
Di dalam mobil, ibu Stella bercerita banyak hal pada ku tentang anak sulungnya yang punya kebiasaan marah-marah dan kebiasaan memberikan aturan tambahan pada kontrak yang sudah jelas di tandatangani, eh tapi aku lupa, seperti nya hanya aku yang tanda tangan di atas materai waktu itu. Aku bahkan tidak tahu dia sudah tanda tangan atau belum, dan aku tidak tahu berapa banyak lagi aturan yang akan dia tambahkan dalam kontrak itu.
Ibu Stella duduk membelakangi Samuel, dapat aku lihat ekspresi wajah Samuel sangat sangat kesal dan kalau tidak ada ibu Stella di dalam mobil ini kurasa dia akan melampiaskan kekesalannya padaku atau pada Riksa.
"Apa Sam sudah menceritakan tentang Adam padamu?" tanya Stella.
Aku melirik ke spion depan, melihat ke arah Riksa. Aku melihat Riksa menganggukkan kepalanya. Dan aku tahu dia sedang memberikan isyarat agar aku mengatakan kalau aku mengenal nama yang disebutkan oleh Ibu Stella. Padahal aku tidak tahu siapa itu Adam.
Aku mengangguk, dan ibu Stella tersenyum senang.
"Syukurlah kalau Sam sudah cerita, kamu jangan terkejut ya kalau nanti kamu bertemu dengannya, dia memang sangat pendiam. Tapi percayalah Adam itu sangat baik dan tidak seperti kelihatan nya!" jelas ibu Stella.
Aku hanya tersenyum canggung, kelihatan nya orang yang bernama Adam ini adalah salah satu orang yang penting, mungkinkah dia adalah anggota keluarga mereka juga. Bodoh nya aku, kenapa aku belum membaca sama sekali kertas catatan yang diberikan oleh Riksa waktu itu.
"Sudah lah Bu, dari tadi ibu terus bicara padanya. Apa ibu sama sekali tidak merindukan aku?" tanya Samuel, dia terlihat tidak senang melihat kedekatan ku dengan ibunya.
Ibu Stella lantas membenarkan posisi duduknya dan menghadap ke arah Samuel.
"Memang kenapa ibu harus bicara padamu? kenapa tidak pernah membawa Naira ke rumah dari dulu. Dia bulan yang lalu kan kakek masih baik-baik saja, kalau kamu membawa Naira kerumah saat itu, setidaknya kakek akan melihat calon cucu menantu nya sebelum kalian menikah!" ucap ibu Stella yang malah marah pada Samuel.
Aku melihat Samuel hanya terdiam, dan aku melihat Riksa melihat ke arah ku. Aku bingung harus berbuat apa, tapi kurasa aku melihat sisi lain dari si lidah tajam itu. Dia benar-benar tidak membantah ibunya, aku rasa dia sangat menyayangi ibunya.
Aku jadi berfikir, kalau Samuel yang sangat menurut dan menyayangi ibunya ini sampai berbohong pada ibunya demi wanita bernama Caren itu, aku jadi sangat yakin kalau si lidah tajam ini benar-benar sangat mencintai wanita bernama Caren itu. Aku jadi penasaran, wanita seperti apa Caren itu sampai bisa membuat lelaki arogan dan menyebalkan seperti Samuel bucin padanya.
Tanpa terasa kami sudah ada di depan salon, dan begitu kami turun dari mobil. Ibu Stella langsung mengandeng ku masuk ke dalam salon. Di dalam salon, para pelayan sudah bersiap dan menyambut kedatangan kami. Seperti nya tempat ini sudah di reservasi sebelumnya. Dan seperti nya hanya kami saja datang kemari dan ada disini.
__ADS_1
Setelah masuk kedalam dan memilih perawatan apa yang akan kami lakukan, Samuel meminta ijin untuk bisa meninggalkan kami karena ada meeting penting di perusahaan nya.
"Apa kamu bilang?" tanya ibu Stella sambil berkacak pinggang di depan Samuel.
