
Aku masih diam sambil melihat ke arah ibu Stella, aku tidak tahu harus menjawab apa kalau soal ini.
Melihat ku yang sedang kebingungan, dan kebetulan saja saat ini bibi Merry datang membawa minuman untuk kami semua. Ibu Stella langsung sigap berdiri dan meraih satu cangkir minuman dan memberikan nya pada kakek Virendra.
"Ayah, minum dulu ya. Sejak tadi kan ayah belum minum. Ingat kata dokter, ayah harus banyak minum!" ucap ibu Stella yang aku tahu dia sedang berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
Kakek Virendra pun langsung meraih cangkir yang di berikan oleh ibu Stella. Lalu dengan sigap dia juga langsung bicara pada bibi Merry.
"Bibi Merry panggil Samuel dan Adam, lalu katakan pada asisten rumah tangga yang lain untuk membereskan barang-barang ayah ke dalam kamarnya!" seru ibu Stella.
"Baik nyonya!" jawab bibi Merry sambil menundukkan sedikit tubuhnya.
Tapi belum juga bibi Merry beranjak dari sana. Adam sudah datang menghampiri kami semua dan menyapa kakek Virendra.
"Selamat datang kembali ke rumah kek!" ucap Adam lalu duduk di sebelah kakek Virendra dan memeluknya.
Kakek Virendra terlihat begitu senang, dia membalas pelukan dari Adam dan menepuk-nepuk punggungnya beberapa kali. Tapi yang membuat ku merinding adalah ketika Adam melihat ke arah ku dengan tatapan yang sulit untuk ku artikan.
"Kamu juga sudah kembali, anak nakal!" ucap kakek Virendra setelah melepaskan pelukannya dari Adam.
"Tentu saja kek, ini rumah ku kan?" sahutnya membuat ku merasa kalau dia sedang menyindir ku.
Entahlah, tapi dari awal pertemuan ku dengan Adam memang sudah tidak benar. Aku salah masuk kamar hotelnya, lalu pertemuan keduaku dengannya juga sudah menimbulkan banyak salah paham. Dia memergoki aku dan Riksa saat aku sedang mengadu dan mengeluarkan keluh kesah ku pada Riksa karena Samuel bersikap dan berkata kasar padaku. Dia pertemuan itu saja sudah mampu membuat kesan buruk bagi Adam padaku. Di tambah apa yang dia katakan kemarin yang menyiratkan kalau dia tahu pernikahan ku dengan Samuel awalnya hanya sebuah pernikahan kontrak.
"Apa yang tadi sedang kalian bicarakan?" tanya Adam pada semua orang yang ada di ruangan ini.
Kakek Virendra langsung tersenyum dan mengusap kepalaku dengan lembut.
"Kami sedang membicarakan tentang kehamilan kakak ipar mu, tentang keponakan mu yang tidak lama lagi akan hadir dan meramaikan rumah kita ini!" ucap kakek begitu dalam.
Aku benar-benar merasa sangat bersalah, aku menundukkan kepalaku. Rasanya aku menjadi wanita yang sangat kejam dan jahat karena telah membohongi seorang yang sangat tulus dan sepuh seperti kakek Virendra.
__ADS_1
Aku nyaris hampir menangis ketika Samuel tiba-tiba datang dan mengecup puncak kepala ku dari arah belakang.
"Sayang!" ucapnya.
Aku langsung menegakkan kembali kepala ku, dan aku lihat kalau pandangan semua orang mengarah pada kami.
"Kalian romantis sekali!" kata ibu Stella sambil tersenyum bahagia.
Samuel lalu menghampiri kakek Virendra, aku menggeser sedikit duduk ku agar memberi tempat pada Samuel untuk duduk di sebelah kakek Virendra.
"Kakek, aku senang kakek kembali lagi. Dan aku lebih senang melihat kakek sudah sehat seperti ini!" ucap Samuel sambil memeluk kakek Virendra.
Kakek Virendra juga membalas pelukan Samuel, wajah kakek Virendra terlihat sangat senang. Dia juga tersenyum padaku saat memeluk Samuel.
