
Pukul empat sore, Lea masih berada di lingkungan kampus. Rasanya sangat berat untuk melangkah meninggalkan kampus.
Lea berjalan menuju kursi di luar gerbang seraya menunggu taxi. Setelah sampai di kursi dia langsung mendudukkan bokongnya di kursi.
Ponselnya sedari tadi masuk notif dari, Agrif. Lea tidak mempunyai tenaga untuk merayu Agrif.
Saat ini, dia hanya menunggu notif dari Nando. Menunggu kabar baik dari Nando mengenai kondisi Rifal sudah sadar atau belum.
Dan Valen sudah ketemu atau tidak. Lea berharap, Valen sudah ketemu. Rasanya, hatinya tidak kuat jika Valen hingga saat ini belum ketemu.
''Ya Allah, lindungi dokter Valen, bersama baby, R,'' lirih Lea, mengingat momenya bersama Valen membuatnya menitihkan air matanya.
Gadis itu menatap ke depan, dengan tatapan kosong. Tapi tidak dengan pikirnya.
''Lea!''
Panggilan dari seseorang membuat Lea terkejut, dan buyar dari lamunannya.
‘’Dokter Valen!'' Lea bahagia melihat Valen tersenyum kepadanya, wajahnya yang cantik membuat Lea lagi-lagi mengagumi kecantikan milik dokter Valen.
Dia seperti mimpi di siang bolong begini!
‘’Dokter Valen....''
‘’Dokter Valen udah ketemu? Lea bahagia banget dokter Valen udah ketemu!'' Tangisnya lalu memeluk orang di hadapnya yang dia pikir Valen.
Sementara orang yang memanggil Lea tadi mengerutkan dahinya dalam-dalam.
Yah, dia bingung dan penasaran dengan perkataan Lea tadi. ,Dokter Valen udah ketemu?,
Memangnya Valen hilang kemana?
‘’Dokter Valen, Lea takut kalau dokter Valen ninggalin kita semua! Tapi Lea senang, dokter Valen udah ketemu dan sekarang ada di sini, dan Lea peluk!''
''Lea....saya bukan dokter Valen.''
Deg
Suara yang tidak asing itu membalas perkataan Lea. Gadis setengah sadar itu mendongakkan kepalanya dan melihat siapa yang dia peluk.
Yang pastinya, yang dia peluk bukanlah seorong perempuan. Karna suara yang membalas perkataan Lea tadi suara laki-laki.
Suaranya sungguh tidak asing, masuk ke gendang telinganya. Matanya yang basah karna air mata bertatapan dengan mata pria yang bingung dengan tingkahnya saat ini.
__ADS_1
Hiks!!!
Lea semakin terisak, saat melihat wajah yang dia peluk. Bukan dokter Valen yang dia peluk, melainkan tubuh pria yang selama ini dia incar.
Pria itu semakin gelagapan, dia membantu Lea untuk duduk di tempatnya tadi.
Lea menundukkan kepalanya menangis dengan terseduh-seduh. Tangan pria yang Lea peluk tadi langsung mengusap punggung Lea.
''Dokter Valen!'' tangis Lea membuat pria itu melihat kesana-kemari. Dia takut, jika orang-orang berpikir jika dia yang menbuat Lea menangis seperti ini.
''Kamu kenapa?'' tanyanya dengan tegas.
Lea tidak menjawab, dia semakin terisak masih menundukkan kepalanya.
‘’Dokter Valen hilang dimana?'' Tanyanya dengan menuntut jawaban Lea saat ini.
Lea berusaha menetralisirkan dirinya, dia kembali menatap pria yang dia peluk tadi. Jujur saja, saat memeluk pria yang dia sangka Valen, dia merasakan kenyamanan.
Mungkin karna pikiranya di penuhi dengan Valen, sehingga wajah pria tadi berubah menjadi wajah dokter Valen.
''Lea,'' panggil pria itu lagi, karna Lea tak kunjung menjawab pertanyaanya.
Dia sangat penasaran, Valen hilang kemana.
‘’Dokter Valen hilang di pantai Bali.'' Dengan suara bergetar Lea menjawab. Ahk, karna pelukan nyaman tadi membuat Lea ingin kembali menangis.
Apalagi wanita itu selalu membantunya, buktinya saja dia membantu Valen agar praktek di rumah sakit tempat dia bekerja.
