Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Beban


__ADS_3

Nando menaiki lift untuk segera ke apartment miliknya. Dia lelah sekali dia ingin istirahat secepetnya untuk memulihkan pikirannya.


Menunggu Lea dengan dua jam lamanya membuat kepalanya pusing, pikirannya kacau saking gabutnya dia ingin melakukan apa di tempat taman bermain tersebut.


Satu bungkus lebih rokok dia habiskan jika dia pusing. Yah, tentunya saja dia pusing menunggu Lea di taman bermain. Dia seperti seorang ayah untuk Lea menunggu anak itu di taman bermain sampai kelar bermain.


Pintu lift terbuka dia langsung berjalan menuju pintu apartemen miliknya. Dia menekan Sederetan angkah untuk segera masuk kedalam apartemen.


Pintu apartment Nando terbuka.


Nando mematung saat melihat Rifal tengah berada di depan pintu sembari bersedekap dada dengan wajah garangnya menatap Nando dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Fal," gumam Nando.


"Awkh!" Tiba-tiba saja Nando berekting memegang perutnya.


"Maaf Fal, badan saya mules," kata Nando dengan sedikit menunduk melewati Rifal dengan masih setia memegang perutnya layaknya orang yang sakit perut sungguh-sungguh.


Nando melewati Rifal, namun Rifal berhasil menarik baju pria itu sehingga dia berhenti berjalan.


"Sejak kapan badan mules?" tanya Rifal dengan santai membuat Nando meneguk salivanya susah payah. Dia terlalu bodoh hanya memikirkan sesuatu penyakit saja dia tidak becus seperti ini.


Nando membalikkan badannya sehingga dia kembali bertatapan dengan Rifal. Rifal kembali bersedekap dadah.


"Sejak kapan lo pandai berbohong, Fernando?" tanya Rifal lagi dengan menyebutkan nama asli Nando membuat pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Dan sejak kapan ada penyakit namanya badan mules?" tanya Rifal lagi. "Tapi, yang lo pegang perut lo itu," lanjutnya membuat Nando langsung melepaskan tanganya yang memegang perutnya.


"Maksud saya, badan saya semuanya lemes," kata Nando membuat Rifal manggut-manggut.


"Sejak kapan lo pandai bohongin bos lo sendiri, Fernando," Rifal bertanya dengan santai.


"Sejak kenal tetangga gesrek kamu," balas Nando membuat Rifal menyeritkan alisnya.


"Maksud lo, Lea?"


Perkataan Rifal sukses membuat Nando menutup mulutnya sendiri membuat Rifal tersenyum jenaka.

__ADS_1


"Badan lo atau perut lo yang sakit?" tanya Rifal berjalan mengelilingi Nando yang terdiam.


"Badan saya yang lemas," kata Nando pura-pura lesuh membuat Rifal manggut-manggut.


"Valen," panggil Rifal sehingga Valen langsung muncul dengan membawa suntik membuat Nando meneguk salivanya susah payah.


Nando melirik Rifal yang tengah meliriknya. "Agar tubuh loh nggak lemas," kata Rifal. Dia sangat tau jika asistennya itu sangat tidak mau jika disuntik. Entahlah, dia sangat takut dengan jarum suntik.


"Nggak usah deh, Fal," tolak Nando. "Badan saya lemas cuman kekurangan belain kasih sayang dengan wanita," lanjutnya membuat Valen ingin memecahkan tawanya juga.


Namun melihat tatapan mengerikan dari Rifal membuat Niat Valen terurung. Karna sekarang dia sedang menjalankan tugas dari suaminya itu.


Rifal juga ingin tertawa dengan apa yang dikatakan oleh Nando tadi, namun membuat Rifal harus menahan tawanya..


"Valen," intruksi Rifal sehingga Valen berjalan mendekati Nando dengan jarum suntik nya.


Membuat Nando menggelengkan kepalanya melihat Valen berjalan kearahnya. Dia memundurkan langkahnya guna untuk menghindari suntikan dari Valen.


"Jangan!" wajah Nando memerah ketakukan melihat jarum di tangan Valen membuat Rifal tersenyum simpul melihat Nando.


