
Dokter Nathan membantu dokter Hamka memeriksa mata milik Adelia. Sama dengan dokter Hamka, dokter Nathan juga ragu jika mata Adelia sudah tidak sehat lagi karna perempuan itu mati dengan penyakit kanker yang sudah menggerogoti tubuhnya.
Dokter Nathan menyeritkan alisnya, lalu sedetik kemudian dia berpandangan dengan dokter Hamka.
“Matanya sehat.”
Dokter Nathan dan dokter Hamka mengucapkan kata tersebut secara bersamaan.
“Kenapa bisa? Bukanya dia meninggal karna kanker,” heran dokter Hamka.
“Adelia memang meninggal dengan penyakit kanker yang dia derita. Tapi saya juga heran dok, kenapa matany sangat jernih,” kata Dokter Nathan.
“Ini mukjizat dari Tuhan,” kata dokter Hamka dan dibalas anggukan kepala oleh dokter Nathan.
“Kita tunggu kedatang suami dokter Valen, semogah saja matanya dengan Adelia cocok,” kata dokter Hamka penuh harap. Karna sudah berapa pendonor mata yang ingin mendonorkan matanya untuk Rifal karna adanya imbalan besar dari Rifal, namun tidak ada yang cocok sama sekali untuk Rifal.
Ruangan operasi terbuka. Muncullah dokter Kiki mendorong bansal milik Rifal. Rifal sudah tertidur di suntikkan obat bius oleh dokter Kiki.
Sementara Valen menunggu di luar.
“Bagaiamana dok?” Tanya dokter Kiki kepada kedua dokter hebat di hadapnya.
“Mata Adelia sehat, meskipun ada penyakit kanker yang dia derita. Tapi hebatnya matanya sangat sehat dan jernih,” kata dokter Hamka.
“Tinggal kita lihat kondisi Rifal, apakah mata Adelia cocok untuknya atau tidak,” kata dokter Hamka.
Dokter Hamka mulia memeriksa kembali mata Rifal, dia memberikan kode kepada dokter Nathan dan juga dokter Kiki memberikanya alat yang dia butuhkan.
Sebagai seorang dokter yang profesional, mereka berdua sangat paham dengan kode yang di berikan oleh dokter Hamka.
“Lakukan operasi pada Adelia.” Instruksi Dokter Hamka kepada kedua dokter di dekatanya.
Dokter Nathan dan dokter Kiki saling berpandangan saat dokter Hamka menyuruhnya melakukan operasi kepada Adelia.
“Mata Adelia sangat cocok untuk Rifal.”
Dari sekian banyaknya pendonor mata, hanya mata Adelia yang berhasil. Hanya mata perempuan itu saja yang cocok untuk Rifal.
__ADS_1
“Baik dok,” kata dokter Nathan dan dokter Kiki secara bersamaan.
Rifal dan Adelia bersebelahan bansal, andai saja Adelia masih hidup dia pasti sangat senang berdekatan dengan Rifal.
Sayang sekali, dia bersebelahan dengan Rifal dalam keadaan sudah tidak ada dan ingin mendonorkan matanya untuk orang yang dia cintai.
Keringat Nathan bercucuran melakukan operasi pada jenazah Adelia, dia memindahkan kornea mata Adelia dari matanya.
Sekitar tiga puluh menit bertempur dengan alat operasi, akhirnya operasi untuk memindahi bola mata Adelia berhasil.
Dokter Kiki langsung memberikan kain kasa kepada mata Adelia yang sudah di pindahi oleh dokter Nathan.
Dokter Kiki menitihkan air matanya sembari melilitkan kain kasa pada mata Adelia.
“Dokter Kiki,” panggil Nathan karna dokter Kiki hanya memperhatikan Adelia yang sudah tidak bernyawa lagi.
“Maaf,” kata Dokter Kiki lalu bergerak dari sana.
Mereka kembali membantu dokter Hamka melakukan operasi pada Rifal. Dokter Hamka sudah melepaskan kornea mata Rifal.
Dia mengambil kornea mata Adelia lalu memasangnya di mata Rifal dengan sangat sulit dan penuh teliti.
Dia juga mengusap keringat Nathan yang bercucuran karna membantu dokter Hamka melakukan pemasangan kornea mata pada Rifal.
