Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Kacau


__ADS_3

Ceklek.


Lea membuka pintu kamarnya melihat Novi sedang didepan pintu kamar miliknya.


''Apa kamu tidak punya masalah, Lea?'' pertanyaan itu langsung lolos dari mulut Novi untuk putrinya.


''Ha?'' bingung Lea karna perkataan mamahnya.


''Ada yang cari kamu, katanya dia pembimbing kamu di rumah sakit,'' jelas Novi membuat Lea semakin di buat bingung dengan ucapan sang mamah.


''Namanya dokter Nathan.''


Deg


Novi menyebut nama dokter Nathan membuat Lea menjadi membeku seketika. Bagaimana bisa pria itu datang kerumahnya.


Lea langsung berlari meninggalkan ruang tamu, dan benar saja dia sudah melihat dokter Nathan tengah duduk di kursi rumahnya.


Nathan dan Lea kembali beradu pandang, Nathan tersenyum tipis kearah Lea.


''Dokter Nathan...''


''Iyya.''


Lea langsung menghampiri Nathan dan duduk berhadapan dengan pria yang entah mengapa datang kerumahnya.


''Dokter Nathan kenapa kesini malam-malam?'' tanya Lea penasaran dengan tujuan Nathan kesini.


''Saya ingin memperjelas soal yang tadi,'' jelas Nathan kepada Lea.


''Soal yang mana?''


‘’Tentang apa yang kau bilang, mengapa saya memilih kau untuk menjadi pelampiasan saya,'' Nathan mengingatkan Lea.


''Padahal saya tidak menanggap kau pelampiasan saya untuk melupakan Dokter Valen,'' terang Nathan.


Lea mengangguk. ''Cuman itu?'' tanya Lea memastikan membuat Nathan terdiam.


Mengapa ucapan gadis di hadapanya seakan-akan apa yang barusan dia bilang hanya angin lalu saja.


''Saya harap kau bisa percaya, saya serius ingin menjalan hubungan dengan mu Lea, bahkan menunggu sampai lulus kuliah.'' Dingin Nathan, dia tidak mau jika image yang selalu jaga di depan Lea runtuh begitu saja.


Lea menarik nafasnya dalam-dalam. ''Jaman sekarang susah bedain yang serius sama yang main-main,'' cemberut Lea membuat rahang Nathan melorot karna ucapan gadis itu.


Seakan-akan gadis itu sudah berpengalaman dalam pacaran, padahal umurnya masih 19 tahun dan di tambah satu fakta lagi yang di ketahui Nathan, jika Lea belum pernah pacaran.


''Lea juga suka sama dokter Nathan. Tapi....'' Gadis itu menjeda ucapannya seraya mengigit bibirnya membuat Nathan penasaran dengan kelanjutan ucapan Lea.


''Tapi apa?'' tuntut Nathan ingin segera Lea menjawab.


''Lea sama dokter Nathan bedah jauh,'' ucap gadis itu. ''Dokter Nathan udah mapan dan tampan, sedangkan Lea masih mahasiwa dan beban kelurga,'' jelas Lea kepada Nathan.

__ADS_1


''Kau memang beban, termasuk beban pikiran bagi saya,'' gumam Nathan namun masih di dengarkan oleh Lea.


''Dokter Nathan mikirin Lea?''


''Ya.''


''Jadi gimana?'' tanya Lea membuat Nathan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Lea.


''Apanya?'' tanya balik Nathan.


‘’Itu, dokter mau nungguin Lea sampai lulus,'' Lea mengingatkan kepada Nathan.


''Saya akan menunggu Lea, asal penantian saya tidak sia-sia.''


***


Aska saat ini sedang berbincang serius dengan seseorang di seberang Telfon.


''Jadi kamu sudah kembali ke Jakarta, Yo?'' tanya Aska mondar mandir di ruangan tamu.


''Iya Aska. Kami sudah mencari menantumu itu, jawabanya tetap sama,'' balas Aryo dari seberang.


Helaan nafas berat keluar dari mulut Aska. ''Baik, Terimaksih Aryo.''


''Sama-sama.''


Pembicaraan mereka selesai.


PRANG!!!!


Mata Aska langsung terbuka saat mendengar dari lantai atas seperti sedang terjadi sesuatu. Dengan cepat Aska berlari keatas kamar Rifal.


Dia yakin, jika suara itu berasal dari kamar putranya.