"Fal, jangan gila deh. Kamu kan tau saya tidak ingin berurusan dengan benda macam tuh," tunjuk Nando.


"Jangan mendekat!" kata Nando naik diatas kursi membuat Valen ingin tertawa melihat tingkah Nando.


"Nggak sakit kok, lebih sakit lagi kalau lo nyakitin perempuan," kata Valen tanpa maksud apa-apa membuat Rifal terenyah.


"Lebih baik saya disakitin dengan wanita, daripada disakiti dengan benda macam tuh," kata Nando.


"Jangan dong, ini benda kesayangan gue sebagai dokter," kata Valen melihat jarum suntik kesayangannya.


"Saya nggak peduli. Saya mohon jangan sentuh kan kulit saya pada suntikan itu," kata Nando lagi.


"Gimana, Fal?" tanya Valen pura-pura minta saran dari Rifal.


Rifal juga maju membuat Nando menggelengkan kepalanya dan jangan lupa pula wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus saja.


"Nah, tangkap!" seruh Rifal memegang kedua tangan Nando dengan kuat membuat Nando berusaha melepaskan tangannya dari Rifal.

__ADS_1


"Saya minta maaf, Fal. Lain kali saya nggak bakalan bohongin kamu. Tapi saya minta tolong jangan dekatkan benda macam tuh sama kulit saya. Kamu sudah tau kan lebih baik saya minum obat banyak dari pada benda macam tuh!" kata Nando membuat Rifal pura-pura tidak mendengar perkataan pria itu.


"Gue suntik yah," kata Valen pura-pura menusuk jarum tersebut pada lengan Nando.


Namun Rifal menyiku tangan Valen sedikit sehingga jarum tersebut benar-benar Tertancap pada lengan milik Nando. Membuat Valen dan Rifal saling bertatapan melihat tatapan Nando yang sudah sayuh.


"Len," panggil Rifal dengan suara palanya sembari memegang tubuh tegak milik Nando yang sudah lemas, atau lebih tepatnya lagi dia tengah tertidur.


"Benar-benar ter suntik, Fal," kata Valen melepaskan jarum tesebut.


"Asisten kamu gendong ke kamar dulu," kata Valen pergi lebih dulu membuat Rifal menarik hidung Nando.


Dia ingin memberikan pelajaran pada Nando namun dia juga yang direpotkan oleh asistennya itu.


Dengan rasa penuh kekesalan, Nando langsung menggendong tubuh milik Nando naik keatas lantai dua untuk ke kamarnya.


Rifal langsung membaringkan tubuh milik Nando diatas tempat tidurnya yang dipenuhi dengan foto-foto wanita cantik dan sexy yang berbeda-beda.


Rifal melirik meja kerja milik Nando, diatas mejanya terdapat laptop dan juga berkas kantor.


"Kamu sih, Fal. Nyenggol lengan aku. Jadinya tertusuk beneran kan," kata Valen.


Rifal yang tengah fokus melihat meja kerja Nando langsung melirik kearah Valen .


"Kok aku?" tanya Rifal tanpa beban. Akhir-akhir ini segala sesuatu selalu ditimpalkan kepadanya oleh Valen.


"Kan kamu nyenggol tangan aku. jadinya ke suntik beneran kan," kata Valen membuat Rifal membenarkan perkataan Valen.


"Iya, kamu benar." kata Rifal. "Obat apa yang buat dia pingsan kayak gini?" tanya Rifal.


"Didalam suntikan tadi ada obat bius. Besok pagi Nando baru bangun," kata Valen.


"Yaudah, kita tinggalin aja," kata Rifal.


"Nggak bisa gitu. Kamu yang salah harus tanggung jawab. Kamu temenin Nando disini sampai besok. Aku yakin ada efek yang dirasakan oleh Nando. Soalnya badanya lemes banget," kata Valen membuat Rifal benar-benar sial menunggu kedatangan Nando. Padahal niatnya hanya memberikan pelajaran pada pria itu saja.


Rifal dan Valen saling bertatapan, tatapan Rifal membuat Valen tak gentar untuk menyuruh pria itu untuk menunggu sampai Nando sadar.

__ADS_1


"Aku bakalan nemenin dia sampai besok. Kalau kamu ada."


__ADS_2