
Saat kembali ke rumah, aku melihat mobil Riksa ada di depan rumah. Aku mengira kalau mas Samuel mungkin sudah pulang, dengan langkah cepat aku langsung masuk ke dalam.
"Mas, kamu sudah pu..!" aku menghentikan kalimatku, karena saat masuk aku tidak menemukan mas Samuel di dalam. Melainkan hanya ada Riksa dan juga ayah yang sedang duduk bersama dengan Riksa di sofa ruang tengah sambil menonton acara televisi.
"Nai!" sapa Riksa yang langsung berdiri dari duduknya ketika melihat aku masuk ke dalam dan menyapa.
"Riksa, mas Sam...?"
"Bos masih di kantor, aku kemari di perintahkan bos untuk menjemput mu setelah memasak makan siang untuknya!" jelas Riksa menyampaikan tujuan kedatangan nya.
Aku mengangguk paham
'Oh, ternyata maksud mas Samuel tadi pagi itu adalah hal ini. Memasak untuknya!' batin ku.
Aku langsung tersenyum pada Riksa dan ayah.
"Kalau begitu aku akan masak dulu, apa mas Samuel mengatakan ingin makan apa padamu?" tanya ku pada Riksa.
Riksa menggelengkan kepalanya.
"Tidak, bos itu tidak pilih-pilih makanan juga sih setahuku!" jawab Riksa.
Aku mengangguk lalu pergi ke dapur, meninggalkan Riksa dan ayah yang sedang mengobrol. Mereka terlihat akrab.
Setelah meletakkan keranjang belanjaan tadi, aku membuatkan teh manis hangat untuk ayah dan juga Riksa. Serta beberapa kue yang aku beli di warung sayur tadi.
Aku menyajikan nya ke atas meja. Dan mempersilahkan Riksa untuk mencicipi kue yang aku beli tadi.
"Apa ini?" tanya Riksa.
"Itu klepon, makanlah sekali hap! ada cairan gula di dalamnya!" jelas ku pada Riksa.
Kalau Riksa saja tidak tahu kue apa itu, lantas bagaimana dengan Samuel.
Riksa lalu memakan kue itu sekali hap, dia terkejut seperti nya dia telah menggigit kue itu dan gulanya pecah.
"Em, Nai ini enak!" ucapnya dengan mulut yang masih mengunyah klepon itu.
Dia terlihat menyukainya, dia bahkan mengambil beberapa lagi dan dia makan lagi.
"Bagaimana nak Riksa, kamu suka?" tanya ayah ku yang bahkan satu kue di tangannya belum habis dan Riksa sudah makan tiga.
Riksa mengangguk dan melihat ke arah ku.
__ADS_1
"Boleh ku habiskan?" tanya nya.
Aku langsung tersenyum dan mengangguk kan kepala ku dengan cepat.
"Tentu saja Riksa!" ucapku.
Aku lalu kembali ke dapur dan memasak, aku merasa senang. Hanya kue seperti itu dan Riksa sangat senang, melihat dia begitu senang. Aku juga merasa sangat senang. Aku jadi tambah bersemangat untuk memasak.
Riksa bilang bos tidak pilih-pilih makanan, tapi saat di rumahnya pak Ranu bilang dia sangat menyukai makanan sehat yang tidak terlalu banyak minyak dan lebih suka yang di panggang atau di bakar.
Aku tadi membeli ikan, aku rasa akan ku jadikan ikan bakar saja. Aku mulai menghidupkan arang di belakang rumah. Tapi terlebih dahulu aku menyingkirkan pakaian yang aku jemur dan memasukkan ke dalam rumah dulu. Setelah memberi bumbu pada ikan aku membakarnya. Lalu aku juga membuat salad sayuran tapi dengan bumbu urap. Aku harap Samuel suka, karena makanan seperti ini adalah kesukaan ayah ku.
Hampir satu setengah jam aku memasak dan akhirnya semuanya siap. Aku lalu mengganti pakaian ku dan segera menyiapkan makanan yang akan ku bawa untuk Samuel ke kantornya.
"Ayah, aku akan mengantar makanan untuk Samuel. Apa ayah tidak apa-apa sendirian di rumah?" tanya ku pada ayah.
"Ayah tidak apa-apa Nai, pergilah. Sebentar lagi Ibras juga akan pulang!" jawab ayah.
