Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
306


__ADS_3

Di ruangan Vina, ternyata Adam masih menunggu di dalamnya. Adam sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Adam tidak tahu sejak kapan dia begitu perduli pada Vina dan segala urusannya. Yang Adam sadari hanyalah dia merasa bersalah pada Vina, karena sudah menyebabkan kecelakaan bagi mereka berdua, dan menyebabkan Vina seumur hidupnya tidak akan pernah bisa menjadi seorang ibu.


Vina membuka pintu ruangannya, begitu Vina masuk Adam langsung bergegas menghampiri nya membuat Vina yang baru berbalik menjadi kaget.


"Astaga Adam!" pekik Vina terkejut karena Adam hanya diam berdiri di belakang tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


"Bagaimana?" tanya Adam.


Vina menggidikkan bahunya mengingat semua kata-kata yang tadi dia ucapkan di depan Jodi.


"Ih, aku tidak mau melakukan itu kalau bukan karena ayah dan perusahaan ini. Kamu tahu tidak saat aku masuk ke dalam ruangan Jodi, aku melihat dia dan Caren sedang sarapan bersama, begitu aku bilang aku telah bawakan makanan dia langung mengusir Caren dan semua makanan buatan Caren. Bisa bayangkan perasaan Caren saat itu?" tanya Vina pada Adam.


"Tidak! dan tidak mau tahu tentang itu!" seru Adam.


Vina langsung cemberut dan mengerucutkan bibirnya.


"Ck... sudah susah payah berakting, hasilnya malah tidak mau dengar!" keluh Vina.


"Aku malas dengar apapun tentang wanita ular itu, lalu apa kita bisa pasang kamera tersembunyi disana?" tanya Adam antusias.


"Tidak bisa Adam, semuanya datar, hanya ada tak dokumen dan beberapa rak buku yang penuh. Bahkan tidak ada satu pun vas bunga disana!" Vina berkata setelah itu dia menghela nafas panjang.


Vina duduk bersandar di sofa.


"Aku rasa tidak bisa memasang kamera tersembunyi tanpa ketahuan disana!" keluh Vina.


Adam lalu duduk di sebelah Vina sambil berpikir.


"Adam, tadi juga aku melihat ada dokumen PT Heterogen di atas meja kerja Jodi, setahu ku ayah sudah memutuskan kerja sama dengan perusahaan itu karena mereka tidak pernah mementingkan kualitas dan hanya memikirkan untung besar saja. Tapi kenapa dokumen itu ada di atas meja kerja Jodi ya?" tanya Vina.


"Itu artinya dia sudah bekerja sama dengan perusahaan itu di belakang ayahmu, dia memang pria licik!" jawab Adam yang membuat Vina tambah geram saja pada Jodi.


"Aku harus beritahu ini pada ayah!" ucap Vina lalu berdiri dari duduknya.


Sebelum Vina bisa pergi, Adam menahan Vina dengan memegang pergelangan tangan Vina.


"Tunggu, kita tidak akan bisa menangkap ikan besar dengan umpan ikan teri Vina!" seru Adam.


Tapi Vina tidak fokus pada apa yang di katakan oleh Adam, dia malah melihat tangan Adam yang sedang memegang tangannya.

__ADS_1


Deg deg deg


Vina merasa detak jantung nya terasa begitu cepat dan tidak beraturan. Menyadari tindakan nya membuat Vina terdiam, Adam dengan segera melepaskan tangannya dari tangan Vina.


"Maaf aku tidak sengaja!" ucap Adam merasa bersalah.


Vina kembali duduk lagi di tempatnya semula.


"Tidak apa-apa, lalu aku harus bagaimana?" tanya Vina.


"Kita harus cari tahu dulu, cari bukti dulu. Aku akan kerahkan orang-orang ku untuk menyelidiki Adam hubungan apa Jodi dengan PT Heterogen itu...!"


Vian yang terkejut dengan apa yang dikatakan Adam langsung menoleh ke arah Adam.


"Tunggu, apa maksudnya orang-orang mu? kamu punya anak buah?" tanya Vina heran


"Ck... kamu pikir suami mu ini benar-benar pengangguran apa? aku ini punya pekerjaan!" seru Adam dengan nada suara agak terkesan sombong.


