
Mendapatkan jawaban dari dokter Hamka membuat Valen memperbaiki perasaannya di kursi. Ini kesekian kalinya pendonor mata untuk Rifal tidak cocok.
Ting…
Dokter Hamka membaca pesan dari dokter Kiki .
“Dokter Valen,” panggil dokter Hamka.
“Untuk malam ini, suami dokter Valen di rawat di sini terlebih dahulu, karna kata dokter Kiki ada pendonor mata untuk Rifal.” Terang dokter Hamka membuat Valen yang duduk di kursi menarik nafasnya panjang.
Dia tidak boleh menyerah. Jika dia menyerah menunggu sama saja menjatuhkan harapan Rifal untuk melihat kembali.
“Baik,” balas dokter Valen.
Bansal milik Rifal langsung di dorong masuk keruangan inap. Valen belum memberitahukan kepada Rifal jika matanya kali ini tidak cocok lagi.
Namun Rifal yang sudah tau gerak gerik dokter hanya menghembuskan nafasnya gusar saja.
Dia tau jika mata untuknya lagi tidak cocok.
Sementara dokter Kiki dan dokter Nathan saling bertatapan saat memeriksa pergelangan tangan Adelia sudah tidak berdetak lagi.
Nathan melepaskannya secara perlahan. “Adel udah pergi,” kata dokter Nathan membuat dokter Kiki refleks menutup mulutnya dengan tanganya.
Air mata dokter Kiki menetes, dia melirik Adelia yang sudah memejamkan matanya. Dia langsung memeluk Adelia, dia mengingat jika Adelia menyuruhnya untuk mendonorkan matanya untuk Rifal.
Sekarang gadis itu sudah tidak sakit lagi, sekarang dia sudah tidur dengan tenang tanpa harus menahan sakit.
“Hiks….Hiks. Adel,” isak Dokter Kiki, meski baru mengenal gadis itu namun mampu membuat hatinya terombang-ambing dengan permintaan gadis itu yang minta bertemu dengan Rifal.
Sekarang, sudah tidak ada lagi yang minta tolong kepadanya untuk mengantarnya melihat Rifal.
Sementara Nathan mencabut alat pembantu pernafasan Adelia yang di pasang tadi, dia pikir gadis itu bisa di selamatkan namun ternyata sebaliknya.
Dia mencabut selang infus di tangan Adelia lalu menutup Adelia dengan kain putih.
Nathan juga menitihkan air matanya, sebagai seorang dokter yang menangani Adelia selama ini dia juga merasakan sakit melihat pasien yang begitu hebat telah pergi meninggalkannya.
__ADS_1
“Apa Adel tidak mempunyai keluarga untuk menjemputnya?” Tanya dokter Kiki dengan suara seraknya.
Nathan menggelengkan kepalanya. “Dia hanya mempunyai seorang kakak, tapi dia sudah di penjara akibat merencanakan kecelakaan Rifal.”
Deg
Dokter Kiki terdiam, dia pikir Amora yang merencanakan kecelakaan Rifal tidak mempunyai hubungan dengan Adelia. Namun ternyata mereka berdua adik kakak.
“Saya pikir mereka tidak mempunyai hubungan,” kata dokter Kiki dengan suara seraknya.
“Tanpa saya jelaskan pasti kamu sudah paham, mengapa Amora melakukan ini semuanya,” kata Dokter Nathan dan di balas anggukan kepala oleh Dokter Kiki.
Akibat sakit hati Adel kepada Rifal karna pria itu telah menyia-nyiakan dirinya, maka peran Amora sebagai kakak mengambil tindakan yang menggelapkan matanya sendiri.
Dia tidak berpikir panjang, jika tindakannya itu akan membuat nyawa seseorang akan melayang, dan dirinya juga akan terkena imbasnya.
Sudah satu bulan lebih Amora mendekam dalam penjara, tidak ada yang tau berapa lama wanita itu mendekam dalam penjara.
“Apakah pihak rumah sakit yang akan menguburkan jenazah Adelia?” Tanya dokter Kiki yang mengetahui jika Adelia sudah tidak mempunyai keluarga lagi.
Dokte Nathan menggelengkan kepalanya.
“Kita beritahukan semuanya kepada Rifal terlebih dahulu. Kalau Adel udah nggak ada,” kata dokter Nathan dan dibalas anggukan kepala kakuh oleh dokter Kiki.
