Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
87


__ADS_3

Sambil berjalan ke arah ruang kerja Samuel. Aku masih memikirkan untuk apa aku di panggil ke sana. Aku yakin dengan pasti bukan untuk hal yang menguntungkan aku. Itu pasti.


"Apa dia ingin di pijat lagi, huh... tubuh ku bahkan lebih pegal dan sakit sekarang!" gumam ku sambil terus berjalan.


Aku segera menggelengkan kepalaku berkali-kali.


"Sudahlah, lihat saja. Memangnya apa hal yang lebih buruk dari semalam itu!" gumam ku kesal.


Tok tok tok


"Tuan ini aku!" ucap ku setelah mengetuk pintu ruang kerja Samuel beberapa kali.


"Masuk!" seru suara dari dalam dan itu adalah suara Samuel.


Ceklek


Perlahan aku membuka pintu, dan masuk ke dalam. Aku melihat Samuel sedang memeriksa beberapa dokumen, aku yakin dia ini sedang mencari kesibukan agar dia melupakan pengkhianat dari kekasihnya yang telah mengkhianati nya itu.


Aku berdiri cukup jauh darinya, hanya beberapa langkah dari pintu keluar. Aku lebih nyaman seperti ini, tidak terlalu dekat dengannya. Sebenarnya aku masih sakit hati padanya, apa yang dia lakukan itu menurut ku tidak benar, aku memang istrinya, tapi bukankah seharusnya dia meminta persetujuan ku dulu. Bukan dengan cara seperti itu, aku memejamkan mataku dan menundukkan wajah ku. Aku masih saja kesal jika mengingat kejadian itu lagi.


"Bersiap-siap lah nanti malam kita akan makan malam dengan seorang klien dari luar negeri. Proyek ini sangat penting bagiku, jangan membuat kesalahan!" ucap nya tanpa menatap ku.


'Apa-apaan orang ini!' keluh ku dalam hati.


"Tapi tuan, aku tidak pernah makan malam seperti itu...!" ucapku jujur.


Aku memang tidak pernah menghadiri makan malam berkelas seperti itu, aku mana tahu apa itu istilah table manner, dan aku pasti tidak akan paham pembahasan yang akan kalian semua bicarakan di sana. Jadi daripada membuat masalah, lebih baik aku tidak ikut kan.


Tapi sebelum aku selesai bicara, Samuel malah melotot padaku. Dia berjalan mendekatiku dengan wajah garang.


Aku memejamkan mataku dan menundukkan kepala ku ketika dia semakin mendekat. Dia pasti akan berteriak dan marah karena aku membantahnya.


"Belajar lah pada bibi Merry, sekarang keluar!" ucapnya seperti sedang menahan marah.


Aku membuka mataku dan melihatnya yang terlihat mengepalkan tangannya dan berbalik menjauh dariku. Aku sungguh tidak mengerti dia terlihat sangat marah, tapi kenapa dia mencoba untuk menahannya.

__ADS_1


Aku segera berbalik dan berjalan ke arah pintu, aku juga tidak mau kalau dia marah lagi.


"Tunggu!" serunya.


Dan karena apa yang dia serukan itu, aku menghentikan langkahku yang sudah berada di ambang pintu. Aku berbalik dan melihat ke arahnya yang masih membelakangi ku dan masih dengan kedua tangan yang terkepal yang dia letakkan dan di tekan ke atas meja.


"Berhenti memanggilku tuan!" ucapnya yang membuatku makin terkejut.


Aku bahkan tidak tahu harus menjawab apa, karena apa yang dia katakan itu benar-benar membuat ku sangat terkejut. Dia tidak menyuruhku memanggil nya tuan lagi.


"Pergilah!" ucapnya lagi.


Dan ucapannya itu menyadarkan lamunan ku, segera aku keluar dari ruangan itu dan langsung menutup pintu dengan perlahan. Aku masih berdiri di depan pintu, aku berusaha memahami satu demi satu hal yang terjadi.


Dan akhirnya aku sampai pada kesimpulan, kalau Samuel masih sangat kesal pada kekasihnya dan mungkin dia merasa bersalah padaku, mungkin.


