
Pukul 12 siang...
Rina sedang melamun di balkon kamarnya seraya menatap pemandangan di depan kamar mereka.
Dibawah sana ada taman bunga membuat Rina bisa tenang menatap bunga itu. Semenjak dia di Jakarta dia yang menanam buanga itu hingga tumbuh menjadi bunga yang sangat cantik.
Senyaman-nyamanya dia menatap tanaman bunganya hingga membuat dia tenang, semua itu akan hilang jika kembali dia memikirkan soal Rifal.
Sudah dua hari satu malam Rifal tak kunjung makan, setiap Rina membawanya makanan anaknya itu tidak memakanya, bahkan menyentuhnya saja tidak.
''Nyonya!''
Suara ketukan pintu membuat lamunan Rina di balkon kamar menjadi buyar, suara Sukma mengetuk pintu kamarnya.
''Tuan Rifal, nyonya!''
Rina semakin mengayuhkan langkahnya lebih cepat saat Sukma menyebut nama Rifal.
Ceklek.
Rina langsung membuka pintu kamarnya dengan raut wajah khawatir dan di suguh wajah panik Sukma.
''Kenapa anak saya Sukma?'' tanya Rina dengan khawatir.
''Nyonya, tuan Rifal tidak sadarkan diri di dalam kamarnya!''
Mendengar ucapan Sukma, membuat wanita paruh baya itu berlari cepat menuju kamar Rifal.
''RIFAL!'' tangis Rina melihat wajah pucat anaknya diatas tempat tidur.
''Cepat Telfon suami saya, sukma!'' teriak Rina.
''Baik nyonya.'' Sukma langsung menelfon Aska dengan buru-buru. Tanganya bergetar menekan nomor Telfon Aska.
Sementara Rina menagis memeluk anaknya, wajahnya sudah pucat serta bibir Rifal sudah mengering pucat.
''Anak ku, bangun! Jangan tinggalin Mommy nak!'' Rina mengusap pipih Rifal dengan air mata begitu deras.
''Anak ku bangun, kamu tidak akan meninggalkan Mommy, kan? Seperti adikmu lakukan pada Mommy?'' Rina mengusap air matanya.
Sukma, sebelum ke kamar Rina tadi, dia lebih dulu menelfon dokter Zul. Dokter Zul sedang dalam perjalanan.
Aska sedang berada di kantor bersama Nando langsung menyuruh Nando untuk membatalkan meeting siang ini.
Saat mendapatkan Telfon dari Sukma, dia mendengar isakan istrinya dari seberang Telfon.
Aska dan Nando berjalan dengan cepat untuk segera menuju parkiran.
‘’Cepat Nando!''
Aska dan Nando langsung masuk kedalam mobil, Nando yang menyetir dengan laju yang sangat tinggi.
Bahkan para karyawan kantor sedang bergosip, jika Nando dan Aska pulang karna pastinya Rifal.
__ADS_1
Sudah satu bulan lebih Rifal tidak ke kantor, sehingga para karyawanya merindukan dirinya.
Nando menerobos lampu merah, bahkan polisi yang mengejar mobil Nando karna pria itu menerobos lampu merah.
Tentu saja polisi itu tidak mampu mengejar mobil milik Nando. Karna Nando membawa mobil begitu kencang membuat Aska menutup matanya.
Dia ingin menyuruh Nando untuk pelan-pelan, namun memikirkan tangis Rina tadi dan kondisi anaknya sekarang membuat Aksa mengurungkan niatnya.
“Ya Tuhan, berikan umur panjang kepada anak ku. Cukup engkau memgambil Tegar dariku.”
Tidak butuh waktu lama, mobil Nando sudah memasuki pekarangan rumah Rifal. Aska dengan cepat masuk kedalam rumahnya di susul oleh Nando.
Saat turun, Nando melihat mobil Nathan.
“Apa dokter Nathan ada di sini?”
Nando langsung berjalan cepat, masuk menyusul Aska yang sudah menghilang dari pandanganya.
Aska sudah sampai di kamar Rifal, dia sudah melihat dua dokter sedang menangani anaknya, Aska menyandarkan tubuhnya di dinding kamar Rifal.
“Mau sampai kapan?”
Aska melihat dokter Nathan menyuntik tangan Rifal lalu memasukkan selang infus baru kedalam tangan Rifal.
Sementara Nando menyuntikkan sesuatu di cairan infus.