Jawaban dari Lea sukses membuatnya terpaku. Mengapa berita ini tidak sampai di rumah sakit mengenai Valen. Dan dia mendapatkan kabar ini dengan Lea.
''Dokter Nathan, boleh Lea peluk?'' Tanya Lea dengan air mata masih berlinang di pipihnya.
Yah, pria itu adalah dokter Nathan yang tidak sengaja melihat Lea tadi melamun. Dia melihat gadis itu melamun sehingga Nathan menghampirinya.
Namun hal tidak terduga terjadi, Lea memeluknya dan menganggap dirinya adalah dokter Valen.
Nathan menatap Lea, dia bisa melihat kesedihan gadis di depanya.
Nathan mengangguk, setelah sekian menit berpikir. Apakah dia mengiyakan permintaan Lea atau tidak.
Lea langsung memeluk Nathan kembali, merasakan pelukan yang kedua kalinya. Jujur saja dia nyaman dengan memeluk Nathan saat ini.
Seakan-akan pikirnya menjadi tenang memeluk Nathan. Mereka berdua duduk di samping pagar kampus.
__ADS_1
Frezan yang melihat Nathan memeluk menyungkirkan senyumanya, dia melewati jalan yang di tempati Nathan dan Lea duduk.
''Baru semalam ngomong nggak mau, sekarang dia malah berpelukan,'' Frezan bergumam membuat Rara yang mendengar suara Frezan berkata nyaris hilang langsung bertanya.
''Kak Eza ngomong apa?'' Tanya Rara.
''Nggak.'' Singkat padat dan jelas.
''Kak Eza masih marah, yah, sama Rara,'' tanyanya, sementara Frezan hanya mengabaikan pertanyaan Rara.
Sementara Kayla tidur di kursi belakang, dia sangat letih hari ini.
''Kak Eza, mobilnya tolong di pinggiran dulu. Rara mau beli rujak,'' perintah Rara.
Frezan tanpa menjawab langsung meminggirkan mobilnya. Rara turun dari mobil seraya mengambil dompetnya.
Frezan membuka jendela mobil melihat Rara asik memilik berbagai jenis buah-buahan.
''Di rujak jadi satu yah, pak.'' Intruksi Rara dan dibalas anggukan kepala oleh si tukang rujak.
Sejak kapan bocil itu suka rujak?
Frezan masih memperhatikan Rara dari dalam mobil.
Rara singgah beli rujak untuk Kayla. Karna sedari kemarin Kayla ingin makan rujak namun semuanya sudah habis.
‘’Total semuanya berapa, pak?'' Tanya Rara mengambil kantongan kresek oleh si bapak tukang rujak. Di dalam kantongan kresek yang di pegang Rara, sudah ada beberapa cap rujak di dalamnya.
''75 ribu, neng,'' jawab tukang rujak.
‘’Ambil lebihnya aja.'' Rara memberikan selembar uang seratus lalu pergi dari depan gerobak untuk segera kembali ke mobil.
Rara masuk kedalam mobil dengan membawa kantongan kresek berisi rujak. Frezan kembali melajukan mobilnya untuk segera pulang kerumah.
Hari ini, dia yang akan menjemput anak-anak. Karna pekerjaan kantor sudah di handel oleh sekretarisnya.
''Sejak kapan suka rujak?'' Tanya Frezan datar tanpa mengalihkan pandanganya dari depan.
''Bukan Rara, tapi Kayla. Dari kemarin Kayla mau makan rujak, tapi udah habis,'' jelas Rara. ‘’Andai aja ada Abang El, pasti Kayla bakalan manja saat hamil dan merengek sama Abang untuk di cariin rujak sampai dapat,'' lanjutnya.
Rara melirik Frezan. ‘’Semogah aja kak Eza berubah pikiran.''
Frezan tidak membalas perkataan Rara. Mobilnya langsung masuk kedalam pekarangan rumah untuk memarkirkan mobil.
__ADS_1
Frezan lebih dulu turun dari mobil, sementara Rara tengah membangunkan Kayla yang sepanjang jalan tertidur.
Kayla bangun lalu mengikuti langkah kaki Rara untuk masuk kedalam rumah, sedari tadi dia menguap karna di bangunkan secara paksa oleh Rara.