Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
96


__ADS_3

Aku kembali ke dapur bersama dengan biji Merry dan nasi goreng pun sudah siap di atas meja, tak lama Samuel datang dan duduk di kursinya.


Dia mulai menyantap nasi goreng itu, tapi setelah makanan itu masuk ke dalam mulutnya dia terlihat berfikir.


"Kalian semua pergilah!" ucap nya dengan nada dingin.


Kami semua berbalIk dan hendak pergi dari sana setelah terlebih dahulu para pelayan dan juga pak Ranu dan bibi Merry menunduk hormat pada Samuel.


"Naira, tetap disini!" serunya dan membuat ku menghentikan langkah ku.


Semua orang terlihat melihat ke arah ku sekilas sebelum akhirnya keluar dari ruang makan.


"Duduk!" serunya lagi.


Aku menarik kursi yang ada di dekat nya dan duduk di sana.


"Siapa yang memasak makanan ini?" tanya Samuel.


"Maaf mas, tadi itu...!"


"Aku hanya memintamu membuat kan sarapan untuk ku dan hal sekecil itu pun kamu tidak mampu?" tanya nya dengan nada kesal.


Aku hanya menunduk dan tidak berani bersuara. Dia membanting sendok yang dia pegang di atas piring. Dan itu makin membuat ku bergidik ngeri.


"Apa kamu merasa sudah benar-benar menjadi nyonya, jadi kamu bisa bebas meminta pelayan untuk menggantikan pekerjaan mu?" tanya nya lagi masih dengan aura yang sama, suram.


"Jawab!" bentak nya hingga membuat ku hampir berjingkat dari atas kursi yang sedang aku duduki.


Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat, tapi suara ku tidak mau keluar meski aku berusaha untuk mengeluarkan nya.


"Maaf tuan muda, maaf kalau bibi lancang sudah ikut campur. Tapi bibi mau menjelaskan kalau tadi nyonya muda sudah mau membuatkan nasi goreng tapi jarinya tidak sengaja teriris pisau!" jelas bibi Merry yang langsung masuk ke ruang makan dan bicara dengan cepat untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


Bibi Merry seperti nya sudah sangat mengerti tabiat Samuel, hingga tanpa memberi kesempatan bagi Samuel untuk menyela kalimat nya, bibi Merry terus menjelaskan intinya pada Samuel.


Samuel nampak diam, tapi wajahnya masih suram.


"Mana yang terluka?" tanya Samuel setelah terdiam beberapa detik.


Aku melihat ke arah bibi Merry, dan dia mengangguk pelan. Aku mengangkat jari telunjuk tangan kiri ku yang sudah di perban dan di plester oleh bibi Merry tadi.

__ADS_1


Samuel malah mendengus kesal melihatnya.


"Dasar ceroboh!" omelnya dan langsung berdiri dan meninggalkan ruang makan.


Bibi Merry segera mendekati ku, dan menepuk bahu ku perlahan.


"Jangan dimasukkan ke dalam hati, seorang suami yang masih mau menegur istrinya itu tandanya dia sangat menyayangi istrinya!" ucap bibi Merry yang sepertinya mencoba untuk menghiburku, dan aku hanya tersenyum tipis pada bibi Merry.


***


Setelah mandi dan membongkar isi lemari ku, aku tidak bisa menemukan satu pakaian pun yang rasanya pantas untuk di gunakan pergi ke kantor seperti yang di gunakan oleh Dina dan Wika waktu itu.


Aku kembali terdiam dan memandang isi lemari, kalau aku pakai celana panjang dan kemeja saja apakah Samuel akan marah. Aku menghela nafasku panjang.


Aku meraih ponsel ku dan menghubungi Samuel.


Tut... Tut...


Suara ponsel yang terhubung membuat ku bernafas lega, setidaknya dia tidak sedang bicara dengan siapapun, karena jika itu terjadi mungkin saja dia akan marah karena aku mengganggu nya.


"Ada apa?" tanya nya dengan nada dingin.


