
Tidak butuh waktu lama, Valen datang membawa nampan berisi susu atas permintaan Rifal. Dia membawanya dimeja makan dengan Rifal sedang memainkan handponenya.
"Nih, susunya," kata Valen meletakkan susunnya diatas meja sehingga Rifal mendongakkan kepalanya melihat Valen.
Valen melirik jam dipergelangan tangannya, pagi ini dia tugaskan bersama dengan dokter Nathan memeriksa kondisi pasien. Karna dokter yang menjaganya sedang sakit sehingga tugas ini diberikan kepada Valen dan juga Nathan.
"Fal, Gue duluan, Yah. Soalnya gue jadwal pagi," pamit Valen membuat Rifal memasang wajah datarnya. Dia pikir dengan dirinya berbicara seperti tadi membuat Valen mengikuti. Namun ternyata dia salah, Valen masih menggunakan kata-kata yang itu-itu saja.
Mengapa Rifal mengambil pusing? Itu yang dalam benak Rifal.
"Fal..." Valen memangil Rifal karna belum ada jawaban dari pri itu.
"Em.... Baiklah." Rifal mengerutuki dirinya yang berbicara seperti kehabisan bahan kata-kata saja.
Valen menyeritkan alisnya, kata-kata yang dikeluarkan oleh Rifal pagi ini sangat berbeda dari hari-hari yang lain.
"Gue duluan," pamit Valen mengambil tasnya berwarna hitam lalu melenggang pergi meninggalkan Rifal yang memandangnya.
"Valen!"
Langkah kaki Valen terhenti saat Rifal memanggil namanya. Valen membalikkan badannya melihat Rifal beranjak dari kursi makan yang dia duduki.
"Apa kau tidak ingin salim sebelum berangkat kerja.....Dengan suami mu."
Deg
Jantung Valen berdetak kencang, bagaimana bisa Rifal mengatakan kata seperti itu kepada dirinya.
"Fal..."
"Mau atau tidak."
Mereka berdua saling bertatapan dengan hati-hati Rifal menerawang. Bagaimana jika Valen menolak itu akan membuat dirinya merasakan malu.
Kalau sampai Valen nolak, awas aja lo El!
Valen menatap tangan Rifal lalu kembali menatap wajah Rifal yang terlalu serius.
"Ma-u." Valen sampai mengucapkan kata mau dengan terbata-bata. Saking tidak taunya dia dengan keadaan ini.
Rifal menyungkirkan senyum tipisnya, lalu beberapa detik dia kembali memasang wajah datarnya. Pagi ini dia tidak malu, andai saja hal itu terjadi sudah dipastikan Rifal pagi ini tidak berangkat bekerja untuk menghajar Elgara.
Rifal mengangkat tangannya dengan kaku Valen mengambil tangan Rifal. Ini pertama kalinya Valen lakukan kepada Rifal membuat sesuatu berbeda dari dalam dirinya.
Setelah menyalami tangan Rifal, Valen menatap Rifal kembali. "Gue.... Duluan." Valen pamit dan dibalas anggukan kepala oleh Rifal.
__ADS_1
Valen berjalan dengan mengigit bibir bawahnya, dia tidak mimpi kan? Dia tidak mimpi melakukan ini semua?
Rifal menyungkirkan senyum tipisnya melihat punggung Valen telah menjauh. Dia melihat tangannya yang disalim oleh Valen dengan senyuman bak orang gila!.
"Ini pertama kalinya."
***
"Kenapa kau tidak mengantarnya?"
Diruangan bernuansa abu-abu, lebih tepatnya lagi ruangan CEO. Duduklah dua pria dewasa disofa sembari meminum Coffe pada siang hari ini.
Huft
Terdengar helaan nafas berat keluar dari mulut pria itu.
"Perasaan gue ke dia masih abu-abu," menolog Rifal sembari menyandarkan kepalanya dikursi sofa.
Yah, dua pria dewasa itu adalah Elgara dan juga Rifal. Siang ini Elgara datang ke kantor milik Rifal atas perintah pria itu.
"Apa kau yakin?" Elgara melirik Rifal dengan tatapan meremehkan membuat Rifal berdecih. Rupanya sahabatnya itu belum pernah berubah.
"Jangan sampai kau menyesal. Ingat, penyesalan itu ada dibelakangan." Elgara berkata dengan bijak membuat Rifal terdiam sejenak.
Rifal beranjak dari sofa yang dia duduki. "Lo mau kemana?" Langkah kaki Rifal terhenti.