"Memang nya kamu pikir karena ulah siapa kakek masuk rumah sakit!" celetuk Adam.
Aku terkejut Adam mengatakan hal itu.
"Aku harap begitu!" ucap Adam lagi.
Dan aku rasanya menjadi sangat haus ketika Adam mengatakan semua perkataan nya itu, kalau dulu aku memberi julukan pada Samuel si lidah tajam, sekarang aku ingin sekali memanggil Adam itu si lidah horor. Benar-benar membuat ku merinding terus dengan semua kalimat yang keluar dari mulutnya.
"Adam, hentikan sikap konyol mu. Setidaknya kamu bisa bersikap baik kan pada Naira. Bagaimana pun juga dia adalah kakak ipar mu!" ucap ayah Damar ikut menasehati Adam.
Adam tidak menjawab dia hanya melirik sekilas ke arah ku dan lirikannya itu makin membuat ku merasa kalau di belakang ku benar-benar ada sesuatu yang mampu membuat bulu kuduk ku berdiri.
Di tengah suasana tegang, bibi Merry kembali datang menghampiri kami.
"Tuan besar, tuan dan nyonya makan malam sudah siap, silahkan!" ucapnya dengan sopan.
"Terimakasih bibi Merry, kebetulan sekali saat di bandara tadi ayah bilang rindu masakan Nusantara kan? bibi Merry pasti sudah menyiapkan menu khusus untuk kita. Ayo kita makan malam dulu, setelah itu kita bisa ngobrol lagi " ucap ibu Stella lagi-lagi membantu kakek Virendra.
__ADS_1
Tapi lagi-lagi kakek Virendra menolak dan memintaku yang membantu memapahnya.
"Kakek aku bantu ya?" tanya Samuel ikut menawarkan bantuannya.
"Tidak perlu Sam, Naira dan calon cicit kakek ini saja sudah cukup!" ucap kakek Virendra.
Aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaan bersalah ku, kakek Virendra benar-benar memiliki harapan besar padaku dan yang dia bilang calon cicitnya yang jelas-jelas itu hanya karangan dari ibu Stella saja.
'Oh Tuhan, maafkan aku. Aku sama sekali tidak bermaksud membohongi kakek. Maafkan aku kek, maafkan aku!' batin ku.
Kami semua pun makan malam bersama, kakek benar-benar memanjakan aku. Aku di suruh duduk di sebelahnya dan meminta bibi Merry khusus melayaniku. Rasanya benar-benar tidak enak hati. Apalagi tatapan Adam benar-benar seperti bisa merobek ku menjadi beberapa bagian sangking tajamnya.
Setelah selesai makan, kakek sebenarnya masih ingin mengobrol. Tapi ibu Stella meminta nya untuk beristirahat demi kesehatan nya. Kemudian ayah dan ibu memanggil aku dan juga Samuel ke ruang kerja ayah Damar.
Aku juga terkejut, ternyata di dalam ruang kerja ayah Damar sudah ada Adam. Adam terus saja melotot padaku, aku rasa ayah Damar menyadari hal itu dan langsung menegurnya.
"Adam, ayolah nak. Bukan seperti itu cara bersikap pada kakak ipar mu!" seru ayah Damar.
"Adam kamu boleh saja bersikap dingin dan tak perduli padaku, tapi jangan ganggu istriku!" ucap Samuel sambil merangkul ku mendekat ke arahnya.
Adam malah terkekeh.
"Huh, kalian semua memang gemar bersandiwara. Sudahlah silahkan di lanjutkan. Aku tidak akan ikut campur, tapi kalau sesuatu terjadi dan kalian menyesalinya. Aku adalah orang yang pertama kali akan menertawakan hal itu!" ucap Adam lalu keluar dari dalam ruang kerja ayah Damar.
Ibu Stella langsung menghampiri ku dan mengusap lengan ku dengan lembut beberapa kali.
"Naira sayang, jangan dimasukkan ke dalam hati ya. Adam memang seperti itu, tapi pada dasarnya dia baik kok!" ucap ibu Stella dengan mata yang berkaca-kaca.
***
Bersambung...
__ADS_1