Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Duka


__ADS_3

Pram…


Kayla yang sedang menonton tv langsung berjalan dengan cepat menuju dapur karna mendengar suara gelas pecah dari arah dapur.


“Ra..” panggil Kayla lalu berjalan menuju Rara yang masih mematung.


Susu yang ingin di minun Rara, jatuh begitu saja. Ponsel yang berada di tanganya juga ikut jatuh.


Ada kabar apa?


“Lo kenapa, Ra?” tanya Kayla dengan khawatir.


Bukanya menjawab pertanyaan Kayla, Rara malah menangis.


“Ky…” Panggil Rara dengan bibir bergetar.


“Heh, lo kenapa, Ra?” Kayla masih melayangkan pertanyaanya. Karna Rara tak kunjung menjawab.


“Daniel, Kay…”


“Daniel kenapa, Ra?”


“Daniel meninggal.”


Deg


Jantung Kayla berdetak kencang, seakan-akan ruangan di sini menjadi panas.


“Ra…” panggil Kayla dengan suara bergetar.


“Daniel meninggal, itu tandanya….”


Kedua wanita itu menangis, Rara langsung mendekati Rara memeluk Kayla dengan erat.


Tanpa Rara rasakan, jika kakinya menginjak pecahan gelas yang pecah tadi.


“Kay….Abang El! Hikssss….!!!”


Bruk


“BIBI!”


Teriak Rara memanggil nama Bibi. Karna saat ini Kayla jatuh pingsan di dapur.


Bukan bibi yang datang, melainkan Kevin orang tua Rara. Kevin langsung menggendong Kayla menuju sofa.


“Kayla kenapa pingsan, Ra?” tanya Alvina sibuk memberikan minyak kayu putih pada hidung Kayla dan juga kakinya.


“Kamu juga kenapa menangis, Ra?” tanya Alvina lagi kepada anaknya itu.


“Bun…”


“Bilang sama bunda, Kayla kenapa sampai pingsan? Dan kamu juga nangis kayak gini?”


“Kak Daniel meninggal, jam 9 tadi.”


Tangan Alvina langsung berhenti mengolesi Kayla minyak putih, saat Rara mengatakan jika Daniel meninggal.


“Ra….kamu dapat info dari mana?” tanya Alvina dengan bibir bergetar.


“Dari Kak Nathan. Dia yang bertugas bersama dua dokter lainya menjaga Daniel.”


Perasaan Alvina langsung tidak enak, Kevin dengan cekatan memegang tubuh Alvina.


“Kita ke kamar,” ucap Kevin.


“Vin….Elga. Anak kita.”

__ADS_1


“Tenangkan dirimu.”


Kevin sudah membawa Alvina keatas kamar.


Sepuluh menit kemudian, akhirnya Kayla sadar dari pingsanya.


“Ra…Elga, Ra!”


Rara langsung memeluk Kayla.


“Itu tandanya. Elga bakalan di penjara 13 tahun lamanya, Ra…..”


Rara mengantar Kayla untuk istirahat didalam kamar. Mungkin semua ini berat, tapi dengan 13 tahun lamanya di penjara mungkin menjadi hal yang impas karna nyawa seseorang melayang karna ulah Elga.


Rara menutup pintu kamar Kayla, dia baru merasakan perih di kakinya karna menginjak pecahan kaca tadi.


“Sakit banget,” keluhnya seraya berjalan menuju kamar.


Rara berpikir. Pantas saja Frezan pergi dengan buru-buru. Sampai-sampai pria itu pergi tanpa membawa ponselnya.


Rara membaringkan tubunya diatas tempat tidur. Dia berharap ini hanya mimpi saja. Namun semuanya nampak nyata, membuat Rara harus menerima kenyataan ini.


“Kak Eza, kaki Rara sakit.” Rara mengeluh karna sakit pada kakinya terasa nyut-nyut.


Drt….


Ponsel Rara berbunyi. Dia melihat siapa yang menelfon. Nathan yang menelfonya jam begini.


“Halo.” sapa Rara.


“Ra, ini aku, Eza.” Suara dingin dari sebarang Telfon membuat Rara ingin menangis.


“Kak Eza.”


“Apa kamu sudah mendengar beritanya?” tanya Frezan dengan suara serak.


Sehingga dia menelfon Rara menggunakan ponsel Nathan.


Frezan berada di luar ruangan Daniel untuk menelfon Rara. Karna di dalam sangat ribut, karna suara tangisan Agrif.


