Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Melepaskan


__ADS_3

Seorang gadis berseragam SMA sedang menyeberangi jalan yang bisa dikatakan cukup ramai. Tangannya bergerak untuk memberikan kode jika dia ingin menyebrang.


Huft


Terdengar helaan nafas legah keluar dari mulut gadis berseragam SMA itu saat berhasil menyebrangi jalan yang cukup ramai. Dia berjalan untuk menghampiri sesuatu yang sedari tadi ingin dia beli.


"Mas, ice cream rasa coklat satu, yah!" kata gadis berseragam SMA itu cukup keras karena banyaknya pelanggan sehingga dia berada paling belakang.


"Ok!" Sahut pedagang ice cream itu.


Gadis berseragam SMA itu mengeluarkan uangnya untuk dia bayar setelah ice cream sudah berhasil.


Gadis berseragam SMA itu nampak kesal, karna sudah sepuluh menit dia menunggu ice cream nya namun belum juga gilirnya. Saking banyaknya pembeli ice creaam. Ice cream dengan harga sederhana mampu membuat pembeli selalu ramai. Soal rasa jangan diragukan lagi.


"Akhirnya!" menolog gadis itu sembari mengambil ice tersebut serta memberikan uang sepuluh ribu harga ice cream tersebut.


Gadis yang masih mengenakan seragam SMA itu berjalan dikursi yang kosong untuk menikmati ice cream yang telah dia beli tadinya.


"Mau hujan lagi!". jengkelnya karna awan diatas sudah mulai menggelap menandakan akan turunya hujan.


Gadis itu beranjak dari kursinya, dilihatnya jalan yang nampak ramai oleh kendaraan roda dua maupun roda empat yang menghiasi jalan sore hari ini.


Gadis itu berjalan untuk segera menyebrang karna sebentar lagi akan hujan. Sementara mobilnya berada diseberang jalan.


Gadis itu melihat kiri kanannya takut-takut jika kendaraan tiba-tiba saja muncul dihadapannya seperti disinetron.


Gadis itu mulai berjalan ditengah jalan yang nampak ramai dengan tangannya bergerak memberikan kode kepada pengendara motor dan mobil. Jalan sore ini nampak ramai membuatnya sedikit takut untuk menyeberang.


Mobil hitam dengan kecepatan tinggi dari arah belakang membuat gadis berseragam SMA itu membulatkan matanya, kakinya kakuh untuk bergerak saking terkejutnya melihat mobil tersebut tertujuh kepadanya.


Gadis itu yakin dia akan pergi meninggalkan dunia ini, sementara ice creamnya masih utuh ditangannya.


"AHK!!!" Teriak gadis itu saat mobil itu memberikan klakson begitu bertubi-tubi. Karna sang pengendara mobil itu sudah tidak bisa mengendalikan mobilnya.


BRUK


Semua mata tentunya berteriak melihat kejadian sore hari ini.


Gadis berseragam SMA itu terlempar didekat got dengan kepalanya sedikit terbentur. Dia yakin seseorang dengan cepat mendorong tubuhnya sehingga dia terlempar disini.

__ADS_1


Jalan raya nampak ramai membuat gadis itu semakin yakin jika seseorang telah menyelamatkan nyawanya. Dengan jalan gontai gadis itu berjalan kearah jalan raya tersebut.


Gadis itu menerobos dengan jantungnya yang terus saja berdetak kencang, dia penasaran siapa yang menyelamatkan dirinya hingga membahayakan nyawanya sendiri.


"Telfon ambulance!" salah satu suara yang begitu keras memasuki gendang telinga gadis berseragam SMA itu yang hampir sampai didekat objek tersebut.


"CEPAT PANGGIL AMBULANCE!" Suara bergetar tersebut membuat gadis berseragam SMA itu menggelengkan kepalanya. Dia merasa tidak asing dengan suara tersebut.


Deg


Jantung gadis berseragam SMA itu berdetak kencang saat melihat tubuh terkepal gadis berlumuran darah yang menggunakan seragam SMA yang sama dengannya.


Seorang cowok yang memangku tubuh yang berlumuran darah itu menggoyangkan kepala seseorang yang berada dalam pelukannya.


"BANGUN DEL. JANGAN TINGGALIN GUE!"


