Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
123


__ADS_3

Setelah selesai membantu Ayah untuk sarapan, aku kembali membereskan pekerjaan yang berada di dapur setelah itu aku membantu ibu untuk mencuci pakaian, karena tuan muda Samuel sudah membelikan mesin cuci jadi aku tak perlu repot-repot mendekat dan membilas seperti biasanya. Hanya tinggal menekan tombol kemudian semua pekerjaan bisa dilakukan dengan lebih cepat dan lebih mudah.


Pakaian bahkan bisa langsung setengah kering sehingga aku hanya perlu menjemurnya di teras belakang rumah tidak perlu sampai terkena cahaya matahari secara langsung. Ini benar-benar mudah, semoga penemu teknologi ini mendapatkan banyak berkah dalam hidupnya karena dia juga telah membantu orang lain termasuk diriku.


Waktu sudah menjelang siang saat aku keluar dan melihat kearah jam di dinding ruang tengah, jam itu menunjukkan sudah lewat dari jam 9 pagi. Aku lalu keluar dan melihat ayah yang sedang membaca koran di depan teras.


"Ayah, sudah semakin panas. Apa ayah ingin masuk ke dalam?" tanya ku pada ayah.


Ayah menggelengkan kepalanya,


"Ayah masih ingin disini, kalau ada tetangga yang lewat mereka menghampiri sebentar dan ngobrol bersama Ayah jadi ayah tidak bengong saja seperti kalau Ayah berada di dalam kamar. Ayah akan sangat bosan, jadi biarkan ayah disini dulu ya!" pinta ayah.


Aku hanya tersenyum mendengar perkataan dari ayah.


"Baiklah, tapi aku tinggal sebentar ke warung sayur tidak apa-apa?" tanya ku memastikan kalau ayah akan baik-baik saja kalau aku tinggal sebentar berbelanja ke warung sayur.


Ayah menganggukan kepalanya dengan cepat.


"Iya pergilah, ayah akan baik-baik saja!" jawabnya membuatku bernafas dengan lega.


Aku lalu pergi ke warung sayur, letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Hanya berjarak sekitar beberapa rumah saja tidak sampai 10 rumah.


Sepanjang jalan, terlihat sangat sepi karena biasanya jam segini semua warga komplek ada yang pergi bekerja ada yang pergi sekolah jadi hanya tinggal ibu-ibu rumah tangga saja yang berada di rumah, dan di jam-jam seperti ini biasanya mereka berkumpul di warung sayur. Ada yang sekedar berbelanja ada juga yang cuma datang untuk mendengarkan gosip.


"Selamat pagi ibu-ibu!" sapa ku pada ibu-ibu yang ada warung sayur.


"Pagi Naira!" jawab mereka.


"Eh ada Naira, kapan kamu balik sini Nai?" tanya Bu Saodah.

__ADS_1


Aku tersenyum mengangguk pada mereka lalu masuk ke dalam warung.


"Baru kemarin Bu Saodah!" jawab ku.


"Eh katanya ayah kamu jatuh ya pas bantuin masang asbes di rumah si Pandu?" tanya Bu Ririn.


"Iya Bu, namanya juga musibah. Tapi sudah mendingan!" jawab ku.


"Di obatin gak sama Pandu, ih dia itu kan bininya itu tuh pelit minta ampun. Kalau kemarin itu suami saya mau bantuin juga ke sana, gak boleh sama saya. Soalnya dia kan mau kerja malam!" kata Bu Pariah.


"Ih saya mah kira gak boleh karena Bu Pariah masih senewen tuh sama Bu RT gara-gara gak dapet bansos!" sindir Bu Saodah.


"Iya, itu juga sih. Tapi dengar-dengar nih yang bantuin kemarin cuma dapet minuman gelas sama ucapan terimakasih, martabak sepotong juga gak ada coba, ih...!" tutur Bu Pariah sambil menggidikkan bahunya sekilas.


"Ah masa sih, gitu amat pelitnya. Padahal pak RT itu baik loh!" sahut ibu pemilik warung.


