
Rifal masih setia memegang kursi roda milik Adelia, sementara Amora tersenyum melihat adegan didepannya. Seperti dia sedang menonton sinetron Indosiar saja.
Ternyata, sinetron yang biasa dia nonton ternyata ada didunia real, contohnya saja Rifal dan Valen. Kehidupan mereka berdua seperti sinetron Indonesia yang dipenuhi dengan ketakjuban dan kejutan yang luar biasa.
Adelia mendonggakkan kepalanya guna melihat Rifal, terlihat wajah pria itu nampak terkejut melihat Valen.
Sementara Valen hanya menatap Rifal lalu memalingkan wajahnya ke seberang arah membuat Nathan paham akan semua hal yang terjadi sekarang ini.
"Fal," panggil Adelia sehingga membuat Rifal melihat Adelia.
"Bawa gue ke bangsal," kata Adelia dan dibalas anggukan kepala kakuh oleh Rifal. Rifal mendorong kursi roda milik Adelia untuk segera ke bansal melewati Valen membuat Valen memejamkan matanya, melihat suaminya seperti ini.
Baru saja semalam Rifal mengatakan cinta padanya, Valen tidak tau bagaimana arah pikiran Rifal saat ini.
Apakah dia sudah lupa dengan perkataannya semalam? Apakah dia merasa jika perkataannya semalam hanya berupa mimpi? Atau dia tidak sadar mengucapakan kata keramat itu semalam?
Valen tau, niat Rifal baik kepada Adelia. Tapi setidaknya jangan Rifal yang melakukan semuanya, apa lagi saat ini ada Amora kakak kandung Adelia.
"Fal," panggil Adelia setelah mereka sampai didepan bansal milik Adelia. Adelia masih setia berada dikursi rodanya.
"Kenapa?" tanya Rifal setelah terdiam beberapa menit.
"Gendong," kata Adelia membuat Rifal langsung terdiam. Dia lupa jika Adelia tidak bisa menggerakkan tubuhnya bisa dikatakan jika gadis itu lumpuh, seluruh tubuhnya kaku untuk digerakkan.
"Gue panggil dokter lain buat angkat, lo," kata Rifal membalikan badannya untuk segera pergi meninggalkan Adelia.
Namum perkataan Adelia langsung membuat pergerakan kaki Rifal terhenti.
"Kenapa harus dokter? Kalau lo udah ada disini, Fal," kata Adelia membuat Rifal mematung seketika.
Rifal membalikkan badannya melihat Adelia masih duduk dikursi roda menatapnya penuh harap.
Mata Rifal kembali melihat kearah Valen yang tengah melihatnya juga, membuat Rifal dilanda kebingungan.
__ADS_1
Lalu tatapannya beralih kepada Nathan, yang tengah berdiri disamping Valen.
Rifal langsung menghampiri Nathan, itu semua tidak luput dari penglihatan Valen dan juga Adelia serta Amora yang sangat suka dengan drama didepannya ini.
"Gue minta tolong, lo angkat Adelia naik keatas bansal," ini pertama kalinya Rifal berkata baik kepada Nathan. Dia membutuhkan bantuan Nathan saat ini, hanya Nathan saja yang bisa membuatnya tidak merasa bersalah kepada Valen.
Nathan mengangguk, "baik," kata Nathan lalu berjalan kearah kursi roda milik Adelia.
Adelia menatap kearah Rifal yang sedang menatapnya, dia tidak menyangka jika Rifal akan melakukan semua ini kepada dirinya.
Adelia langsung mengalungkan tangannya ke leher milik Nathan, karna Nathan akan menggendongnya berbaring keatas bansal.
"Makasih," kata Adelia dan dibalas anggukan kepala oleh Nathan.
"Aku mau bicara sama kamu," kata Rifal memegang pergelangan tangan Valen untuk segera keluar dari ruangan milik Adelia.
"Aku mau kerja," kata Valen melepaskan tangan Rifal yang sedang memegang tangannya. "Entar aja omongnya," lanjutnya lalu menghampiri Nathan.
Sementara Amora, menarik bibirnya tersenyum simpul. "Adegan yang luar biasa," takjubnya.
Valen berusaha menguatkan hatinya, hatinya memaksanya untuk berbicara seperti ini kepada Rifal.