''Bagaiamana kondisi anak saya dok?'' tanya Aska dengan suara rendah.
Zuk menghembuskan nafasnya dalam. ''Pasien dehidrasi, dan asupan tidak ada sama sekali masuk kedalam lambungnya,'' jelas Zul.
''Apa Rifal tidak pernah makan dan minum selama dia sadar?'' tebak Zul.
Aska mengangguk mengiyakan ucapan dokter Zul. Karna apa yang di katakan dokter tampan di hadapnya memang benar adanya.
''Dia membuang makanan dan air yang dibawakan untuknya,'' terang Aska membuat Dokter Zul manggut-manggut.
''Tetap suruh Rifal untuk makan sedikit saja,'' Zul memberikan anjuran kepada Aska.
Aska mengangguk paham dengan apa yang dikatakan oleh Zul.
Namun, Rifal bukan anak kecil yang jika paksa dia akan makan sedikit saja. Pria itu sudah dewasa dan tentunya dia tidak ingin di paksa untuk makan.
Sementara Nando sedari menatap wajah pucat Rifal. Dia sangat kasihan melihat wajah tampan itu terbaring lemah.
Tak lupa pula, mata Nando mencuri pandang kepada dokter Nathan dan Lea.
Yah, gadis itu ikut bersama dengan Nathan dan dokter Zul. Dia juga ingin melihat kondisi Rifal tenaganya.
Tugas Lea tentunya membantu apa yang Dokter Nathan ingin kerjakan.
''Terimakasih,'' jawab dokter Nathan tanpa melihat Lea.
Karna dia sedang fokus dengan pekerjanya.
__ADS_1
Nando bisa melihat Lea tersenyum. Seraya memperhatikan Nathan memasang plester di tangan Rifal.
Dia bisa melihat cinta dimata gadis itu untuk pria dihadapnya, Nando tersenyum kecut. Tentunya dia kalah beberapa langkah dengan Nathan yang berprofesi sebagai Dokter itu.
Lea menatap kedepanya.
Deg
Matanya yang penuh cinta untuk pria yang dia berikan plester tadi berubah. Saat matanya bertemu dengan mata Nando.
Nando berusa tersenyum jahil kearah Lea, tapi tentu saja Lea tau jika senyuman jahil Nando kali ini berbeda.
Aska dan dokter Zul keluar dari kamar Rifal, kedua pria itu mengobrol mengenai kondisi Rifal.
''Jadi, sampai sekarang kabar Dokter Valen belum ada?'' tanya Zul.
''Iya,'' hembus Aska. ''Jika Valen akan pergi untuk selamanya, saya tidak tau bagaimana nasib putra saya kedepanya.''
‘’Dokter Valen orang baik,'' ucap Zul dan dibalas anggukan kepala oleh Aska.
Rina tadi sempat pingsan, sehingga dokter Nathan lebih dulu menggendong Rina ke kamarnya dan menyuruh Sukma untuk memberikan minyak kayu putih di dekat hidung Rina.
Melihat kondisi Rifal seperti itu, membuat Rina tidak bisa menahan sakit melihat putranya.
Sementara Lea dan Nando masih saling bertatapan.
''Lea, tolon—''
Ucapan Dokter Nathan menggantung saat dia mendongakkan kepalanya melihat Lea menatap kedepan dengan seksama.
Nathan melirik kebelakang, ternyata ada Nando.
''Dokter Nathan nyuruh apa?'' tanya gadis itu gelagapan.
''Tidak jadi,'' ketus Nathan lalu keluar dari kamar Rifal.
Sehingga didalam kamar Rifal, hanya ada Nando dan juga Lea.
Nando melangkahkan kakinya mendekati Rifal.
''Halo calon ibu perawat,'' sapa Nando dengan sedikit tawa yang beda.
''Kak Nando.''
''Om Rifal kok nggak makan sama minum?'' tanya Lea melihat wajah Rifal.
Posisi Lea sedari tadi naik diatas tempat tidur Rifal, sehingga dia bisa berhadapan dengan dokter Nathan.
''Semenjak dia bangun dan tau, jika Valen tidak ada di sini,'' jawab Nando dengan suara pelan.
Dia melihat wajah Rifal yang terlihat jelas penuh kepedihan.
Mengapa nasib pria itu harus seperti ini? Mendapatkan ujian yang selalu menguji kewarasan.d
__ADS_1