Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Nasi goreng buatan Nando


__ADS_3

Nando membuka pintu ruangan tempat Rifal di rawat dengan menenteng kantongan yang di dalamnya berisi nasi goreng buatanya untuk Rifal.


Matanya kembali bertemu dengan mata Lea. Lea mengalihkan pandangnya kearah jendela karna merasa tidak enak pada Nando.


“Nando udah datang,” kata Valen sembari mengambil kantongan berisi nasi goreng dari tangan Nando.


“Aku nggak percaya kalau dia yang masak,” seloroh Rifal membuat Nando mencaci maki Rifal dalam hatinya, karna pria itu tidak percaya jika dirinya yang membuat nasi goreng. Rifal saja tidak melihat perjuangannya membuat nasi goreng hingga membuat dapur penjual itu menjadi berantakan seperti kapal pecah.


“Kamu nggak lihat yah, Fal. Perjuangan saya buatkan kamu nasi goreng!” kesal Nando lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya karna bau bawang menempel di bajunya.


“Nggak berterimakasih sama sekali,” lanjutnya lalu masuk kedalam kamar mandi.


Valen yang mendengar segala ocehan Nando tertawa kecil, dia membuka mika berisikan nasi goreng bau nasi goreng tersebut langsung tercium di indra peciumanya.


Dari wanginya sepertinya enak menurut Valen, namun tidak tau dengan rasanya seperti apa.


“Aku cicipi dulu yah, siapa tau keasinan atau nggak enak jadi kamu nggak suka,” kata Valen lalu memakan nasi goreng tersebut.


“Enak nggak?”tanya Rifal saat mendengar Valen sudah mengunyah nasi goreng buatan Nando.


“Rasa nasi gorengnya nggak buruk-buruk amat. Lumayan enak lah, yang buat seperti modelan Nando,” kata Valen.


“Aku yakin, Nando yang buat ini nasi goreng. Karna dia langsung masuk kamar mandi buat bersihin badanya karna bau bawang,” kekeh Valen membuat Rifal juga tersenyum.


Valen langsung menyuapi Rifal nasi goreng, menuntun pria itu untuk makan, suapan pertama dapat di rasakan oleh Rifal.


Menurut Rifal nasi goreng buatan Nando lumayanlah.


“Lea, kamu bisa nyuruh Nando buatin kamu nasi goreng, nasi goreng buatanya lumayan enak loh,” kata Valen kepada Lea yang sedang duduk diatas sofa, sepertinya gadis itu tengah memikirkan sesuatu.


Lea melirik Valen. “Lain kali Lea nyuruh kak Nando,” kata gadis itu sembari cengengesan.


“Kalau perlu kamu buat dia lebih repot,” sahut Rifal dan dibalas acungan jempol oleh Lea, meski dia tau Rifal tidak akan melihatnya kamu dia tetap mengacungkan jempolnya.


“Siap om!” kata Lea dengan semangat empat lima.


Rifal telah usai memakan nasi goreng tersebut hingga tandas. Valen langsung menuntun Rifal untuk minum menggunakan pipet minuman lalu melap bibir pria itu dengan tisu.

__ADS_1


Lea menunggu Nando keluar dari kamar mandi, sepertinya pria itu mandi karna sudah beberapa menit dia di kamar mandi.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, muncullah Nando dengan setelan jas kantornya yang mengenakan setelan tuxedo membuatnya semakin tampan.


Nando melihat kearah kananya, rupanya Lea tengah memperhatikan dirinya. Lea meneguk salivanya melihat aura Nando yang tidak biasa.


Iya, aura pria itu terlihat dewasa bukan Nando yang jahil, Nando langsung memasang kacamata hitamnya dengan raut wajah datar menatap Lea membuat Lea gelagapan.


Lea merasa sungkan menyapa Nando dengan ekspresi wajah pria itu hanya datar saja.


Nando langsung berjalan menuju bansal milik Rifal,” Bos Rifal, saya ke kantor dulu,” kata Nando dengan suara rendahnya disertai dengan candaan.


“Lo urus perusahaan dengan baik, sampai gue bisa kembali melihat,” kata Rifal dengan tegas. “Dan jangan lupa, mulai besok Amora sudah harus bekerja,” lanjutnya menyebut nama Amora dengan tidak suka.