Vina mengangkat kedua alisnya sanking terkejut, bukan karena Adam bilang kalau dia punya pekerjaan dan anak buah, tapi karena barusan Adam bilang kalau dia adalah suami Vina.


Sementara itu di kediaman Virendra. Naira sedang merapikan buku-buku yang selesai dia baca di ruang kerja suaminya. Kebetulan saja saat itu Sundari lewat dan ikut masuk ke dalam ruang kerja Samuel yang pintunya memang tidak Naira tutup.


"Tidak apa-apa Ndari, biar aku saja. Hanya menyusun buku bukan pekerjaan berat!" jawab Naira.


"Wah nyonya, ruang kerja tuan besar sekali. Tapi nyonya tadi padi saya tidak lihat tuan ikut sarapan bersama, apa tuan sangat sibuk ya nyonya?" tanya Sundari sambil membersihkan sebuah vas besar di samping rak buku.


Naira yang sudah selesai menyusun buku lalu duduk di kursi kerja suaminya.


"Huh, selesai juga. Mas Samuel sedang sibuk, Riksa asisten pribadi nya kan sedang cuti, jadi pekerjaan mas Sam jadi dua kali lipat banyaknya!" jelas Naira dengan sabar.


Sundari lalu mendekati meja kerja Samuel dan melihat ke arah Naira.


"Tapi kan kasihan tuan, nyonya. Kalau dia tidak sarapan dia pasti akan kelaparan saat bekerja!" ucap Sundari polos.


Naira terkekeh mendengar apa yang di katakan Sundari.


"Mas Sam bukan anak kecil Ndari, dia akan sarapan di kantor sambil mengerjakan pekerjaan nya. Kamu ada ada saja!" ucap Naira.


"Dengan siapa nyonya?" tanya Sundari lagi.

__ADS_1


"Mungkin dengan kak Dina, atau yang lainnya!" jawab Naira singkat.


"Kak Dina itu siapa nyonya, apa dia sudah menikah? sudah punya suami?" tanya Sundari begitu penasaran.


"Kak Dina itu sekertaris pribadi mas Sam, dia belum menikah tapi dia sudah bertunangan!" jawab Naira tanpa curiga sama sekali pada semua pertanyaan pertanyaan yang di ajukan Sundari.


"Hati-hati nyonya, biasanya sekertaris pribadi itu akan mendekati bosnya... !"


"Ndari sudahlah, kak Dina aku sangat mengenalnya. Dia sudah bekerja bertahun-tahun dengan suamiku, kalau mau dia bisa mendekatinya sejak dulu. Mereka benar-benar profesional, lagipula aku sangat percaya pada mas Sam!" ucap Naira dengan wajah berseri-seri.


"Begitu ya nyonya, oh ya nyonya kenapa nyonya tidak memasak makan siang untuk tuan dan mengantarkannya ke kantor?" tanya Sundari lagi pada Naira.


Naira diam sejenak, dia ingat kalau dulu Samuel sangat senang saat dia memasak untuk Samuel dan mengantarkan makan siang untuk Samuel di kantornya.


"Kamu benar Ndari, mas Sam pasti senang!" Naira langsung berdiri dari kursi kerja suaminya dan berjalan ke arah Sundari.


"Kalau begitu kamu bantu aku ya, kita siapkan makan siang untuk mas Sam!" ucap Naira tersenyum senang.


"Baik Nyonya, dengan senang hati!" jawab Sundari.


Naira dan Sundari pun pergi ke dapur, mereka menyiapkan beberapa bahan masakan yang akan mereka olah dan kemudian akan Naira antarkan ke kantor suaminya.


Ketika sedang asik memasak, Stella mendatangi Naira yang terlihat sedang sibuk.


"Naira sayang, kamu sedang apa? jangan terlalu lelah!" kata Stella menasehati Naira


"Ibu, aku sedang buatkan makan siang untuk mas Sam, aku akan mengantarkan makan siang ini ke kantor!" jawab Naira.


"Begitu ya, tapi jangan pergi sendiri ya. Ajak bibi Merry menemani mu!" seru Stella.


"Bagaimana kalau dengan saya saja nyonya besar?" tanya Sundari menawarkan diri.


"Tidak usah Ndari, dengan bibi Merry saja. Ya Naira!" tegas Stella dan langsung di balas anggukan kepala oleh Naira.


Sundari langsung mundur dan terlihat sangat kecewa.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2