Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Valen dan Rifal


__ADS_3

Valen makan di meja makan seorang diri, sedangkan dari lantai atas Rifal memperhatikan dirinya seraya bersedekap dadah. Entahlah, sejak kapan pria itu sudah bangun dan memperhatikan Valen makan dibawah sana dengan khidmat.


“Ciri-ciri istri durhaka, makan nggak ngajak suami,” kesal Rifal dari lantai atas.


Dia melangkahkan kakinya untuk menghampiri Valen yang tengah memakan telur dadar dengan nasi goreng.


“Makan nggak ngajak suami,” ucap Rifal membuat Valen langsung melirik ke sampingnya.


Rupanya yang datang adalah Rifal yang masih mengenakan baju tidurnya. Valen hanya melirik suaminya sebentar lalu kembali melanjutkan makanya. Tanpa berniat membalas perktaan Rifal.


“Len, aku lagi ngajak kamu ngobrol,” ucap Rifal menggeser kursi lalu duduk di samping Valen.


Dia melirik Valen yang memasang wajah judesnya.


“Len,”panggil Rifal.


Valen meminum air putihnya lalu beranjak dari kursinya, seakan-akan Rifal tidak ada di sampingnya membuat Rifal cengok melihat perilaku Valen.


“Len,” panggil Rifal lagi karna Valen sudah pergi meninggalkan dirinya di meja makan seorang diri.


Rifal mengambil roti lalu mengejar Valen yang sudah menaiki anak tangga. “Len, kamu kenapa sih?” Tanya Rifal yang sudah berhasil mengejar Valen dan berjalan beriringan dengan Valen di anak tangga sembari memakan rotinya.


Dia ingin makan di meja makan, tapi melihat tingkah Valen membuatnya mengurungkan niatnya untuk makan dan lebih mengejar Valen.


“Len,” panggil Rifal lagi namun Valen tak kunjung menjawab panggilan Rifal.


Valen hanya memasang wajah datar, seakan-akan Rifal tidak ada di sampingnya, mengingat kejadian di Mall dan kejadian semalam membuat Valen semakin menguatkan niatnya untuk tidak memberikan luang pada Rifal untuk mengobrol denganya.


“Sayang, apa kamu marah padaku?” Tanya Rifal dengan lembut kepada Valen.


Kata sayang membuat Valen ingin sekali berteriak, namun ini bukan waktu yang tepat karna dia masih kesal pada Rifal yang membuatnya menunggu sampai subuh.


“Jangan mengikuti ku,” kesal Valen memberhentikan langkah kakinya di anak tangga.


“Kenapa?” Tanya Rifal seraya menyeritkan alisnya.


Valen tidak menjawab pertanyaan Rifal, dia lebih dulu masuk ke kamar membuat Rifal mengekorinya dari belakang.


“Len, soal kemarin di Mall aku minta maaf,” bujuk Rifal namun tidak di gubris oleh Valen.


Saat ini, Valen tengah membuka laptopnya melihat email masuk, asa beberapa email masuk sehingga Valen fokus membacanya.

__ADS_1


Dia mengambil cuti, sehingga rekan kerjanya di rumah sakit menanyakan kabarnya.


“Len, apa kamu tidak ingin memaafkan suami mu?” Tanya Rifal bersmaaan dengan perutnya berbunyi karna lapar.


Valen tidak menjawab.


“Aku lapar, Len. Aku kebawah dulu makan.” Rifal beranjak dari sofa yang dia duduki untuk kebawah.


Valen melirik punggung suaminya lalu kembali fokus pada laptopnya.


***


Di Rumah sakit.


Daniel masih berbaring lemah diatas brankar dengan alat yang membantunya untuk hidup.


Setiap pulang kuliah, Lea selalu menjenguk Daniel dan juga Agrif. Karna Agrif selalu mencari dirinya, sudah ada asisten rumah tangga yang mengurus Daniel di rumah sakit sehingga Lea tidak selalu stay lagi di rumah sakit, apa lagi dia sedang kuliah saat ini.


Seperti sekarang ini, Lea sedang berjalan di koridor rumah sakit seraya membawa rantang berisi makanan.


Lea menenteng dua rantang makanan. Sebelum keruangan Daniel tempatnya di rawat, terlebih dahulu Lea mampir ke ruangan milik Nathan.


