Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
30


__ADS_3

Mendengar ayahnya mengatakan hal seperti itu, Natasha menjadi geram.


"Lakukan sesuatu pa! aku tidak mau ya kalau sampai aku kalah dengan perempuan yang tidak jelas asal usulnya itu!" protes Natasha.


Teddy masih tidak tidak menunjukkan respon jika dia akan melakukan hal yang diinginkan oleh putrinya itu. Karena sebenarnya sudah jelas bagaimana isi perjanjian itu.


Melihat suaminya yang terkesan tidak mau berusaha untuk kebahagiaan putrinya, Melinda yang merasakan perasaan kesal yang sama seperti putrinya. Mengusap lengan Natasha dengan lembut berniat untuk menenangkan putrinya itu.


"Sayang, apa yang kamu cemaskan. Ada mama kan, mama sudah mengajari kami bagaimana menyingkirkan wanita yang bahkan sekelas Caren, lalu apa masalah nya jika hanya menyingkirkan wanita seperti calon istri Samuel yang bahkan tidak jelas seperti apa latar belakang dan status keluarganya itu!" jelas Melinda mencoba untuk menghibur Natasha.


Tapi Teddy tahu apa yang dikatakan oleh Melinda akan semakin membuat putrinya itu menjadi perempuan yang ambisius dan tidak baik. Teddy meletakkan ponselnya.


"Papa akan coba hubungi lagi nanti, papa masih harus meeting sebentar lagi. Papa harap kalian berdua tidak bertindak berlebihan, jangan sampai melakukan hal yang bersinggungan dengan hukum atau semacamnya!" ucap Teddy memperingatkan anak dan istrinya.


Teddy cukup mengenal kedua orang yang sudah hidup pilihan tahun dengan dirinya itu. Dia tahu kalau kedua wanita itu adalah tipikal orang yang akan sanggup melakukan apapun demi mendapatkan keinginan mereka, dan hal itu membuat nya sungguh cemas.


Teddy beranjak dari tempat dia duduk dan keluar dari ruangan itu. Setelah ayahnya pergi, Natasha kembali mengeluh pada ibunya.


"Ma, apa tadi yang papa katakan? lalu apa gunanya kita datang kemari dan meninggalkan jadwal perawatan kita di salon? jika pada akhirnya papa tidak bisa melakukan apapun dan malah menasehati ku dengan perkataan tidak berguna seperti itu!" keluh Natasha pada ibunya.


"Sayang, sudahlah. Setidaknya papa mu sudah berusaha menghubungi om Damar itu. Tapi sepertinya mereka memang sengaja menghindari kita. Sayang sekali waktu itu mereka tidak mau menandatangani surat perjanjian karena masalah kesehatan kakek Virendra itu, jika tidak hal ini tidak akan terjadi!" timpal Melinda yang bukannya memberikan pencerahan dan nasehat yang benar kepada putrinya, dia malah menambah Pertamax dalam api kemarahan Natasha.


"Pokoknya aku tidak mau sampai gagal jadi nyonya Virendra ma, aku sangat menyukai Samuel. Aku bahkan tidak bisa menemukan lelaki yang lebih tampan darinya, aku tidak ingin menikah dengan pria lain. Aku hanya ingin menikah dengan Samuel, atau aku tidak akan pernah menikah!" tegas Natasha.


Dia mengatakan kalimat itu dengan menggebu-gebu, dia benar-benar sudah di buatkan oleh ketampanan dan kekayaan seorang Samuel Virendra.


"Hushh... sayang!" sela Melinda lagi-lagi menepuk bahu putrinya dengan lembut. Dia tidak ingin putrinya mengeluarkan statement seperti itu. Meskipun Melinda adalah wanita modern tapi dia juga tidak ingin perkataan putrinya itu menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.


