Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Bertemu Elga


__ADS_3

Rara dan Kayla sudah menunggu di kursi tunggu, menunggu kedatangan Elga. Setelah beberapa hari tidak berkunjung.


Kayla dan Rara bersamaan mendongakkan kepala melihat Elga berjalan kearah mereka. Melihat wajah Elga membuat rindu Rara bukan terobati, malah semakin bertambah.


''Abang, El,'' panggil Rara lalu memeluk saudara kembarnya itu.


Sebagai adik-kakak yang terlahir kembar, namun berbeda jenis kelamin membuat mereka saling merindukan satu sama lain.


Bahkan, Elgara setiap malam terus-terusan mengingat wajah Rara. Elga mengusap punggung Rara, karna adiknya itu menangis dalam dekapanya. ''Abang baik-baik di sini, Ra. Jangan terlalu mikirin, Abang,'' saran Elga yang di balas gelengan kepala oleh Rara.


Bagaiamana bisa Elga mengatakan hal seperti tadi. ‘’Bahkan seharipun, Rara, nggak bisa kalau nggak mikirin Abang, El. Kita berdua kembar, Bang. Jadi, hal ini bukan hal mudah untuk Rara lalui,'' ucapnya mendongakkan kepalanya kepada Elga yang masih setia mengenakan baju orange.


Elga mencubit pipih Rara, dia paham mengenai itu. Kalaupun, Rara larut dengan kesedihannya tidak akan membuat baju yang Elga kenakan berubah.


''Jangan nangis setiap malam, Ra.''


‘’Kalau nangis bisa buat Rara merasa lega, kenapa Rara harus pendam semuanya, Bang,'' keluhnya yang ada benarnya juga.


Kayla hanya menunggu giliran saja untuk memeluk suaminya. Terlebih dahulu dia membiarkan Rara melepaskan kerinduannya kepada Elga.


Rara sampai lupa, jika bukan hanya dia saja di sini. Rara kembali duduk sehingga Elga dan Kayla bertatapan.


‘’Gimana kabar anak-anak, Kay?'' Tanya Elga dengan menatap Kayla dengan tatapan teduh.


Dia tidak bisa berada di dekat Kayla untuk menemaninya menjaga kedua anak-anak mereka.


‘’Mereka semua baik-baik aja, El,'' jawab Kayla seraya tersenyum manis kepada Elga. ''Kamu nggak perlu khawatirin mereka. Aku bakalan jaga mereka di bantu sama Siska, pengasuh anak-anak.''


Huft


Elga menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskanya dengan pelan.


“Cuman Dyta, selalu nangis.'' Kayla mengingat dimana Dyta menangis begitu piluh. Karna kerinduan-Nya kepada Elga.


''Dia pengen ketemu sama kmau,'' lanjut-Nya lagi membuat Elga kembali bernafas berat.


''Aku selalu bohong sama,dia.''


‘’Lebih baik bawa, Dyta sama Dyra kesini, Kay,'' ujar Elga. ''Meskipun Dyra sama Dyta masih kecil, belum terlalu tau mengenai hal ini. Tapi, aku nggak mau dia sampai menunggu hal yang tidak pasti, yang kamu janjikan,'' saran Elga.

__ADS_1


Rara pamit undur diri, karna ingin menemui Frezan didalam mobil. Yah, suaminya itu tidak keluar mobil sedari tadi.


Rara juga memberikan ruang kepada Kayla dan Elga. Karna ada hal penting yang ingin Kayla bahas, yaitu soal kehamilnya kepada Elgara.


‘’Sebentarnta aku kesini, mau kasi kabar sama kamu,'' cicit Kayla membuat pikiran Elga langsung melayang.


Dia berpikir, jika Kayla ingin menyampaikan hal yang akan membuatnya semakin terpuruk di penjara ini.


Elga kira, Kayla akan menyampaikan gugatan cerai karna tidak berada di samping Kayla untuk saat ini.


Bukan waktu yang singkat, untuk Kayla jalani tanpa seorang suami.


Terlebih dahulu, Elga menarik nafas dalam-dalam sebelum membalas perkataan Kayla. ''Kamu mau pisah sama aku?''


Kayla melototkan matanya, mendapatkan pertanyaan Elga yang menurutnya sangat konyol.


''El....Kok ngomong kayak gitu sih!?'' Kesal Kayla membuat Elga kembali membalas perkataan Kayla.


