Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
31


__ADS_3

Hari sudah semakin sore, setelah makan siang yang sangat siang tadi Riksa mengajak ku ke sebuah toko ponsel yang sangat besar di sebuah pusat perbelanjaan yang juga sangat besar. Saat ini sudah ada ponsel baru di tangan ku dan ketika membelinya tadi terjadi sedikit perdebatan antara aku dan Riksa, masalahnya adalah ponsel yang dia belikan untuk ku ini terlalu bagus. Aku malah canggung sekali menerima pemberiannya yang semahal ini, aku bilang akan mencicilnya tapi Riksa


bilang anggap saja ini hadiah pernikahan darinya sama seperti hadiah yang di berikan oleh Puspa tadi pagi.


Dan sekarang ini Riksa sedang mengantarkan aku kembali ke rumah. Hari ini sungguh melelahkan, aku sempat berpikir apakah nantinya hari-hari ku akan seperti ini terus. Jika iya, sepertinya tidak buruk juga. Setidaknya aku bisa mengurangi berat badan ku.


"Ada apa?" tanya Riksa pada ku.


Aku menoleh ke arah nya, aku menghembuskan nafasku pelan. Pria di sampingku ini begitu sensitif, dia sangat peka. Aku hanya diam dan membatin tapi dia tahu aku sedang merasa tidak nyaman.


"Tidak ada apa-apa, oh ya Riksa terima kasih untuk ponselnya ya. Ini sangat bagus!" kata ku pada Riksa.


Beberapa menit kemudian kami sampai di depan rumah, Riksa menghentikan mobil tepat di depan rumah ku. Aku membuka pintu mobil dengan cepat dan langsung turun dengan membawa barang-barang ku agar Riksa tidak perlu membukakan pintu mobil nya untukku.


"Nai!" protesnya karena aku sudah berjalan mendekatinya.


Tapi aku hanya tersenyum kikuk padanya, dan mengalihkan pandangan ku depan karena aku melihat ada mobil lain di depan, seperti nya juga ada tamu di rumah karena ada suara sedang mengobrol sampai di luar.


"Siapa ya mereka?" tanya ku sambil melihat ke arah mobil di depan mobil Riksa.


"Oh, itu pasti orang-orang dari butik. Lihat, ada logo butik Puspa di kaca belakang mobil itu!" jelas Riksa sambil menunjuk sebuah logo gold berbingkai hitam.


"Orang-orang dari butik?" tanya ku mengulang kalimat yang baru saja Riksa katakan.


Riksa mengangguk.


"Iya, mereka juga akan mengukur pakaian untuk keluarga mu!" jelas Riksa lagi.


Dan kali ini aku yang menganggukkan kepala ku.


"Begitu ya, baiklah. Terimakasih banyak ya Riksa, apa besok ada yang harus aku lakukan lagi? jika tidak aku akan pergi ke toko buku dan mengundurkan diri dari sana!" ucap ku pada Riksa.

__ADS_1


"Besok Tante Stella meminta ku mengajak mu ke salon dan spa, tapi kalau kamu mau mengundurkan diri dari toko buku, aku bisa mengantar mu!" sahut Riksa.


Aku langsung melambaikan tangan ku berkali-kali di depan Riksa.


"Gak, gak usah Riksa. Aku bisa sendiri kok!" bantah ku.


Aku mengatakan itu karena aku berfikir Riksa pasti punya banyak pekerjaan lain kan selain hanya mengurusi ku terus menerus. Dan kalau hanya untuk pergi ke toko buku yang berada di depan gang kan aku juga bisa berangkat sendiri.


"Nai, aku memaksa! besok pagi jam delapan aku akan sampai disini. Sekarang aku antar kamu masuk ya!" ucap Riksa.


Aku hanya bisa menuruti perkataan Riksa. Aku dan dia masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum!" sapa ku ketika masuk ke dalam.


Semua orang yang berada di rumah tamu menoleh ke arah kami. Dan benar saja seperti nya anak buah Puspa sedang mengukur ukuran tubuh ayah dan juga ibu.