Sudah satu jam lebihnya Valen menunggu di kursi, menunggu ketiga dokter itu keluar dari ruangan operasi dan memberikanya kabar baik mengenai Rifal.
Valen merapalkan doa, dia berharap pendonor mata untuk Rifal kali ini cocok untuk suaminya.
Valen langsung beranjak dari kursinya saat melihat dokter Hamka sudah keluar dari ruangan operasi.
“Gimana dok?” Tanya Valen dengan penuh harap.
“Alhamdulillah, operasi berjalan lancar. Pendonor mata kali ini sangat cocok untuk Rifal,” kata dokter Hamka membuat Valen langsung menutup mulutnya.
Dia bahagia, akhirnya suaminya bisa melihat lagi, “Makasih dok, apakah suami saya sudah bisa melihat? Tanya Valen.
Dokter Hamka menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. “Insyaallah, suami dokter Valen sudah bisa melihat,” kata dokter Hamka membuat Valen menangis terharu dengan jawaban yang di berikan oleh dokter Hamka.
__ADS_1
Tidak lama itu pula, dokter Nathan keluar bersama dengan perawat mendorong bansal milik Rifal untuk segera dia bawa keruangan Rifal.
Valen tidak memberitahukan kepada Rara dan juga Kayla jika hari ini Rifal melakukan operasi mata, karna dia juga tau kondisi mereka saat ini terpukul akibat Elga.
Dokter Kiki keluar dari ruangan operasi me mendorong bansal milik Adelia yang sudah di tutup kain kafan.
“Dokter Kiki,” panggil dokter Valen sehingga langkah kaki dokter Kiki terhenti bersama dengan perawat yang membantu mendorongnya bansal milik Adelia.
“Apakah dia yang mendonorkan matanya untuk suami saya?” Tanya dokter Valen mendekati Adelia yang sudah tertutup kain kafan.
Sementara dokter Hamka sudah pergi lebih dulu.
Dokter Kiki tersenyum kearah Adelia. “Iya dok, dia yang mendonorkan matanya untuk suami dokter Valen,” kata dokter Kiki membuat Valen tidak mampu mengucapkan kata-kata karna orang itu telah mendonorkan matanya untuk Rifal.
Baru kali ini ada pendonor mata yang cocok untuk suaminya.
“Apakah saya boleh melihatnya?” Tanya dokter Valen memastikan.
Dokter Kiki menganguk. “Boleh,” jawab dokter Kiki.
Dengan tangan bergetar, Valen menggapai lain kafan yang menutupi Adelia, tanganya bergetar ingin membuka kain kafan tersebut.
Dia hanya ingin melihat wajah pahlawan yang telah mendonorkan matanya untuk suaminya.
Kain kafan berhasil di buka oleh dokter Valen. Valen langsung memundurkan langkahnya saat melihat wajah yang sangat tidak asing. Meski mata Adelia di perban dengan kain kasa namun tetap saja Valen mengenalnya.
Valen menggelengkan kepalnya, melihat siapa yang keluar dari ruangan operasi bersama suaminya yang telah mendonorkan matanya.
“Adel,” Valen dengan bergetar menyebut nama Adelia. Wajah Adelia sudah pucat pasih.
Valen menggelengkan kepalanya. “Nggak mungkin dia Adel,” tangis Valen melihat wajah kakuh itu sudah tidak berdaya lagi.
Dia tidak menyangka jika Adelia akan mati secepat ini, dan yang membuatnya terkejut perempuan ini yang mendonorkan matanya untuk Rifal dan hanya matanya saja yang cocok untuk Rifal.
Dokter Kiki juga terisak. “Dia Adel, Dok. Dia baru saja pergi. Sebelum dia pergi, dia berpesan kepada saya untuk mendonorkan matanya untuk suami dokter Valen,” jelas dokter Kiki sembari menitihkan air matanya.
“Del,” isak Valen. “Kamu udah banyak menderita. Kamu nggak bahagia sebelum kamu pergi!” Isak memegang kepala Adelia yang sudah tidak mempunyai rambut lagi akibat kanker yang menggerogoti tubunya.
__ADS_1
“Makasih, Del. Kamu udah donorin mata kamu untuk suami aku. Orang yang pernah kamu cintai dan orang yang pernah mencintai kamu.”