"Jangan pernah bicara seperti itu! mengerti! masih ada mama kan? mama akan menemui wanita yang katanya adalah calon istri Samuel itu, mama akan membuatnya mundur atau jika mama tidak bisa memintanya maka mama akan memaksanya, mama akan memaksa dia untuk mundur sejauh-jauhnya dari mimpinya menjadi nyonya Samuel. Karena apa? karena yang pantas, satu-satunya wanita yang pantas bersanding dengan Samuel Virendra hanyalah kamu sayang, putri satu-satunya mama, pewaris tunggal keluarga Morgan!" seru Melinda dengan mimik wajah yakin dan mantap.


Rasa percaya diri wanita bernama Melinda Morgan ini sungguh sangat tinggi. Bukan hanya rasa percaya diri nya yang tinggi tapi dia memang wanita yang tangguh, dia bahkan bisa membuat suaminya yang nyaris menikahi wanita lain, gagal berpaling darinya bahkan untuk selamanya.


Natasha terlihat senang atas apa yang dikatakan oleh ibunya. Dia memeluk Melinda dengan senyuman lebar di bibirnya.


"Mama memang yang terbaik, aku percaya mama tidak akan pernah mengecewakan aku!" serunya.

__ADS_1


"Iya dong sayang!" sahut nya dengan tatapan mata tajam menuju ke arah depan.


'Kita harus bahagia sayang, mama dan juga kamu. Kita berhak mendapatkan itu. Jika tidak bisa dengan cara baik-baik, maka kita akan mendapatkan nya dengan cara apapun!' beton Melinda dengan tatapan tajam nya.


***


Sementara itu di tempat lain di waktu yang sama.


Di sebuah rumah sakit yang berada di luar negeri tempat kakek Virendra di rawat, sejak tadi Damar dan Stella mendapatkan telepon dari orang yang memang ingin mereka hindari.


"Terus menghindari mereka seperti ini juga bukan solusi yang tepat kan Yah?" tanya Stella pada Damar yang masih melihat ke layar ponselnya yang berdering.


Damar menghela nafasnya panjang.


"Tapi aku sedang tidak ingin berdebat Bu, mereka seperti nya sudah lupa dengan perjanjian kita waktu itu. Jika dalam empat bulan Samuel tidak menikah maka kita akan melanjutkan perjodohan antara Samuel dan juga Natasha, tapi Samuel akan menikah sebentar lagi. Apa mereka tidak mengerti, kalau itu artinya perjanjian itu batal!" keluh Damar dengan wajah yang terlihat sangat lelah.


Stella mengusap punggung suami nya yang kini duduk di sisinya di sebuah sofa panjang, dalam ruangan rawat kakek Virendra yang masih tertidur pulas.


"Sabar ya, kita akan bicara pada mereka setelah kita kembali untuk pernikahan Samuel!" sahut Stella.


Damar menatap lurus ke arah tempat ayah kandungnya tertidur.


Mata Damar berkaca-kaca, dia sangat sedih dengan keadaan ayah nya. Damar mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Stella.


"Tapi aku bersyukur karena Riksa mengatakan gadis itu adalah gadis yang baik, keluarganya juga baik. Itu cukup, aku akan mengatakan pada ayah kalau Samuel akan menikah dengan gadis yang tepat!" ucap Damar lirih.


"Benar, dengan adanya Riksa di sisi Samuel. Kita bisa tenang untuk fokus merawat ayah disini, dan di tambah dengan ada gadis itu bersama mereka aku harap Samuel bisa lepas dari jeratan wanita bernama Caren itu!" ucap Stella menuturkan apa yang ada di dalam hatinya.


"Riksa sudah memerintahkan kepada anak buahnya agar mengawasi wanita itu meskipun dia di luar negeri, cepat atau lambat perbuatan nya yang dengan rapat dia sembunyikan dari Samuel itu pasti akan terbongkar!" ujar Damar.


"Benar, aku kesal sekali pada Samuel. Dia bahkan lebih mempercayai wanita itu daripada aku ibunya sendiri...!"