Melihat Rifal dan Adelia cukup membuat Valen merasakan sakit hati yang luar biasa, andai saja, semalam Rifal tidak mengucapakan kata-kata yang menyakinkan Valen, mungkin saja Valen tidak sesakit ini!
Namun, Rifal semalam sudah berjanji padanya, dia juga mengungkapkan rasa cintanya, serta sorot matanya yang tulus membuat Valen yakin jika semalam Rifal serius kepada dirinya.
Namun saat melihat adegan Rifal dan Adelia membuat Valen kembali meragukan perasaan Rifal kepada dirinya, jika pria itu tidak serius kepada dirinya.
"Len, lo nggak marah sama gue dan Rifal, kan?" tanya Adelia membuat Valen menggelengkan kepalanya. Entahlah, Adelia yang bodoh atau hanya mencari pembahasan kepada Valen.
Buat apa coba dia bertanya seperti itu, padahal dia sudah tau bagaimana jika dia berada diposisi Valen. Apa yang akan dia rasakan.
"Gue nggak marah kok sama kalian," jawab Valen disertai dengan senyuman diwajahnya membuat Adelia menggangguk kakuh.
__ADS_1
Sementara Nathan tersenyum, dia tidak salah lagi mencintai sosok Valen, sosok yang kuat, mengatakan tidak apa-apa padahal sekarang dia jauh dari kata baik-baik saja. Melihat suaminya dengan wanita lain.
"Gue nggak salah jatuh cinta sama lo, Va," kata Nathan santai lalu mengecek kondisi Adelia menggunakan alat-alat yang begitu canggih.
Valen menggelengkan kepalanya, "kerja Nath, nggak usah ngerayu," kata Valen membuat Nathan tertawa kecil.
Sementara Adelia sudah disuntikkan obat penahan rasa sakit, karna Nathan memberikan suntikan yang akan membuat stamina Adelia tidak mudah letih.
Karna sepertinya, kondisi gadis itu tidak berubah apapun. Bahkan, kondisinya terus-terusan melemah semenjak bangun dari koma.
Dia tidak merasakan kesembuhan dalam dirinya semenjak dia bangun dari komanya.
Valen membalikkan badannya, guna melihat apakah Rifal masih ada diruangan ini atau sudah tidak ada. Rupanya pria itu sudah pergi, karna Valen sudah tidak melihatnya.
Amora juga pergi, entah kemana. Valen kembali fokus dengan pekerjaannya karena dia sebagai asisten dokter, Nathan.
***
"Kasi gue pekerjaan," kata Amora. Saat ini Rifal dengan Amora berada dikantin rumah sakit. Rifal tidak tau sejak kapan wanita yang menggunakan lipstik merah merona itu mengikutinya. "Gara-gara lo nggak becus jaga Adel, gue yang turun tangan, gara-gara jaga Adel, pekerjaan gue berantakan. Dan gue dipecat," lanjutnya membuat Rifal menatap tajam Amora.
"Jangan pernah usik gue!" tegas Rifal. Bisa-bisanya perempuan dihadapanya ini meminta pekerjaan pada dirinya. Biarpun ada pekerjaan kosong diperusahaanya, dia tidak akan menerima modelan seperti Amora bekerja diperusahaanya.
"Gue butuh pekerjaan, ini semua gara-gara lo, gue sampai dipecat dari pekerjaan gue," kata Amora membuat Rifal menyimpan dengan kasar sendoknnya lalu menatap tajam Amora yang membuatnya moodnya semakin berantakan.
Dia harus berhadapan dengan Valen, namun perempuan dihadapanya ini sepertinya sedang mengaduk-aduk isi kepalanya. Dia sudah pusing memikirkan Valen, ditambah lagi Amora.
"Gu_"
"Pergi lo dari sini!" sentak Rifal menunjuk tangannya kearah pintu kantin mengusir Amora. Tentu saja sentakan Rifal membuat Amora terkejut.
Dia juga takut kepada Rifal, apa lagi tatapan pria itu sangatlah tajam, dengan terpaksa Amora langsung pergi meninggalkan Rifal.
Dia tau, jika Rifal orang kaya, sudah pasti dia pasti membutuhkan pekerjaan diperusahaanya. Maka dari itu Amora meminta agar dia bisa bekerja diperusahaan Rifal, agar bisa bekerja kembali.
__ADS_1