Beberapa orang di warung sayur ini sampai geleng-geleng kepala mendengar penuturan istrinya pak Juki dan Bu Pariah.


"Oh gitu amat ya, ntar tuh pasti kalau dia minta tolong apa-apa lagi, gak bakalan ada yang nolongin dia kan!" kata ibu pemilik warung sayur.


"Terus, Nai. Dibawa ke dokter gak ayah kamu?" tanya Bu Saodah.


Sambil melihat sayuran aku langsung melihat ke arah Bu Saodah.


"Sudah di periksa kok Bu sama dokter, sudah di perban juga!" jawab ku.


"Eh iya, tadi pagi sebelum kesini, aku tuh lihat ayah kamu duduk di atas kursi roda sambil ngobrol sama pak Irsyad, terus kata si Dudung semalem tuh ada rame mobil di depan rumah, kamu panggil dokter ke rumah Nai, itukan mahal. Kemarin aja tuh saudara saya sangking gak bisa ke rumah sakit karena keliyengan manggil dokter ke rumah abis 750 ribu, belum obatnya!" kata ibunya Dudung.


Dan setelah ibunya si Dudung bicara seperti itu, semua mata ibu-ibu melihat ke arah ku. Aku jadi salah tingkah dibuatnya.

__ADS_1


"Iya Bu, mas Sam yang panggil. Dokter itu temannya mas Sam!" jelas ku.


Ibu-ibu di sekitar ku langsung menunjukkan ekspresi keterkejutan mereka. Ada yang matanya melotot, ada yang mulutnya menganga dan ada yang terlihat sangat antusias.


"Ih kamu tuh beruntung banget sih Nai, udah ganteng, kaya, baik pula suami kamu. Ih ibu jadi iri!" celetuk Bu Saodah.


"Ih teh Saodah mah, teteh kan udah punya pak Prapto, kenapa malah itu atuh sama Naira!" sahut Bu Cece.


"Bukan gitu Bu Cece, saya itu ngiri sama nasibnya Naira. Dia kan cuma lulusan SMA, kerjanya di toko buku kecil. Tapi bisa kenal sama pria kaya, ganteng. Anak saya yang kuliah, kerja di bank. Malah nikah sama supir taksi online!" ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.


Aku jadi bingung harus bagaimana bereaksi, kalau aku tersenyum mungkin aku akan dikira menghina. Alhasil aku memilih diam dan mengumpulkan belanjaan ku di baskom yang sudah tersedia dan memberikan nya pada ibu pemilik warung sayur.


"Sabar Bu Saodah, biar supir taksi online juga kan. Dodi tuh punya mobil!" ucap Bu Pariah mengelus lengan Bu Saodah.


"Bener itu teh, lagian Nai kamu kenal dimana sih sama suami kamu itu? setahu ibu mah kamu gak pernah kan ya, jalan-jalan atau main-main ke mall gitu?" tanya ibunya Dudung.


"Ketemu di gerai ayam geprek tempat indah kerja Bu!" jawab ku terus terang.


Dan kembali mereka semua terkejut.


"Hah, kalau gitu mah. Mulai sekarang Nilam anak ibu, biar ibu suruh ke gerai ayam geprek itu sering-sering deh, siapa tahu ketemu pria kaya dan mapan kayak kamu Nai!" kekeh ibu Cece.


"Ah saya juga lah, mau main-main ke sana. Siapa tahu nanti anak saya yang masih SMA bisa kenalan sama orang kaya juga!" celetuk ibu-ibu yang lain.


Aku hanya mengernyitkan dahi ku, bisa-bisa nya mereka berharap seperti aku. Kalau saja aku boleh memilih, aku justru tidak ingin bertemu dengan Samuel waktu itu. Mereka tidak tahu kalau sebenarnya aku itu punya hutang pada Samuel setelah merusak mobilnya, jika tidak mana mungkin aku setuju menjadi istri kontrak nya.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2