"Kerumah sakit." singkat jelas dan padat.
Mendengarkan nama Nathan membuat Rifal merasakan sensi yang ingin menonjok wajah tampan milik Nathan sekarang juga. Apalagi saat Elgara mengatakan jika Nathan sedari dulu mengincar Valen sampai sekarang.
Dan yah, Rifal katakan jika sampai sekarangpun Nathan masih mengharapkan cinta Valen.
"Kau kerumah sakit untuk melihat Valen atau Adelia."
Deg
Jantung Rifal berdetak kencang, dia sampai melupakan kehadiran gadis itu. Rifal berada ditengah-tengah masalah yang membuatnya pusing sendiri.
Elgara beranjak dari kursinya lalu menghampiri Rifal yang belum bergeming. Dia tau apa yang dirasakan oleh Rifal saat ini dihadapkan oleh dua pilihan.
Elgara menepuk pundak Rifal. "Semogah kau bisa memutuskan dengan bijak."
"Gue duluan, Fal. Kayla bakalan kesusahan jagain Dyra dan Dyta." Elgara pamit kepada Rifal membuat cowok itu mengangguk mengiyakan ucapan Elgara.
"Apa kau tidak bekerja?" tanya Rifal sebelum Elgara menghilang dibalik pintu ruangan kerjanya.
__ADS_1
"Buat apa kerja? Kalau udah ada Frezan," jawabnya dengan enteng tanpa dosa membuat Rifal tertawa dengan jawaban yang dilontarkan oleh Elgara.
***
Kayla menatap tajam Elgara saat Elgara telah masuk kedalam kamar.
"Dari mana aja sih, El!" kesal Kayla kepada Elgara.
"Cari lowongan kerja, Kay!" Elgara membalas perkataan Kayla dengan entengnya sembari membaringkan tubuhnya diatas kasur.
"El!" geram Kayla kepada suaminya itu.
"Kenapa sih, Kay?" tanya Elgara melirik kearah Kayla yang sedang memberikan makan kepada kedua putrinya.
"Buat apa sih kamu cari lowongan kerja!?"
"Buat nafkahin istri dan anak aku, Kay." Elgara menjawab begitu santai. "Aku nggak mau sampai nggak ngasih kalian nafkah."
Pletak.
Bantal guling mendarat dikepala milik Elgara. Bantal yang Kayla lemparkan adalah bantal milik Dyra.
"Perkataan aku nggak salah Kay," kata Elgara berjalan menyimpan bantal anaknya itu yang dilemparkan Kayla tadinya.
"Perkataan kamu nggak salah. Tapi cara kamu yang salah. Buat apa sih kamu cari lowongan kerja El! Bunda Alvi 'kan udah kasi kamu perusahaan sama Frezan buat kalian kelolah." Lama-lama darah milik Kayla naik jika Elgara seperti ini terus.
"Yah.....Aku cari bisinis sampingan lah, Kay. Kita nggak tau 'kan suatu saat Frezan bisa mecat aku diperusahaan. Kamu tau sendirikan saham milik Eza lebih besar." Elgara berkata dengan santainya.
"Eza bakalan mecat kamu kalau kamu nggak kerja!" ketus Kayla membuat Elgara hanya mengedikkan bahunya acuh.
Elgara menatap kedua putrinya yang sedang minum karna dia sudah makan. Senyum kebahagiaan tercetak diwajahnya yang tampan melihat kedua putrinya.
Dia melihat putrinya bernama Dyta mengikuti jejak Kayla, yang radak tomboi.
Sedangkan anaknya yang satu bernama Dyra terlihat sangat kalem. Siapa yang dia ikuti? Kayla? Tidak mungkin, kalian bisa lihat sendirikan tingkah Kayla. Rara? Tentunya saja tidak bisa-bisa saja anaknya Dyra polos-polos bodoh jika mengikuti jejak Rara.
Elgara mencubit pipi Dyta. "Kamu jangan galak-galak yah sayang. Kayak mama kamu." Elgara berkata seperti itu, karna dia yakin putrinya itu mengikuti jejak Kayla, sang Mama.
"El!"
"Bercanda, Kay!"
Elgara mengacak rambut milik Dyra." Kamu jangan kalem-kalem bodoh yah, Sayang. Kayak Tante kamu Rara." Jika mengingat Rara saat itu membuat Elgara tertawa. Dimana saat itu Elgara mengatakan jika mencium seseorang kita sudah tidak segel lagi.
Sementara Kayla hanya menarik nafasnya panjang melihat tingkah Elgara.
__ADS_1