
'Huh, salah lagi!' batin ku
Tapi aku tidak mengeluh di hadapan si lidah tajam ini, kurasa dia memang sengaja mengerjai ku. Aku langsung beralih dari lemari ku, dan aku membuka lemari Samuel.
Aku ambil satu setel lagi dengan celana hitam dan juga kemeja berwarna merah.
"Bagaimana kalau yang ini tuan?" tanya ku masih dalam mode yang sangat ramah dan sopan.
Dia melirik dengan sebelah alisnya terangkat melihat ke arah pakaian yang aku pegang.
"Merah?" tanya nya dengan nada yang tidak suka.
"Tidak, nanti aku di seruduk banteng!" katanya asal lalu memilih mendekati meja rias dan meraih sisir untuk menyisir rambutnya.
Aku mengerutkan keningnya dan menatap kemeja yang aku pegang dengan tangan kanan ku.
'Di seruduk banteng, heh dia pikir dia tinggal dimana? peternakan? siapa yang punya dan memelihara banteng di kota seperti ini. Memang dia kira kita tinggal di Brazil apa? mana ada banteng, kerbau saja jarang!' omel ku dalam hati sambil meletakkan kembali kedalam lemari.
Aku kembali melihat kemeja untuknya, lalu kenapa dia membeli nya kalau tidak mau di pakai. Pilihan ku jatuh pada kemeja yang berwarna hitam di depan ku. Aku mengambilnya dan menghampiri Samuel yang sedang bergaya di depan cermin seperti sedang mengagumi wajahnya sendiri.
"Tuan, bagaimana kalau yang ini?" tanya ku lagi sambil tersenyum dan menunjukkan kemeja yang aku pilih. Terus terang saja aku memang kurang paham dalam mix and match pakaian atau apapun itu. Aku lebih suka yang simpel dan tidak ribet di pakai.
Dia menoleh dan menghela nafasnya. Seperti nya dia tidak suka juga dengan pilihan ku kali ini.
"Apa aku bilang mau pergi ke pemakaman?" tanya nya dengan wajah yang mulai jengah.
Aku menggeleng kan kepala ku perlahan dan memeluk kemeja yang aku pegang.
'Kalau salah terus kenapa tidak ambil sendiri, pilih sendiri yang mana? atau beritahu aku mau yang warna apa dan yang modelnya bagaimana?' keluh ku dalam hati.
Samuel lalu berjalan maju, dia menabrak lengan ku dengan kuat, sepertinya dia sengaja melakukan itu. Dia mengambil satu buah kaos berkerah dan celana jeans pendek.
"Dasar bodoh!" ucap nya lagi-lagi menghina ku dengan tatapan yang sungguh meremehkan aku.
Saat dia masuk kembali ke dalam kamar mandi aku hanya bisa duduk di tepi ranjang dan berfikir.
"Sepertinya dia benar, aku memang bodoh dan tak tahu apa-apa tentang suamiku. Aku harus membaca kertas itu sekali lagi!" gumam ku lalu membongkar kembali isi tas ku.
Aku mencari kertas yang dulu di berikan Riksa padaku. Tentang apa saja yang disukai dan tidak di sukai Samuel. Aku benar-benar harus mempelajari dan mengingatnya dengan baik. Bukan untuk disukai oleh Samuel tapi aku melakukan itu untuk diriku sendiri, agar dia tidak memaki dan menghina ku terus menerus.
Aku sedang membaca semua kertas itu ketika Samuel sudah keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Hei, apa yang kamu lakukan? buatkan aku sarapan!" seru Samuel dan aku segera menyimpan kertas yang aku baca dan kembali masukkan ke dalam tas.
"Baik tuan!" ucap ku cepat dan langsung berjalan menuju pintu keluar.
Tapi baru juga aku memegang handel pintu, dia kembali berteriak memanggil ku dengan seenaknya lidahnya berucap.
"Heh, kamu mau kemana?" tanya nya lagi dengan nada yang tinggi.
Aku menghela nafas, berbalik dan tersenyum.
"Tuan, aku mau ke dapur dan membuatkan tuan sarapan!" jawabku singkat padat dan jelas.
"Heh, kamu belum mandi. Aku tidak mau makan makanan yang dimasak oleh seseorang yang badannya bau keringat apalagi dia belum mandi!" seru Samuel lagi.
Aku hanya bisa menghela nafas ku pelan.
"Baik tuan saya akan mandi dulu!" ucap ku dan berjalan menuju ke arah kamar mandi.
"Jangan lama-lama, bawa sarapan ku ke taman di samping!" serunya lagi.
