Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
288


__ADS_3

Samuel saat ini sedang berada di bandara, Dika asisten pribadi Riksa juga sudah membawa Riksa ke bandara dengan mobil ambulance.


"Seharusnya kamu di rawat dulu di rumah sakit, kenapa memaksa ikut saat berdiri saja kamu tidak kuat!" ucap Samuel pada Riksa.


Perkataan Samuel itu tidak di tanggapi serius oleh Riksa, dia bahkan nyaris tak mendengarkannya. Tapi apa yang dikatakan Samuel itu membuat Dika, Eka, dan anak buah Samuel yang lain merasa kalau ucapan Samuel itu terlalu kasar jika di tujukan pada Riksa yang masih terbaring tak berdaya di ranjang dorong nya. Tapi meski merasa iba pada Riksa, mereka juga tidak berani mengeluarkan sepatah katapun. Hanya saling pandang dan menghela nafas saja yang bisa mereka lakukan.


Semua orang sudah membantu membawa Riksa masuk ke dalam pesawat pribadi milik Damar, semua sudah siap. Dan mereka pun segera lepas landas meninggalkan negara ini menuju ke Jerman.


Di dalam pesawat, Samuel masih terus memantau kondisi Riksa yang terus di cek juga oleh dokter yang sengaja Samuel sewa dari rumah sakit untuk menemaninya dan juga dua orang perawat yang merupakan asisten dari dokter Hilman.


"Bagaimana kondisinya dokter?" tanya Samuel dengan nada cuek tapi sebenarnya dia sangat mencemaskan kondisi Riksa.


Apalagi penerbangan yang akan mereka tempuh juga tidak singkat, hampir lima belas jam mereka akan berada di udara. Dan hal itu juga pasti akan membuat Riksa merasa kurang nyaman. Masalahnya dia sama sekali tidak mau di beri obat bius, padahal penerbangan masih lama.


"Akan lebih baik kalau tuan Riksa mau istirahat dengan baik, tapi semua masih normal. Sistem kekebalan tubuh tuan Riksa sangat baik, ini sangat membantu!" jawab dokter Hilman.


Samuel yang awalnya mengawasi Riksa dengan posisi berdiri, kini dia duduk di sebelah tempat tidur Riksa yang khusus di siapkan oleh Samuel.


"Dengar, kita akan terbang selama lima belas jam. Tidurlah, saat kita akan mendarat nanti, aku akan membangunkan mu!" ucap Samuel membuat Riksa mulai memejamkan matanya secara perlahan.


Riksa mulai tertidur, dan saat itulah Samuel minta pada dokter Hilman untuk menyuntiknya dengan obat bius. Setelah itu barulah selang infus di pasang di tangan kiri Riksa.

__ADS_1


Dari kejauhan, Dika yang tidak sengaja melihat semua itu akhirnya paham. Kalau sebenarnya Samuel sangat perduli dan menyayangi Riksa seperti adik kandungnya sendiri, hanya saja Samuel punya cara berbeda menunjukkan perhatian dan kasih sayang nya itu.


Sementara itu di kediaman Virendra. Setelah makan malam, Adam dan Vina pun kembali ke kamar mereka. Vina yang sudah mulai gemas pada Adam pun mendekati pria yang tengah duduk bersandar di tempat tidur nya itu. Vina tidak mau kalau sampai malam ini dia harus kembali tidur di sofa.


"Hei, apa kamu tidak lelah berakting menjadi orang lumpuh seperti itu?" tanya Vina dengan pandangan mata sedikit menyipit ke arah Adam.


Adam yang tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Vina, langsung menatap wanita yang statusnya adalah istri sah nya itu dengan tatapan yang begitu tajam, nyaris bisa merobek apapun yang di tatapnya.


"Apa katamu? siapa yang lumpuh?" tanya Adam yang jelas tak terima dengan apa yang dikatakan oleh Vina.