Lea sudah sampai didepan pintu Nathan, tanganya bergerak mengetuk pintu ruangan Nathan, namun suara dari belakang membuat tanganya terhenti.


Lea langsung membalikkan badanya, rupanya itu adalah suara milik dokter Kiki. Lea melihat dokter Kiki tersenyum hangat kearahnya, bukan hanya dokter Kiki saja tetapi ada dokter Zul dan pastinya dokter Nathan.


“Iya,” jawab Lea dengan santai seraya cengengesan. Zul yang melihat tingkah gadis remaja itu menggelengkan kepalanya, lucu saja gadis 19 tahun itu naksir kepada sosok Nathan yang usinya terbilang sedikit jauh denganya.


Dengan dokter Nathan yang sudah matang dari segi fisik maupun ekonomi.


“Dokter Kiki, dokter Nathan. Saya pamit duluan, saya ingin meninjau kondisi Daniel dulu,” pamit dokter Zul dan dibalas anggukan kepala oleh dokter Kiki dan dokter Nathan.


Dokter Kiki juga pamit untuk masuk kedalam ruanganya, sehingga hanya menyisahkan Lea dan juga dokter Nathan.


“Ngapain cari saya?” Tanya Nathan dengan ketus, dari suaranya saja dokter Nathan sudah menunjukkan jika dia tidak tertarik pada Lea. Namun gadis itu tetap kekeh mengejarnya.


“Lea cuman mau kasi ini sama dokter Nathan,” ucap Lea menyodorkan rantang berwarna biru kepada dokter Nathan.


Nathan melirik rantang yang di sodorkan oleh Lea, lalu melirik gadis itu.


“Saya sudah makan siang,” ucap Nathan dengan nada suaranya yang ketus.

__ADS_1


“Dokter Nathan bisa makan entar malam kok makananya,” ucap Lea masih setia menyodorkan rantang berisi makanan yang belum juga di sambut oleh dokter Nathan.


Dengan berat hati dokter Nathan mengambil makanan yang diberikan oleh Lea. “Terimaksih,” ucap Nathan dengan ketus.


“Sama-sama,”balas Lea dengan senyuman manisnya. Dokter Nathan melewati Lea lalu masuk kedalam ruanganya.


Lea hanya dapat melihat punggung kokoh dokter Nathan yang sudah masuk kedalam ruanganya.


Lea kembali melanjutkan langkah kakinya untuk menuju ruangan Daniel, rantang yang satunya berisi makanan untuk Agrif. Dia sudah menjanji anak itu untuk membwakanya Bekal.


“Bi, kakak cantik kok belum datang?” Tanya Agrif pada bibi yang menjaga Daniel.


“Tunggu saja yah, tidak lama lagi kakak cantik kamu akan datang.” Bersamaan dengan itu, pintu ruangan Daniel dibuka oleh Lea sehingga Agrif dan Bibi langsung melihat keasal pintu.


“Nah, itu dia kakak cantik kamu,” ucap Bibi.


“Kakak cantik!” Agrif langsung berlari dan memeluk Lea.


“Kakak cantik kok lama sih,” sedih Agrif dalam pelukan Lea.


Lea membalas pelukan Agrif. “Kakak lagi sibuk belajar tadi di kampus,” jawab Lea.


Agrif melepaskan pelukanya lalu menyipitkan matanya kearah Lea.


“Beneran?”


Lea mengangguk, “beneran dong,” ucap Lea.


“Kakak cantik nggak lagi gombalin dokter ganteng itu kan? Sehingga kakak cantik lama kesini?”


Lea tersneyum masam, seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Kamu makan dulu ini yah, ini makanan Pesanan kamu,” Lea mengalihkan pembicaranya.


Agrif langsung mengambil rantang yang diberikan oleh Lea dengan senang hati, “Makasih kakak cantik.”


“Sama-sama.”


“Agrif mau makan, kalau Kakak cantik suapin Agrif makan,” pintah anak itu dengan penuh harap kepada Lea.


“Yaudah, Ayok,” ajak Lea Menggandeng tangan Agrif menuju sofa.

__ADS_1


Lea duduk di kursi sofa seraya membuka bekal yang dia bawakan untuk Agrif tadi. Agrif menepuk tanganya saat melihat bekal yang dibawakan oleh Lea berupa nasi goreng kesukaannya dan sosis goreng.


“Buka mulutnya,” perintah Lea dan Agrif pun membuka mulutnya.


__ADS_2