Aku kembali mengangguk paham.
"Baik tuan!" ucap ku.
Sebenarnya pria itu cukup baik, awalnya aku mengira kalau dia akan memperlakukan aku benar-benar seperti seorang pelayan, tapi ternyata tidak juga. Dia bahkan memperbolehkan aku tidur di atas ranjang. Semalam itu jujur saja aku sempat berfikir dia akan menyuruhku tidur di lantai karena tidak ada sofa di dalam kamar. Tapi di luar dugaan dia malah mau berbagi tempat tidur dengan ku.
Dok dok dok
"Hei perempuan ceroboh! kamu masih hidup atau sudah mati?" teriak Samuel dari luar pintu kamar mandi.
Astaga, aku baru memuji pria itu dan mengatakan kalau dia itu baik. Baiklah, aku ralat kata-kata ku tadi tentangnya.
Aku segera membilas diriku, dan memakai bathrobe, baru setelah itu aku membuka pintu kamar mandi.
"I..iya tuan!" ucap ku gugup.
"Ck.. aku menyuruh mu mandi, bukan bersantai. Mulai besok kamu tidak boleh pakai bathub, pakai saja shower, dan kamu mandi tidak boleh lebih dari lima menit. Ganti pakaian dan segera buatkan sarapan!' serunya lalu keluar dari dalam kamar.
Aku terdiam mematung di tempat ku. Aku benar-benar menyesal telah memujinya. Lima menit untuk mandi, membuka pakaian dan sikat gigi saja butuh waktu lebih dari itu. Aku hanya menggeleng kan kepala dan menghela nafas ku.
Setelah berganti pakaian, aku pun segera menuju ke arah dapur. Disana sudah ada pak Ranu dan bibi Merry.
__ADS_1
"Selamat pagi nona Naira!" sapa pak Ranu dan bibi Merry dengan ramah sambil tersenyum.
Dia memang sangat baik dan ramah, sejak awal bertemu dia terlihat tersenyum tulus padaku.
"Selamat pagi pak, selamat pagi bibi Merry!" jawab ku tak kalah ramah.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya salah seorang pelayan lain.
"Aku mau buatkan sarapan untuk tuan Samuel!" jawab ku.
"Kami sudah siapkan nona, tuan Samuel tidak suka sarapan yang berat. Biasanya hanya seperti ini!" jelas Pak Ranu sambil memperlihatkan sebuah piring yang sudah berisi dua roti panggang yang di tengahnya seperti ada telur ceplok dan daging iris.
Aku ingat kalau Samuel itu tidak suka sayuran, jadi kurasa aku bisa membawakan ini untuknya.
"Em, bolehkah aku bawakan ini untuknya?" tanya ku pada pak Ranu.
Dan pak Ranu pun tersenyum mendengar apa yang ku tanyakan padanya.
"Nona, kenapa bertanya seperti itu. Tentu saja boleh, kami menyiapkan semua ini untuk nona dan tuan!" jelasnya.
"Terimakasih, kalau begitu aku akan bawa sarapan ini padanya!" sahut ku dan mengangkat nampan yang berisi dua piring sarapan dan dua cangkir teh.
"Aku bantu nona!" seru bi Merry menawarkan bantuannya.
"Ada yang ingin kutanyakan pada Nina!" lanjutnya lagi sambil meraih nampan yang aku pegang tapi dengan berbisik.
Aku menoleh, melihat ke arah bibi Merry yang mengajakku segera berjalan meninggalkan dapur. Aku jadi penasaran kenapa bibi Merry mengatakan itu sambil berbisik, seolah tak ingin orang lain tahu apa yang ingin dikatakan oleh bibi Merry padaku.
Kami sudah hampir sampai area rumah tengah, dan setelah pintu itu maka kami akan sampai di taman. Tapi bibi Merry belum mengatakan satu kalimat pun.
"Bibi, ada apa sebenarnya?" tanya ku penasaran.
Setelah mendengar pertanyaan dariku, dia menghentikan langkahnya dan berbalik. Aku pun melakukan hal yang sama seperti yang bibi Merry lakukan.
"Apa kalian tidur di ranjang yang sama?" tanya bibi Merry.
Blush
Kurasa pipi ku memerah saat ini, kenapa bibi Merry menanyakan hal itu.
"Nona, ini adalah perintah nyonya Stella. Jika tuan Samuel bersikap tidak baik pada nona, dan tidak memberikan hak nona Naira sebagai istrinya maka nona harus mengatakannya pada saya!" jelas bibi Merry memasang wajah serius.
__ADS_1
***
Bersambung...