Seorang wanita sedang berada di dekat ibu sambil, mengukur tubuhnya. Dan seorang pria yang jemarinya bergerak lentik sedang mengukur ukuran tubuh ayah. Dan ayah terlihat sangat tidak nyaman sekali.


Aku sempat terkekeh melihat ayah yang bergerak seperti robot, kaku sekali. Selama ini memang ayah hanya membeli pakaian jadi, tidak pernah aku lihat ayah menjahitkan pakaian jadi dia terlihat sungguh kaku sekali.


"Ayah kenapa?" tanya ku berpura-pura tidak mengerti kenapa ayah bersikap seperti itu.


"Tahu tuh kak, Ibras udah bilang sama ayah tadi. Santai yah, rileks, tapi ayah tetep aja tegang gitu! kayak mau di suntik vaksin tahu gak yah!" sambung Ibras yang duduk santai sambil memakan apel.


Aku baru sadar kalau di atas meja banyak sekali buah-buahan. Tapi aku tidak mungkin juga bertanya sekarang kan, disini masih ada dua orang anak buah Puspa dan juga Riksa.


"Selamat malam Om, Tante!" sapa Riksa dengan sopan.


"Eh, nak Riksa masuk nak. Duduk dulu ya, Nai ambilkan minum buat nak Riksa!" seru ibuku.


"Tidak usah Tante, ini saya cuma mau antarkan Naira, dan saya pamit pulang dulu ya Om, Tante selamat malam. Nai, aku pulang!" seru Riksa.

__ADS_1


Aku mengangguk dan tersenyum, dan dia pun keluar dari rumah dan berlalu. Aku masih memperhatikan dua orang anak buah Puspa ini, yang wanita tadi memang aku lihat di butik, tapi yang pria dengan gestur gemulai ini aku tidak melihatnya tadi, jadi aku lumayan penasaran juga.


"Memang mau bikin berapa baju sih, perasaan ibu dari tadi gak kelar-kelar!" keluh ibu yang sudah mulai bosan sepertinya.


"Maaf nyonya, kami akan membuatkan tiga pakaian, untuk akad nikah, resepsi, dan untuk foto keluarga. Dan semuanya konsep yang dipilih oleh tuan Samuel sangat berbeda, jadi cara mengukur nya juga berbeda." jelas wanita cantik yang bertubuh mungil itu.


"Tapi kok Ibras tadi cepat?" tanya Ibras.


Aku hanya memperhatikan obrolan mereka sambil terus melihat ekspresi ayah ku yang begitu datar, sangat kaku natural.


"Itu karena pakaian pria cenderung lebih simpel!" jawab si pria yang sedang mengukur tubuh ayah.


"Tapi kenapa saya dari tadi juga gak selesai-selesai?" tanya ayah yang akhirnya bersuara.


"Em, gimana ya bilangnya?" tanya si pria yang sedang mengukur ukuran tubuh ayah itu.


Aku jadi makin serius memperhatikan nya, seperti nya dia ingin mengatakan sesuatu tapi tidak enak hati untuk mengatakan nya.


"Kenapa kak, katakan saja!" ucap ku karena aku juga sangat penasaran.


"Em, ukuran perut ayah dari tadi berubah-ubah!" jawab nya jujur.


"Ha ha ha !" Ibras terbahak dengan lepas.


"Pffttt!" dan aku pun tak kuasa untuk menahan tawaku.


Ternyata itu sebabnya dari tadi pengukuran tubuh ayah tidak selesai-selesai. Ayah yang tegang, terkadang menahan perutnya yang memang sedikit offside dari ukuran biasa. Dan terkadang karena lelah menahan nya ayah, membiarkan perutnya seperti ukuran aslinya.


Suasana jadi sangat riuh di rumah tamu kami malam-malam begini. Ibu bahkan tertawa sampai matanya berkaca-kaca.


"Aduh, ayah tuh lihat kan! makanya kata ibu juga apa? olahraga ayah, olahraga!" seru ibu masih sambil terkekeh.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2