Gadis yang diselamatkan tadi menggelengkan kepalanya dengan air matanya jatuh begitu saja saat seorang cowok itu berteriak nama yang tidak asing bagi telinganya.


Gadis itu sempat tidak mengenal wajah berlumuran darah yang menyelamatkannya, karna wajahnya sudah berlumuran darah. Sementara warga begitu paniknya sembari menelfon AMBULANCE dan juga polisi.


Jalan pada sore hari ini sangat macet karna adanya kecelakaan.


"Adelia." Gadis itu menyebutkan nama Adelia dengan bergetar dengan air matanya lolos dipelupuk matanya.


Dia tidak menyangka jika yang menyelamatkannya adalah sosok gadis yang bersaing denganya mendapatkan cinta Tegar.


Deg


Jantung gadis itu berdetak sangat kencang saat cowok yang memangku tubuh yang terkapar bersimbah darah itu menatapnya dengan mata memerah serta air mata kasar turun diwajahnya.


"Valen."


" Kak Rifal."


Mereka berdua bersamaan membuat tangan Rifal terkepal kuat melihat Valen dengan luka dijidatnya yang tidak seberapa.


Ambulance belum juga datang, sementara hujan sudah turun dengan gerimis bersamaan dengan ambulance datang mengangkat tubuh Adelia yang sudah berlumuran darah.


Rifal menatap Valen saat Adelia dalam dekapannya sudah diangkat kedalaman ambulance.

__ADS_1


Valen menggelengkan kepalanya kuat. Melihat wajah Rifal yang nampak murkah membuatnya takut apa lagi keadaan Adelia yang jauh dari kata baik-baik saja saat ini.


Mobil ambulance telah membawa Adelia untuk segera ditangani dirumah sakit bersamaan dengan turunnya hujan begitu deras.


Hujan begitu deras sementara kedua insan yang menggunakan seragam SMA masih bertatapan dengan mata Valen yang menitihkan air mata sedangkan mata Rifal memerah menahan amarahnya.


Valen menggelengkan kepalanya kuat, dia melihat wajah kebencian dari wajah Rifal membuatnya semakin bergetar dibawah derasnya hujan sore ini.


Darah milik Adelia dibasahi oleh air hujan yang begitu sangat deras.


Kedua insan itu seakan-akan tidak merasakan kedinginan karna berada pada situasi yang sangat gawat!


Valen menggelengkan kepalanya dengan tubuh bergetar. "Bukan gue yang buat diacelaka."


"Dasar pembunuh!"


Valen mencengkram kuat pagar pembatas roftop saat mengingat kejadian sepuluh tahun yang lalu. Dimana sosok Adelia yang sama-sama bersaing denganya mendapatkan Tegar menyelamatkan nyawanya saat itu.


Dimana saat itu juga kakak kelasnya bernama Asrifal kerap disapa Rifal mengatakan dirinya seorang pembunuh.


Dan disinilah Valen berada diroftop rumah sakit bersama dengan Nathan. Valen membiarkan wajahnya diterpa angin malam diatas roftop rumah sakit dengan Valen memegang pagar pembatas roftop.


Sementara Nathan sedang duduk dikursi. Tempat disini yang selalu Nathan kunjungi jika dia mempunyai masalah. Dan sekarang dia mengajak Valen untuk kesini.


Valen memejamkan matanya membiarkan angin diatas roftop menerpah wajahnya dengan tangannya mencengkram hebat pagar pembatas roftop.


Dia masih memikirkan perkataan Amora yang membuatnya merasakan dosa yang sangat besar.


Air mata Valen menetes dengan angin roftop menerbangkan anak rambutnya. Mengingat kejadian itu yang seharusnya dia yang merasakannya. Seharusnya dia yang baring dirumah sakit selama sepuluh tahun, bukan Adelia.


"Masa lalu nggak baik buat dikenang kalau hal itu buat lo semakin tertekan." Nathan datang sehingga dia berdiri disamping Valen melihat kedepan gedung-gedung yang sangat tinggi.


Lepaskan Rifal untuk Adelia. Sebagai balas Budi.


Kata -kata Amora terngiang-ngiang dibenaknya.


Valen melirik Nathan yang sedang meliriknya juga, mereka berdua bertatapan diatas roftop rumah sakit, Valen bisa melihat Nathan sangat peduli kepadanya.


"Apa gue harus lepasin Rifal."

__ADS_1


__ADS_2