"Sudahlah, jangan emosi. Riksa akan mengatasi segalanya!" sela Damar sebelum mencoba menahan agar istrinya tidak terbawa emosi lagi.


Stella punya riwayat hipertensi, dan dia tidak boleh terbawa emosi atau stress. Itu sangat tidak baik untuk kesehatan nya.

__ADS_1


"Huh, benar! untung ada Riksa, aku bahkan lebih mempercayai nya daripada Samuel!" jujur Stella pada Damar.


"Nah, kurasa aku sekarang tahu kenapa Samuel lebih mempercayai kekasihnya itu daripada kamu, ibunya sendiri!" seru Damar membuat Stella menatap serius ke arah nya.


"Benarkah?" tanya Stella memastikan.


Dan Damar pun menganggukan kepalanya dengan yakin.


"Iya, kamu lebih mempercayai Riksa daripada dia kan, itulah sebabnya dia juga lebih percaya pada wanita itu daripada kamu, ibunya sendiri!" jelas Damar dengan lembut.


Penjelasan Damar tadi, membuat Stella mengernyitkan dahi nya. Dia terdiam dan memikirkan apa yang baru saja di ucapkan oleh Damar.


'Benar juga ya, jika aku saja tidak bisa percaya penuh pada putra kandung ku sendiri! lantas bagaimana bisa dia percaya penuh padaku!' batin Stella.


Jawaban yang di berikan suaminya membuat Stella tersadar, kalau dia ingin orang lain jujur padanya maka dia harus jujur juga pada orang itu. Dan kalau dia ingin orang lain percaya padanya maka dia harus percaya juga pada orang itu. Ini adalah hal yang lumrah, tapi dia melupakan nya karena merasa yang menyebabkan semua ini adalah Caren. Padahal tidak sepenuhnya seperti itu. Caren memang turut andil, tapi tidak sepenuhnya, semua ini juga karena dirinya sendiri.


Setelah menyadari hal itu, Stella menghela nafasnya.


"Kurasa saat kembali nanti, aku harus bicara berdua pada Samuel!" lirihnya. Dia jadi merasa bersalah, karena sebagai orang tua dia tidak bisa lebih sensitif lagi terhadap perasaan anak kandungnya sendiri.


Damar mengerti apa yang dirasakan oleh Stella, dia mengusap lembut punggung istrinya itu.


"Lalu menurut mu apa kita juga harus pulang sehari sebelum pernikahan dan menemui calon menantu kita?" tanya Stella pada Damar. Stella menanyakan pertanyaan itu secara refleks.


Damar tidak langsung menjawab, dia kembali melihat ke arah ayah nya yang masih terbaring dan tak sadarkan diri di tempat tidur pasien di depan mereka berdua.


"Bagaimana kalau kamu pulang lebih dulu dan menemui Naira serta keluarga nya, aku akan pulang setelah Dokter Putri kembali. Aku tidak bisa meninggalkan ayah...!"


Sebelum Damar selesai mengatakan apa yang ingin dia katakan. Stella menepuk punggung tangan suaminya.


"Iya, aku mengerti. Dan maafkan aku sudah mengatakan pertanyaan yang seharusnya tidak aku katakan, maaf yah!" ucap Stella dengan suara lembut sambil merangkul lengan suaminya dan menyandarkan kepalanya ke pundak Damar.


Damar tersenyum dan mengusap kepala Stella. Mereka sudah hidup bersama lebih dari 30 tahun. Itu cukup membuat mereka mengerti satu sama lain. Dan kedua putra mereka yang tampan dan luar biasa membanggakan mereka sungguh melengkapi keluarga ini. Itulah yang membuat kakek Virendra begitu berhati-hati saat memilih cucu menantu, dia tidak ingin kehadiran wanita yang salah merusak keharmonisan keluarga mereka yang sudah mereka bangun selama puluhan tahun lamanya.


Author POV end

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2