Aska membuka knop pintu kamar Rifal, dan melihat tangan anaknya itu mengalir darah segar dari tanganya.


Bahkan, selang infus di tangan Rifal sudah tercabut.


Rifal menatap tajam Aska.


''Apa yang kau lakukan Rifal, Hah!'' hardik Aska melihat tangan putranya sudah di penuhi darah segar.


Wajah Rifal memerah menahan sakit di tanganya, namun jika mengingat wajah Valen rasa sakit di tanganya menghilang di gantikan rasa sedih kehilangan Valen.


Rifal meninju kaca jendela kamarnya, sehingga tanganya menjadi berdarah.


Anak dan Daddy itu saling bertatapan. Jika di biarkan Rifal akan semakin menggila nantinya.


''Keluar!!'' teriak Rifal.


‘’Kenapa kau bodoh Rifal?''

__ADS_1


''Hahahha,'' Rifal tertawa sinis dengan apa yang di katakan oleh sang Daddy. ‘’Kenapa? Bukanya Daddy bilang istri adalah segalanya.''


Aska terdiam dengan apa yang dikatakan oleh putranya, seperti bomerang untuk dirinya sendiri.


''Sekarang Rifal kehilangan istri Rifal, Dad! Segalanya hilang karna semuanya ada pada istri Rifal, Dad!'' tangis Rifal tanpa mempedulikan rasa sakit di tanganya.


Rifal jatuh tersungkur di bawa lantai, dia berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Aska ingin membantu anaknya mengurungkan niatnya karna Rifal terisak dengan piluh.


''Valen!''


''Gue butuh lo, Len. Kembali sama gue!''


''Ikhlaskan Valen, dia sudah tidak ada!'' tegas Aska agar anaknya itu tidak terus-terusan berpikir seperti ini.


Mata nyalang Rifal menatap tajam sang Daddy, sungguh dia tidak suka dengan apa yang di katakan oleh Daddy.


‘’Valen masih ada!'' erang Rifal tidak terima jika istrinya itu dikatakan sudah tidak ada.


Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Rifal yakin jika anak dan istrinya masih hidup.


''Istri dan anak Rifal masih hidup!''


‘’Jangan menyiksa dirimu seperti ini, ikhlaskan Valen dan anak mu Rifal. Kamu harus ikhlas dengan kepergian mereka!'' tegas Aska.


''Keluar, Dad! ucapan Daddy membuat harapan Rifal akan hancur!'' usir Rifal dengan suara menggelegar.


''Daddy hanya menyadarkan mu!'' balas Aska.


Rifal menggelengkan kepalanya atas apa yang di katakan oleh Aska barusan.


''Rifal sadar, dengan kesadaran Rifal yakin jika anak dan istri Rifal masih selamat!'' bantahnya kepada sang daddy.


Rina datang dan melerai perbedaan anak dan suaminya. ‘’Biar aku yang urus Rifal,'' ucap Rina kepada Aska.


Aska langsung pergi dan membiarkan istrinya yang akan mengobati luka Rifal.


''Mommy tidak usah masuk kesini, jika Mommy mnegatakan jika istri dan anak Rifal sudah tidak ada!'' tangis Rifal dan dibalas gelengan kepala oleh Rina.


''Mommy yakin, sangat yakin, jika anak dan istrimu masih hidup, nak. Kita hanya perlu bersabar.''


Kata-kata Rina membuat hati Rifal yang panas tadi menjadi dingin, setidaknya ada mommynya yang berpikir sama dengannya.


Rina meminta izin kepada Rifal untuk mengobati lukanya. Rifal tidak menolak Rina sehingga Rina membersihkan luka Rifal.


''Sampai kapan kamu akan menyiksa diri kamu, nak? bulir air mata keluar dari pelupuk mata Rina seraya membersihkan luka Rifal yang meninju jendela kamarnya sendiri sehingga selang infus di tanganya sudah pindah.


''Sampai Rifal temuin Valen,'' ucapnya dengan lirih.


Rina mengusap air matanya lalu menatap wajah sang anak. ‘’Bagaimana bisa kamu mencari Valen, kalau kamu masih seperti ini. Kamu harus sembuh nak, kalau kamu sembuh kamu bisa mencari Valen sesuka hatimu, nak. Tapi jika kamu sakit, kamu tidak bisa mencari keberadaan istri kamu.''


Ucapan Rina barusan membuat Rifal terdiam.

__ADS_1


__ADS_2