Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Pondasi yang runtuh


__ADS_3

Lea menidurkan tubuhnya di samping Agrif yang sudah tertidur dengan lelap, dengan nafas beraturan.


Semwntara obat dan juga vitamin yang di berikan dokter Nathn tadi, di simpan diatas meja belajar Agrf.


Lea tidak bisa menyembunyikan kebahagianya malam ini. Nathan mampu mempropagandakan hatinya malam ini, dengan memberikan obat dan juga vitamin.


"Dokter Nathan," decak gadis itu.


Perlakuan manis dokter Nathan malam ini, mampu membuat Lea mengigit bibirnya dan juga bantal tidur.


"Kenapa perlakuan manis dokter Nathan nampak, setelah Lea mengatakan akan mundur dengan perasaan Lea sendiri," sesal gadis itu dengan memanyunkan bibirnya.


Entahlah, apakah dia Bersykur dengan keputusannya atau tidak. Karna berkat keputusannya itu dokter Nathan bersikap manis kepadanya.


"Kenapa sih dokter Nathan datang, dengan versi manis kayak buah mangga," celoteh gadis itu dengan suara tertahan. Agar suaranya tidak di dengar oleh Agrif.


"Dokter Nathan...Apa Lea perlu menarik kata-kata Lea kembali? Tentang berhenti mengejar cinta dokter Nathan? Karna perlakuan manis dokter Nathan, mampu membuat pondasi yang Lea buat, jadi hancur dalam hitungan detik!" desah gadis itu.


"Gara-gara perlakuan  dokter Nathan semanis buah mangga, mampu membuat Lea tidak bisa tidur malam ini!" hembusnya seraya mengingat kejadian di depan pagar tadi.


Seakan-akan dia ingin mengulangi kejadian tadi. Namun, apakah kejadian tadi bisa terulang lagi? Dan lebih manis lagi dari buah mangga.


Ting...


Ponsel gadis itu bergetar menandakan adanya pesan masuk.


Apakah Nando yang mengirimkanya pesan?


Lea bangun dari tempat tidur lalu berjalan menuju sofa. Karna ponselnya dia simpan di sana.


Lea mulai membuka pesan.


"Saya sudah sampai, di apartemen."


Le langsung membuang ponselnya keatas sofa saking kagetnya mendapatkan pesan dari seseorang yang selama ini tidak pernah menginginkannya.


"Apa dokter Nathan sehat?" gumam Lea masih tidak percaya jika yang mengirimkan Lea pesan adalah sosok pria yanh sangat dia idamkan.


Padahal. Seingat Lea, dia tidak mengatakan pada dokter Nathan tadi untuk menghubungi dirinya jika sudah sampai.

__ADS_1


Namun mengapa dokter Nathan memberitahukan padanya? Membuat jantungnya semakin bertalu-talu.


"Tarik nafas....hembuskan pelan-pelan." Gadis itu mengatur nafasnya sendiri saking tidak terkontrolnya jantungnya saat ini.


Ting....


Ponsel Lea kembali bergetar, pesan kembali masuk di ponselnya.


Lea tentu saja mendengar getaran ponselnya, dia melirik ponselnya yang berada diatas sofa, dengan keadaan terbalik karna membuang ponselnya begitu saja.


Dengan takut-takut gadis itu melangkahkan kakinya untuk mengambil ponselnya. Dia penasaran siapa yang mengirimkanya pesan.


Apa dokter Nathan kembali mengirimkanya pesan?


Gadis itu menggelengkan kepalanya. Sementara ponselnya sudah berada di tanganya. Dia belum memeriksa ponselnya, siapa yang mengirimkanya pesan.


Dia tidak ingin berharaoa jika mengirimnya pesan adalah Nathan. Lea berpikir, jika Nathan sedang kesambet setan penghuni roftop karna bersikap seperti ini kepadanya.


Tangan Lea bergetar saat membaca pesan dari Nathan lagi. Mungkin ini terlihat lebay jika dia mengatakan sangat bahagia dan juga terkejut karna Nathan kembali mengirimnya pesan dan juga perhatian kecil.


“Jangan lupa minum obat dan vitaminnya, Lea. Ingatkan juga untuk Agrif.”


“Dokter Nathan.” Gadis itu terpekik tertahan. Jika dia bersuara bisa-bisa Agrif bangun dari tidurnya.