Aku hanya mengangkat bahu ku sekilas dan berjalan menjauh dari ruang kerja Samuel. Sekarang tujuan ku adalah mencari keberadaan bibi Merry. Aku harus belajar cara table manner yang baik dengannya agar tidak membuat Samuel malu.


Aku mulai mencari bibi Merry di kamarnya, cukup lama aku mengetuk pintu tapi aku tidak menemukan tanda-tanda kalau akan ada jawaban atau ada penghuninya kamar ini. Aku coba untuk membukanya, tapi pintunya terkunci. Sudah hampir lima menit aku mengetuk, hingga Cici menghampiri ku.


"Nyonya muda, apakah anda mencari bibi Merry?" tanya nya dengan sopan.


"Iya, apa kamu lihat bibi Merry?" tanya ku juga tak kalah sopan dengan Cici.


"Baru saja bibi Merry keluar bersama dengan pelayan yang bertugas membeli keperluan dapur nyonya!" jawab Cici.


Tentu saja aku menghela nafas berat, sekarang bahkan sudah hampir malam, dan makan malam pasti sekitar jam 8 atau 9 malam kan, dan itu sebentar lagi.


"Apakah akan lama kalau belanja seperti itu?" tanya ku pada Cici.


Aku masih berharap kalau mereka hanya belanja sebentar saja.


"Maaf nyonya, keperluan bulanan kan sangat banyak... saya khawatir akan lama!" jawab nya ragu. Sepertinya dia tidak enak padaku.


"Ya sudah, terimakasih ya!" ucap ku cepat pada Cici.

__ADS_1


Aku lalu meninggalkannya, aku bermaksud kembali ke ruang kerja Samuel dan mengatakan kalau bibi Merry tidak ada dan bertanya padanya, selain bibi Merry aku bisa belajar pada siapa.


Tapi belum juga sampai di ruang kerja Samuel, seseorang yang aku sangat kenal suaranya memanggilku.


"Naira!" panggil suara khas orang itu.


Aku bahkan sudah tersenyum sebelum berbalik dan menoleh ke arahnya.


"Riksa!" seru ku sangat senang dan segera berlari menghampiri nya.


Aku berhenti di depan Riksa, aku juga tidak mengerti kenapa aku begitu senang mendengar suara Riksa dan bertemu dengannya.


Dia tersenyum dan bertanya.


"Bagaimana keadaan mu, apa semua baik-baik saja?" tanya Riksa.


Aku mengangguk perlahan, untung saja aku sudah menutupi kissmark di leher ku dengan rambut ku yang terurai. Aku yakin dia tidak akan melihatnya, aku takut dia mencemaskan ku. Karena kami bertiga lah yang tahu kalau pernikahan ini hanya pernikahan kontrak, bahkan Samuel juga mengatakan padanya kalau dia tidak akan pernah menyentuh ku.


Karena ada Riksa, aku rasa aku bisa belajar tentang table manner padanya.


"Riksa, apa kamu sedang sibuk?" tanya ku padanya. Sebenarnya itu hanyalah pertanyaan yang bahkan aku hanya ingin satu jawaban nya yaitu,


"Tidak juga!" jawabnya.


Aku menghela nafas lega, karena itu adalah jawaban yang aku harapkan dari Riksa.


"Bisakah kamu ajarkan aku table manner, Tu...!"


Aku menjeda kalimat ku, aku ingat kalau Samuel tak ingin aku memanggilnya tuan lagi, aku masih memikirkan harus memanggilnya apa, tapi biarlah ku pikir nanti saja.


"Bos mu, memintaku menemaninya makan malam dengan klien. Tadi dia meminta ku belajar pada bibi Merry, tapi bibi Merry sedang berbelanja keluar, kata Cici akan sangat lama, jadi...!"


Aku tidak bisa melanjutkan perkataan ku untuk menjelaskan situasi yang terjadi sebenarnya pada Riksa karena tangan Riksa sudah menggandeng tangan ku.


"Aku mengerti...ayo!" ajaknya.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2