Aku menelan saliva ku dengan susah payah,


"Mas, kamu dimana?" tanya ku cepat, aku sedikit gugup karena aku tidak menjawab pertanyaannya dan malah bertanya lagi padanya.


"Di ruang kerja ku, kenapa?" tanya nya lagi.


"Mas, apa boleh kalau aku pakai kemeja dan celana panjang saja!" tanya ku hati-hati.


"Memang kamu ini anak SMA yang mau MOS apa? pakailah pakaian yang benar, jangan membuat ku malu!" aku menjauhkan ponsel dari telinga ku.


'Apa harus berteriak seperti itu?' batin ku tak habis pikir.


"Mas, aku tidak punya pakaian yang cocok!" jawab ku jujur.


Tut...


Suara panggilan yang terputus sepihak. Aku mengernyitkan dahi ku dan memandang ke arah layar ponsel.

__ADS_1


"Astaga, dia main putus aja panggilan nya!" gumam ku sambil menggaruk kepala ku yang tiba-tiba gatal.


Aku duduk di tepi kasur dan memandang ke arah lemari yang terbuka.


"Ck... sudahlah, dengarkan saja kalau dia mau marah-marah nanti!" gumam ku sudah pasrah.


Ceklek


Aku menoleh ke arah pintu yang terbuka, Samuel masuk dengan cepat, aku segera berdiri dan menghadap ke arahnya.


"Aku ada meeting penting. Nanti Riksa akan menjemput mu dan membawakan mu pakaian kerja!" jelasnya padaku.


Dia mendekati ku dan menatap ku dengan tatapan aneh.


"Pakailah sedikit riasan, mengerti!" serunya dan langsung berbalik dan meninggalkan aku yang masih diam di tempat ku.


Beberapa menit kemudian, Riksa datang dan membawakan satu buah paper bag dengan merek yang terkenal. Tanpa basa-basi aku langsung mengambil bungkusan itu dari Riksa lalu kembali ke kamar untuk berganti pakaian, seperti pesan Samuel aku memakai sedikit riasan hanya bedak dan lipstik, juga membentuk sedikit alis dengan pensil alis. Setelah itu aku keluar dengan tas dan sepatu yang pernah di hadiahkan oleh Puspa padaku.


"Ternyata benar-benar sangat berguna, saat bertemu dengan Puspa nanti aku akan mengucapkan terimakasih sekali lagi padanya!" gumam ku sambil berjalan menemui Riksa.


"Aku sudah siap!" ucap ku ketika sudah berada di ruang tamu.


Riksa menoleh, dan dia langsung berdiri. Dia diam tapi matanya melihat ke arah ku dan memperhatikan aku dari ujung kepala sampai ujung kaki membuat ku mengernyitkan dahi.


"Ada apa? apa terlihat aneh?" tanya ku penasaran. Kalau menurut Riksa aneh apalagi menurut Samuel.


Tapi kemudian Riksa melambaikan satu tangannya dengan cepat.


"Tidak, tidak ada yang aneh. Terlihat sangat bagus! ayo berangkat. Bos pasti senang melihat mu seperti ini!" ucap Riksa membuat ku menghela nafas lega.


Kami pun berangkat, Riksa yang menyetir mobil karena kami menggunakan mobil milik Riksa. Beberapa menit setelah keluar dari pintu gerbang, kami berdua sama-sama terdiam.


"Bagaimana hubungan mu dengan bos?" tanya Riksa memulai obrolan dan memecahkan suasana hening yang dari tadi tercipta di antara kami.


"Baik!" jawab ku singkat.


"Aku senang mendengarnya, apa dia masih bersikap seenaknya padamu?" tanya Riksa lagi.


Aku diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Riksa. Aku tahu aku pernah sangat sedih bahkan memeluknya dan mengadu padanya tentang apa yang di lakukan Samuel padaku dulu, tapi itu dulu sebelum kami menikah. Dan setelah kami menikah aku rasa ada hal yang tidak perlu di beritahu kan pada orang lain meskipun dia adalah seorang teman.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2