghubungi tuan!' batin bibi Merry.


"Kalian jangan berani-beraninya mendekati nyonya kami ya, kalian tidak tahu apa kalau dia itu adalah istri tuan Samuel Virendra, kalian tidak akan selamat kalau sampai mengganggu nya!" gertak bibi Merry sambil berusaha mengukur waktu karena dia yakin kalau Naira pasti sudah menghubungi suaminya.


Pada preman itu malah tertawa.


"Heh, kamu dengar tidak tadi dia bilang siapa? Samuel Virendra, memangnya dia siapa? aku kok tidak pernah dengar?" tanya pria yang bertato burung unta.


"Ck... masak tidak tahu, itu loh yang punya perusahaan otomotif itu, kaya raya dia!" jawab pria yang berkepala botak di bagian depannya.


"Wah, kita bisa dapat banyak uang dong kalau menculik istrinya!" ucap pria yang bertato itu.


"Heh, kalian jangan macam-macam ya. Kalian akan menyesalinya!" ucap bibi Merry yang langsung berlari ke arah mobil.


Tapi sayang pria yang memakai ikat kepala di kepalanya langsung mendorong bibi Merry, hingga wanita paruh baya itu terjatuh dan membentur aspal dengan lumayan keras. Naira yang melihat itu panik, dan segera keluar dari dalam mobil lalu menghampiri bibi Merry.


"Bibi Merry!" teriak Naira panik.


Budi yang berusaha menolong juga sudah di pukuli oleh beberapa preman yang lain.


"Nyonya muda, cepat lari!" ucap bibi Merry sambil meringis kesakitan.


Naira menggelengkan kepalanya, dia tidak mungkin lari dan meninggalkan bibi Merry yang sudah terluka dan juga Budi yang sudah babak belur.


"Nyonya cepat lari, bibi akan menahan mereka!" ucap bibi Merry berusaha bangun.


"Wah, nenek tua. Besar juga nyali mu sampai berani bilang akan menahan kami ha ha ha!" ucap pria dengan ikat kepala sambil kembali mendekati Naira dan juga bibi Merry.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2