“Tap-“


“Tidak ada tapi-tapian Fernando,” kata Rifal menekan nama Fernando, hingga menyebut nama asli tangan kananya itu.


“Nan, kamu nggak pamit sama Lea,” kata Valen membuat langkah kaki Nando terhenti.


Sementara Lea langsung menggigit bibir bawahnya. Nando kembali melanjutkan langkah kakinya tanpa pamit pada Lea membuta Lea tersenyum kecut.


Seharusnya dia yang ngambek dengan Nando. Bukan malah sebaliknya.


Lea langsung menutupi wajahnya dengan bantal saat Valen melihatnya, dia malu saat ini!!!


“Mereka ada masalah?” Tanya Rifal yang penasaran dengan hubungan tetangganya itu dengan tangan kananya.


“Entah,” jawab Valen sekenanya membuat Rifal berdecih, entah mengapa dia tidak suka jika Valen menjawab pertanyaanya dengan singkat.


Beberapa menit kemudian Dokter Hamka dan dokter Kiki datang.


“Saya akan memeriksa kondisi pak Rifal,” kata dokter tersebut dan dibalas anggukan kepala oleh Rifal.


Dokter tersebut langsung memeriksa kondisi Rifal, “gimana kondisi suami saya, dok?” Tanya Valen setelah dokter Hamka telah usai memeriksa Rifal.

__ADS_1


“Kondisi suami dokter Valen sudah membaik, dia sudah bisa pulang besok,” kata dokter Hamka, “dan kami akan menghubungi dokter Valen jika kami sudah menemukan pendonor mata yang cocok untuk suami dokter Valen,” lanjutnya dengan menjelaskan pada Valen.


“Alhamdulillah, saya harap semoga secepatnya ada pendonor mata untuk suami saya,” kata Valen dengan penuh harap, karna tidak tega melihat Rifal dengan kondisi seperti ini.


“Kami akan mencari pendonor mata dengan cepat,” kata Dokter Hamka dan dibalas angguka kepala oleh Valen.


“Apakah saya sudah pulang nanti? Tanpa menunggu hari esok? Saya sudah bosan Disini,” kata Rifal, jujur saja dia sudah pengap di sini, meski kamar yang dia tempati sudah mewah namun dia tetap tidak nyaman di tempat asing.


Dokter Hamka tertawa kecil, “tentu saja bisa pak Rifal, saya akan menyuruh perawat untuk mengambilkan obat,” kata dokter Hamka dengan ramah.


“Terimaksih,” kata Rifal.


“Sama-sama.”


“Oh iya dokter Valen, saya ingin minta bantuan sama dokter Valen,” kata dokter Hamka dengan serius.


“Katakan saja dok, saya akan membantu ,” balas Valen dengan ramah.


“Apakah dokter Valen bisa melakukan operasi siang ini untuk menggantikan dokter Nathan yang keluar kota?” Tanya Dokter Hamka. “Karna saya tidak bisa melakukan operasi siang ini karna ada pertemuan darurat bersama dengan keluarga.”


“Saya bisa membantu,” kata Valen.


“Makasih.”


“Sama-sama.”


Kedua dokter tersebut langsung pamit, sementara dokter Kiki kembali berpikir. Yah, dia berpikir karna Adelia meminta untuk bertemu dengan Rifal apa lagi saat dia mengetahui jika Rifal buta karna kecelakaan ini.


Sementara Valen sudah memberitahukan pada Rifal, dan Rifal mengizinkannya.


Sebenarnya dokter Kiki ingin menolak, tapi Adelia sudah berjanji tidak akan mengeluarkan suaranya saat bertemu dengan Rifal, dia hanya ingin melihat Rifal apa lagi kondisi Rifal tengah buta.


Dokter Kiki akan menemani Adelia, karna perempuan itu mengatakan Jika dokter Kiki memenuhi permintaannya dia berjanji tidak akan menganggu Rifal dan Valen.


Sebenarnya Kiki tidak sepenuhnya percaya, namun melihat ketulusan Adelia yang berjanji membuat dokter Kiki kembali mengiyakan permintaan Adelia yang kedua kalinya untuk menemui Rifal.


Terlalu ribet menurut dokter Kiki, namun dia juga kasihan pada sosok Adelia.

__ADS_1


__ADS_2