Setelah mendengar perkataan dari ayah itu, aku dan Riksa segera pergi ke perusahaan Samuel. Pakaian yang aku pakai sudah seperti kemauan Samuel, mini dress berwarna biru laut dan dengan lengan sampai ke siku. Dengan riasan yang tipis, aku tak suka makeup tebal.
"Aku bisa mencium aroma masakan mu Nai, apa kamu juga bawakan untukku?" tanya Riksa sambil tersenyum.
Aku segera mengangguk.
"Iya, kita bisa makan bersama! ini cukup untuk kita bertiga!" jawab ku.
Aku langsung mengangguk kan kepala ku dan Riksa kembali tersenyum.
Beberapa lama kemudian, kami sampai di perusahaan Samuel. Riksa memarkirkan mobil, aku sudah bilang padanya kalau aku akan masuk terlebih dahulu.
Aku berjalan melewati resepsionis menuju ke arah lift. Tapi seorang satpam menghentikan aku.
"Maaf nona, tapi apa yang anda bawa. Saya harus memeriksanya terlebih dahulu!" ucap satpam itu.
"Ini hanya makan siang!" jawab ku.
"Untuk siapa nona, silahkan tunggu di lobi. Biar saya yang menghubungi karyawan yang ingin anda bawakan makan siang!" ucap satpam itu.
"Tapi ini untuk...!"
"Nona, mohon mengikuti peraturan perusahaan kami!" ucapnya dengan tegas menyela perkataan ku yang akan mengatakan ini untuk Samuel.
Satpam ini memang aku belum pernah melihatnya, waktu itu, waktu aku datang dengan Samuel bukan satpam ini yang bertugas.
__ADS_1
Pintu lift bahkan sudah terbuka beberapa kali dan beberapa orang juga sudah keluar masuk. Tapi tak satu pun yang aku kenal atau bahkan mengenal ku. Aku takut kalau makanan ini di periksa Samuel akan marah padaku. Karena dia harus makan makanan yang lebih dulu di cicipi oleh orang lain.
"Pak satpam, anda tidak tahu suami ku pasti akan marah kalau anda lebih dulu membuka makanan ini daripada dia..!"
"Kalau anda tidak mau ikuti peraturan, silahkan anda keluar dari sini!" tegas satpam itu. Dia tidak membentak, dia hanya sedikit tegas saat berbicara.
"Pak satpam tapi...!"
"Silahkan keluar nona!" ucapnya sambil meluruskan sebelah tangannya ke arah pintu. Memberikan aku tanda kalau aku harus keluar.
Ting
Pintu lift terbuka, dan...
"Naira, eh maaf nyonya bos!" sebuah suara membuat ku langsung menoleh ke arah nya.
"Dina!" panggil ku.
Dina lalu mendekatiku.
"Ada apa ini?" tanya nya.
"Bu Dina, nona ini mau masuk sambil membawa makanan. Menurut peraturan harus di periksa terlebih dahulu. Tapi nona ini tidak mau di periksa!" satpam itu bicara terlebih dulu sebelum aku bisa menjawab pertanyaan Dina.
"Pak Satpam, kamu bilang apa? mau memeriksanya. Apa kamu ingin kehilangan pekerjaan mu?" tanya Dina dengan kesal pada satpam itu.
"Tapi Bu Dina, itu peraturan..!"
"Lihat pada siapa kamu menerapkan peraturan itu, dia Naira, nyonya bos!" jelas Dina.
"Nyonya bos?" tanya satpam itu bingung.
"Iya nyonya bos. Dia ini istrinya tuan Samuel Virendra, berani kamu periksa apa yang dia bawa?" tanya Dina dengan tatapan mata yang tajam pada Satpam itu.
Satpam itu langsung melipat tangannya di depan wajahnya.
"Ma... maafkan saya nyonya, saya tidak tahu. Maafkan saya nyonya!" ucap satpam itu gelagapan di depan ku.
"Nyonya bos, mau diapakan satpam ini?" tanya Dina padaku.
"Sudahlah, dia hanya menjalankan tugasnya! apa mas Sam ada di ruangannya?" tanya ku pada Dina.
"Ada, mari ku antar ke ruangan bos!" ucap Dina menawarkan untuk mengantar ku ke ruangan Samuel.
__ADS_1
***
Bersambung...