''Terus, kamu mau kasi kabar apa, Kay? Aku bakalan siap dengar semua yang kamu bilang,'' bohongnya, padahal dia tidak yakin jika dia bisa kuat.


''Sampai kapanpun, aku nggak bakalan minta pisah sama kamu, El. Aku bakalan nungguin kamu sama anak-anak sampai keluar dari sini.'' Kayla berkata dengan serius seraya menggenggam tangan Elga dengan yakin.


''Kay,'' lirih Elga.


''Aku kesini bukan mau nyampain pesan yang kamu pikir.''


''Terus apa?''


Kayla terlebih dahulu mengumpulkan oksigen sebelum angkat bicara kembali. ‘’Tapi kamu janji, saat kamu dengar yang aku bilang, kamu nggak boleh kepikiran.''


Elga sempat menimang-nimang perkataan Kayla. Lalu kemudian mengangguk setuju.


‘’Sebenarnya....Aku hamil, El.''


Deg


Jantung Elga seakan ingin berhenti berdetak saat Kayla mengatakan jika dirinya hamil.


''Kay....'' Elga menatap Kayla dalam-dalam.

__ADS_1


Sementara genggaman mereka masih menyatu.


''Kamu jangan pikir aneh-aneh tentang, aku,'' lanjut Kayla. ''Saat kamu masuk penjara, aku udah telat beberapa minggu.''


Elga bernafas legah, setidaknya pikiranya tidak berseluncur jauh. Dia percaya Kayla, jika wanitanya itu tidak akan mengkhianati dirinya.


''Kay....Maafin aku,'' nada suara milik Elga semakin lirih, saat mengetahui jika Kayla sedang hamil, anak ketiga mereka.


Elga bukan hanya meninggalkan dua anak dan istri, tapi dia juga meninggalkan calon anaknya.


‘’Andai aja malam itu aku bisa kontrol emosi aku. Mingki saja kejadian ini tidak akan terjadi.'' Nasi sudah menjadi bubur, Elga menyesal melakukan tindakan bodoh yang menbuatnya memukul Daniel hingga sekarang belum juga sadar.


Elga sadar, pukulan yang dia berikan kepada Daniel sangat fatal. Dia memukul Daniel waktu itu tanpa jedah, sehingga Daniel tidak bisa mendapatkan peluang untuk membalas pukulan Elga.


Kayla menggeleng. Ini semua bukan salah Elga. Andai saja malam itu dia tidak mengobrol dengan Daniel mungkin saja saat ini keadaan sedang baik-baik saja.


‘’Waktu sudah habis,'' salah satu polisi datang mengingatkan pada Elga.


Dengan berat hati, Elga berdiri dari tempat duduknya di ikuti oleh Kayla.


''Kay, jagain anak dalam kandungan kamu. Meski aku nggak ada di samping kamu memenuhi kebutuhan ngidam kamu....Jika perlu apa-apa tanyakan saja kepada Rara. Dia akan membantu kamu.''


Kayla mengangguk lalu memeluk suaminya begitu erat. Pelukan nyaman ini sudah tidak di dapatkan Kayla setiap malam dan pagi, semenjak Elga mendekam dalam penjara.


Kayla dengan terpaksa melepaskan pelukanya, karna polisi sudah ingin membawa Elga kembali masuk kedalam jeruji besi.


''Jaga kesehatan, Kay!'' Elga bersuara sedikit keras karna polisi sudah berhasi membawanya pergi dari hadapan Kayla.


Tanpa terasa, air mata Kayla jatuh di pelupuk matanya. Dia mengusap air matanya dengan cepat saat mendengar suara dari arah belakang.


''Kay, Abang El mana?'' Tanya Rara karna tidak melihat Elga di sini lagi, dan hanya menyisahkan Kayla.


''Udah kembali, Ra,'' ucapnya dengan senyuman tipis.


Padahal, dia ingin memeluk Elga lagi. Pelukan tadi rasanya tidak cukup untuk Rara mengobati rasa rindunya kepada saudaranya itu.


Rara mengusap punggung Kayla. Dia tau. Ipar sekaligus sahabtnya itu pura-pura kuat.


''Kita balik ke mobil, yuk, kak Eza mau ke kantor,'' ajak Rara dan dibalas anggukan kecil oleh Kayla.

__ADS_1


Mereka berdua keluar dari kantori polisi. Setidaknya, Kayla sedikit legah karna sudah menceritakan mengenai kandungannya kepada Elgara.


__ADS_2