"Lalu apa yang kamu lakukan? berpura-pura amnesia, berpura-pura tidak bisa berjalan. Siapa yang kamu harap akan kasihan melihat mu seperti itu?" tanya Vina yang sebenarnya hanya asal bicara saja.


Vina yang melihat Adam terdiam dengan tatapan mata yang semakin tajam padanya mengerti kalau apa yang dia katakan benar, padahal dia cuma asal bicara saja. Vina malah terkekeh mengetahui kalau suaminya itu sebenarnya ingin menarik perhatian seseorang.


"Sayangnya cara yang kamu gunakan ini sangat kuno, wanita modern tidak akan pernah tertarik pada pria lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa, wanita modern tidak akan mau menghabiskan hidupnya dengan pria yang tidak punya masa depan.."


Bugh


Dan belum selesai Vina dengan penjelasan nya, Adam sudah melemparkan sebuah bantal ke arahnya.


"Keluar kamu dari kamar ku!" seru Adam dengan mata yang sudah merah karena marah.

__ADS_1


"Kenapa? kamu tersinggung? apa yang aku katakan tadi benar kan? coba kamu pikir lagi, mana ada wanita yang mau menyia-nyiakan hidupnya mengurus lelaki pengangguran yang bahkan tidak bisa berjalan dan mengingat siapa dirinya sendiri, hanya wanita bodoh yang mau melakukan semua itu!" ucap Vina dan kali ini dia bicara dengan wajah yang sedikit garang.


Vina juga kesal karena selama beberapa hari tinggal di kediaman Virendra. Adam memperlakukannya dengan sangat tidak baik. Dia masih bisa bersabar karena merasa kasian pada kondisi Adam yang baru pulih dari kecelakaan, tapi semakin lama kesabaran nya juga semakin menipis.


"Aku bilang keluar dari kamar ku?" teriak Adam.


"Teriak saja, dan panggil semua orang yang ada di rumah ini. Lalu aku akan katakan pada semua orang yang ada disini kalau kamu cuma pura-pura amnesia, kalau sebenarnya kamu itu ingat segalanya dan sama sekali tidak ada luka yang berarti hingga membuat mu tidak bisa berjalan! ayo teriak... kenapa diam?" tanya Vina yang mulai menekan Adam.


Mendengar semua gertakan Vina, Adam malah tersenyum miring.


"Kamu pikir, semua keluarga ku akan percaya padamu. Kamu pikir mereka akan lebih percaya pada orang yang baru masuk ke keluarga ini seperti mu di banding aku? mimpi saja kamu!" seru Adam yang menganggap kalau apapun yang dikatakan oleh Vina nanti semua anggota keluarganya tidak akan ada yang percaya.


"Aku bisa tahu kalau kamu pura-pura amnesia, apa kamu kita aku selugu itu? Saat kamu datang dan bicara dengan ku, aku sudah merekamnya. Dan rekaman saat kamu datang, dan kita bicara waktu itu ada padaku dan sudah ku simpan dengan baik!" jelas Vina yang mengatakan hal yang sebenarnya. Dia memang sudah merekam pembicaraan nya waktu itu dengan Adam untuk berjaga-jaga.


"Apa mau mu?" tanya Adam yang sudah mulai terlihat panik. Dia juga tidak mau kalau sampai keluarganya tahu dan semakin membencinya, apalagi Puspa tahu, maka wanita itu akan semakin jauh saja darinya.


"Mudah saja, tunjukkan pada keluargamu. Kalau kamu punya niat untuk sembuh, berusahalah berakting dengan baik seolah kamu benar-benar ingin bisa berjalan, tiga hari lagi kamu harus sudah bisa berjalan, dan ikut dengan ku ke kantor ayahku, bekerja disana dan bantu aku mengambil alih semua saham yang ada di tangan Jodi dan Caren!" jelas Vina panjang lebar membuat Adam tahu apa sebenarnya tujuan Vina menikah dengan dirinya.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2