Meski Frezan di luar, tetap saja suara isakan tangis Agrif dari dalam terdengar hingga di luar. Sampai-sampai Rara mendengarnya juga.


“Kak Eza, itu suara siapa yang nangis?” tanya Rara.


“Agrif. Anak Daniel.”


Frezan menjawab, Rara sudah tau jika Daniel mempunyai satu anak. Dia sudah di beritahu Frezan kemarin.


“Ra…kamu baik-baik aja, kan?” tanya Frezan karna mendengar suara Rara dari sini sangat kesakitan.


Apa karna mendengar berita Daniel? Sehingga Rara nampak kesakitan.


Rara belum menjawab pertanyaan Frezan, dia melihat kakinya masih mengeluarkan dara segar.


“Kaki aku berdarah,” jawab Rara seraya melihat kakinya mengeluarkan dara segar.


“Kamu biarin luka kamu?” tanya Frezan dengan suara khawatir.


“Iya.”


“Kamu tunggu di situ. Aku bakalan suruh Nathan kesitu buat bersihin luka di kaki kamu. Kalau kamu biarin, bakalan tambah parah, Ra. Bakalan infeksi.”


“Nggak usah nyuruh Nathan kesini. Kamu lupa kalau ayah dokter?” Rara memberikan pernyataan pada suaminya di seberang Telfon.


Frezan memijat pelipisnya, saking pusingnya dia sampai lupa jika ada Kevin di rumah.


Meski Kevin sudah pensiun menjadi seorang dokter dirumah sakit, bukan berarti dia pensiun juga mengenai luka.

__ADS_1


“Kamu tunggu di kamar. Aku bakaln Telfon ayah untuk ke kamar kamu, obatin luka kamu.”


Rara hanya bisa menganguk, tidak berniat untuk membantah perkataan Frezan lagi.


“Kamu jangan ceroboh lagi, Ra.”


“Iya.”


“Malam ini aku nggak pulang, aku mau urus persiapan Daniel untuk besok.”


“Hmm. Iyya.”


“Yasudah. Aku tutup telfonya.”


Frezan menutup telfonya. Lalu segera kembali masuk ruangan Daniel.


Saat ingin membuka handel pintu ruangan daniel. Seseorang dari arah belakang langsung memanggilnya.


“Frezan.”


Pergerakan tangan Frezan terhenti.


“Ada apa?” tanya Frezan kepada Zul yang memanggil dirinya.


“Apa kamu sudah tau?”


“Tau apa?”


“Lea.”


Frezan menganguk tanda dia sudah mengetahui semuanya.


Pukul satu malam.


Sepertinya Agrif sudah lelah menangis, karna anak itu sudah tidur dalam pangkuan Lea yang menatap kosong kedepan.


Dokter Kiki. Nathan dan Zul masih berada di ruangan Daniel.


“Kita bawa jenazahnya. Sekarang?” tanya Daniel kepada Frezan.


“Nath. Menurut mu, alm di bawa kerumahnya atau kerumah ku?” tanya Frezan meminta pendapat dari Nathan.


“Kalau menurut ku, lebih baik alm di bawah kerumahnya saja, untuk menginjakkan kakinya untuk terakhir kalinya di rumahnya sendiri.” saran nathan.


“Tapi itu kembali padamu lagi, Za.”


“Kita bawa alm ke rumahnya.”


“Aku Telfon supir ambulance untuk menyiapkan mobil.”


Nathan mulai menelfon supir ambulance. Tengah malam begini mereka akan kerumah Daniel membawa Daniel kerumahnya.


“Ambulance sudah siap.”


Perawat lelaki mulai mendorong brankar yang di atasnya ada Daniel, mereka mendorongnya keluar untuk menuju mobil ambulance.


Air mata Lea semakin deras, melihat brankar milik Daniel telah di dorong keluar untuk segera di bawa ke ambulance.


“Nathan, ajak Lea.” Frezan meninggalkan ruangan setelah mengingatkan pada nathan untuk mengajak Lea.


“Lea. Ayok. Biar saya yang gendong Agrif.”


Lea terbangun dari lamunanya, dan melihat ruangan ini sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Kecuali dirinya. Agrif dan juga dokter Nathan.


Lea menganguk seraya memberikan Agrif kepada Nathan. Nathan langsung menggendong Agrif lalu Lea mengekorinya dari belakang.


Malam ini, malam terakhir Lea berada di rumah sakit Ini untuk menjaga Daniel. Karna pria itu sudah pergi untuk selama-lamanya.

__ADS_1


Di sepanjang koridor rumah sakit, Lea terus-terusan menangis.


__ADS_2