Dokter Kiki yang mengingat pesan Adelia menarik sudut bibirnya, bahkan dalam keadaan kesakitan dia masih memikirkan Rifal dan ingin mendonorkan matanya untuk Rifal.
Tanganya langsung mengetik pesan lalu di kirimkan kepada dokter Hamka. Dokter Hamka yang mendapatkan pesan dari dokter Kiki menahan Valen untuk menyuruh menginap Rifal satu malam di sini.
Dokter Hamka yang berada di ruangannya melirik jam di pergelangan tanganya. Sudah pukul tiga sore, jika sekarang dia menjalankan operasi mata untuk Rifal besar kemungkinan sekitar jam 4 akan kelar jika pendonor mata untuk Rifal cocok, dan mereka tidak menunggu malam lagi.
Dokter Hamka beranjak dari tempat duduknya, dia mengirimkan pesan kepada dokter Kiki untuk melihat pasien yang baru saja menghembuskan nafasnya yang ingin mendonorkan matanya untuk Rifal.
Dokter Hamka langsung masuk keruangan Adelia, dia belum tau jika yang meninggal adalah Adelia.
Dia sudah melihat dokter Nathan dan dokter Kiki menyalaminya.
“Pukul berapa dia meninggal?” Tanya dokter Hamka kepada kedua dokter muda di hadapnya.
__ADS_1
“Sekitar sepuluh menit yang lalu,” jawab dokter Nathan dan dibalas anggukan kepala oleh dokter Hamka.
Dokter Hamka bergerak membuka kain putih yang menutupi wajah Adel, sementara dokter Kiki langsung menutup matanya karna tidak bisa memendam air matanya jika melihat wajah Adelia yang sudah tenang.
Dokter Hamka terkejut saat melihat pasien yang selalu di ceritakan dokter Kiki dan juga dokter Nathan. Yah, dia tau juga jika Adelia menyukai Rifal dan bahkan gadis itu memohon kepada Rifal untuk menemaninya kemo.
Dokter Hamka melirik dokter Nathan, sementara dokter Kiki mengusap air matanya dengan kasar. “Adelia?”
“Iya dok. Dia Adelia. Sosok perempuan yang mencintai Rifal,” terang Dokter Nathan membuat dokter Hamka menghembuskan nafasnya berat.
“Dokter Kiki,” panggil dokter Hamka.
“Iya dok.”
“Apakah keluarganya sudah setuju jika dia mendonorkan matanya?” Tanya Dokte Hamka.
“Adelia hanya mempunyai kakak, tapi sekarang dia sudah di penjara, tapi sAdelia sendiri yang mengatakan kepada saya jika dia ingin mendonorkan matanya untuk Rifal,” kata dokter Kiki.
Dokter Kiki mengeluarkan ponselnya, dia memutar rekaman suara dimana Adelia mengatakan jika dia ingin mendonorkan matanya untuk Rifal.
Dokter Hamka mendengarnya dengan jelas.
“Kita lakukan operasi sekarang untuk Rifal,” kata Dokter Hamka.
“Baik,” jawab dokter Nathan dan dokter Kiki secara bersamaan.
Valen yang mendapatkan pesan dari dokter Hamka, jika ingin melakukan tindakan operasi pada Rifal sekarang. Karna baru saja ada pasien meninggal yang ingin mendonorkan matanya.
Dokter Kiki datang keruangan Rifal mendorong bansal Rifal bersama dengan perawat lainya. Dokter Valen dan dokter Kiki sempat bercengkerama sebentar lalu mendorong bansal Rifal menuju ruangan operasi.
“Dokter Valen berdoa, Semogah mata untuk suami dokter Valen kali ini cocok,” kata Dokter Kiki.
“Amin.”
Valen bisa melihat mata Kiki sembab, dia tidak tau mengapa perempuan cantik itu menagis. Valen ingin menanyakan kondisi Adelia karna dia melihat tadi jika Adelia kesakitan, namun melihat kesibukan dokter Kiki membuat dokter Valen mengurungkan niatnya.
Sementara dokter Nathan sudah terlebih dahulu mendorong bansal milik Adelia yang sudah tidak bernyawa di ruangan operasi.
__ADS_1
Di ruangan operasi, Nathan dan dokter Hamka sudah siap dengan pakainya. Sisa menunggu kedatangan dokter Kiki membawa Rifal.
Dokter Hamka mengecek mata Adelia, dia ragu jika mata Adelia sehat karna perempuan itu mengalami kanker. Namun dia akan mencoba, apakah mata perempuan itu sudah tidak sehat lagi atau malah sebaliknya.