Padahal, pesan tersebut sudah di baca sekitar lima menit yang lalu.


“Kok kesanya gue ngemis balasan wa dari, Lea?” desis Nathan menyesali karna telah menunggu Lea membalas pesanya.


Nathan belum meninggalkan room wa, dia masih melihat wa Lea sedang online tapi belum juga membalas pesanya.


“Shit!” Nathan mengumpat seraya melempar ponselnya keatas tempat tidur.


“Bisa-bisanya gue berharap sama bocah kayak, Lea!” sesal Nathan berjalan meninggalkan tempat tidurnya.


Kamar Farel berada di lantai atas. Sementara dia berada di bawah.


Nathan berjalan menuju dapur, untuk meminum air putih. Guna menjernihkan otaknya malam ini yang nampak di racuni oleh pesona kedewasaan Lea sesaat saat di makam Daniel dan juga di rumah sakit.


“Lea…” decak Nathan memegang keras gelas di tanganya.

__ADS_1


Dia meneguk air putih itu hingga tandas. Aura kedewasaan Lea terngiang-ngiang di otaknya. Di tambah lagi perkataan Frezan saat dia di rumah Frezan.


Semua bersatu membuatnya ingin berteriak saat ini juga. Nathan menggeser kursi meja makan, lalu duduk diatas kursi.


“Lebih baik gue mikirin kondisi, Valen,” sedih Nathan mengingat jika Valen sudah hilang di pantai Bali hingga saat ini dia belum di temukan.


Perlahan-lahan Lea hilang dalam pikiranya, karna memikirkan Valen yang hilang di pantai Bali.


Dia khawatir dengan kondisi Valen, bagaimanapun Valen pernah ada dalam hatinya.


“Kembali, Len. Meskipun gue nggak bisa milikin lo. Tapi lo harus kembali dengan keadaan selamat. Kebahagian lo baru mau sempurna karna kehadiran anak lo.” Nathan sibuk dengan pikiranya.


Sementara Lea bernafas legah setelah membalas pesan dari Nathan, setelah beberapa menit dia membiarkan pesan Nathan, karna dia sedang sibuk memikirkan kata-kata balasan untuk Nathan.


Lea menatap ponselnya, ceklis dua tak kunjung membiru. Padahal, sudah sepuluh menit dia membalas pesan wa Nathan.


“Lea tarik balik nggak sih, wa Lea?” gumamnya memikirkan. Apakah dia menarik pesan wa-nya kembali atau membiarkan pesan tersebut hingga di baca oleh Nathan.


Pusing berpikir dan wa nya tak kunjung di lihat, gadis itu meletakkan ponselnya diatas meja lalu berjalan menuju tempat tidur karna ngantuk sudah menyerang dirinya.


Lea mulai membaringkan tubuhnya di samping Agrif. Sejenak dia melupakan sedikit beban pikiranya karna perhatian manis dari Nathan.


Yang mampu membuat jantungnya bertalu-talu hingga detik ini juga. Gadis itu memeluk tubuh mungil Agrif lalu mulai memejamkan matanya.


Dia tertidur dengan keadaan jantungnya yang tidak karuan, tak lupa pula senyuman melekat di bibir gadis itu sampai dia menuju alam tidurnya.


Wajahnya nampak lelah, tapi hatinya sangat bahagia.


Karna ini semua ulah Nathan. Yang mampu membuat pondasi yang di buat gadis itu runtuh, karna perlakuan manis Nathan malam ini.


Sudah setengah jam Nathan di dapur, pria itu beranjak dari tempat duduknya karna sekarang sudah pukul sepuluh malam.


Pagi-pagi dia akan kerumah sakit untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang dokter di rumah sakit.


Nathan naik ke atas lantai tempat tidur Farel, guna melihat adiknya itu sudah tidur atau masih bermain game.


Nathan menyeritkan alisnya saat melihat dari jendela kamar Farel, lampu belajarnya masih menyala.


Apa anak itu masih belajar jam begini? Pikir Nathan.

__ADS_1


Nathan turun kembali, untuk segera ke kamarnya. Saat sampai di kamarnya dia mengambil ponselnya dan membaca pesan dari gadis yang sedari tadi dia tunggu pesanya.


“Apa dokter Nathan mulai suka sama, Lea?”


__ADS_2