"Ibu, aku harus ke kantor. Ibu di temani Riksa saja ya, nanti setelah mengantarkan aku ke kantor. Pak Urip akan datang kemari menjemput ibu lagi!" jelas Samuel pada ibunya.
"Kenapa harus kamu yang kembali ke kantor? Riksa kemari!" ibu Stella memanggil Riksa yang berdiri sedikit jauh dari kami.
Aku melihat Riksa dengan cepat menghampiri ibu Stella, dia terlihat bersikap sangat sopan bahkan sedikit membungkuk kan badannya ketika menyapa ibu Stella.
"Iya Tante!" sahut Riksa sopan.
"Kamu yang pergi ke kantor, kamu yang menghadiri meeting itu. Sam akan disini menemani ibu dan calon istrinya!" tegas ibu Stella.
"Ibu ayolah, kalian akan sangat lama kan melakukan perawatan ini dan itu, lalu apa yang akan aku lakukan disini?" tanya Samuel menunjukkan ketidaknyamanan berada di tempat ini bersama kami.
"Pokoknya ibu tidak mau dengar alasan apapun, Riksa kamu bisa pergi. Dan minta pak Urip kemari setelah aku menelpon nya jika bukan aku yang menelpon, bilang padanya untuk jangan datang dulu!" perintah ibu pada Riksa.
Dan dengan cepat Riksa langsung keluar dari salon menuruti perintah ibu Stella.
"Ibu, ayolah!" keluh Samuel lagi.
"Sudah diam, sebaiknya kamu juga ikut kami pijat. Agar tubuh dan otak mu sedikit rileks!" seru ibu Stella. Dan kami pun mulai melakukan berbagai macam perawatan tubuh, rambut bahkan kuku tangan dan kaki kami.
Aku bahkan sampai ketiduran saat di lulur dan di pijat tadi, aku juga berendam di bathtub yang sudah terisi dengan air yang wanginya sangat harum dan ketika berada di dalamnya, rasanya sungguh menenangkan pikiran dan ketika selesai melakukan serangkaian perawatan ini, aku merasa tubuh ku sangat ringan, kulit ku jadi lebih halus dan bercahaya juga baunya sangat harum. Rambut ku sangat lembut, dan kuku ku terlihat cantik.
__ADS_1
'Ternyata punya banyak uang itu sangat menyenangkan. Wah, aku baru pertama kali ini pergi ke salon, aku jadi tahu kenapa ibu-ibu arisan RW itu selalu senang sekali ke salon. Ternyata memang sangat menyenangkan!' batin ku.
Saat kami keluar dari ruangan treatment, ternyata suasana di luar itu terlihat sudah sangat terik. Aku bisa melihatnya dari sebagian dinding salon yang terbuat dari kaca. Ketika aku melihat ke arah jam di dinding salon, aku terkejut ternyata kami sudah empat jam di tempat ini.
'Empat jam, tapi tidak terasa. Ini luar biasa!' batin ku lagi.
"Sayang, sudah selesai?" tanya ibu Stella yang juga baru keluar dari ruangan satunya lagi.
Aku mengangguk kan kepalanya dengan cepat.
"Iya ibu, sudah." jawab ku sopan.
"Sam!" panggil ibu Stella pada Samuel yang sedang menunggu sambil duduk dan bermain ponsel di sebuah sofa di rumah tunggu.
Samuel segera meletakkan ponselnya dan menghampiri ibu Stella. Dia langsung ke meja kasir, dan bertanya pada petugas kasir berapa semua biaya treatment yang aku dan ibu Stella lakukan.
"Ini tuan, silahkan di cek. Semuanya jadi 76 juta rupiah!" ucap kasir salon itu.
Jika saja ini film kartun, mungkin rahang ku benar-benar akan tergambar jatuh. Aku terkejut bukan main, aku jadi mengurungkan pikiran ku yang tadinya akan sesekali pergi ke salon dan melakukan treatment ini lagi.
Biaya sebanyak itu, hanya untuk empat jam treatment, meskipun ku akui hasilnya luar biasa. Tapi kurasa aku akan berfikir dua, tiga, sampai empat kali untuk melakukan nya.
***
Bersambung...
__ADS_1