
Valen menatap Lea. "Jadi kamu keluar sama Nando?" tanya Valen dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.
"Lea yang ngajakin kak Nando buat keluar. Katanya dia nggak kerja jadi Lea ajakin keluar," kata Lea membuat Valen menggelengkan kepalanya. Andai Rifal tau akan hal ini lagi mungkin saja dia akan menginterogasi Lea dan juga Nando sekarang ini.
"Oh iya, kak Nando sakit apa?" tanya Lea kembali karna pertanyannya yang tadi belum juga di jawab oleh Valen.
"Nando cuman demam," kata Valen. Dia tidak mengatakan jika Nando terkena suntikan. Jika Lea tau mungkin saja dia akan gencar melakoni Nando.
Apa lagi Valen lihat jika mereka sudah akrab, padahal mereka baru kenal satu sama lain.
"Lea bisa lihat kak Nando nggak?" tanya Lea.
"Boleh sekali." Bukan Valen yang menjawab melainkan Rifal yang baru keluar dari dapur mengambil air. Lea dan juga Valen melihat kearah Rifal.
Rifal meminum air yang berada di tanganya. "Temenin dia sampai besok pagi. Karna yang ngajakin Nando keluar itu kamu Lea, jadi kamu harus menjaganya," kata Rifal santai membuat Valen meneguk salivanya susah payah.
Entahlah sejak kapan Rifal mengucapakan kamu pada Lea, mungkin saja karna Valen Tengah hamil dia tidak ingin berkata fulgar kepada anak kecil macam Lea.
"Tap-"
"Apa perlu om kasi tau mama kamu kalau kamu bolos kuliah," ancam Rifal menghampiri Lea dan juga Valen yang tengah duduk diatas sofa.
Lea tersenyum meremehkan kearah Rifal membuat Rifal menaikkan alisnya sebelah kearah Lea. "Mama Lea udah tau, kalau Lea bolos kuliah," kata Lea sembari mengingat betapa marahnya mamah Novi saat dia keceplosan tidak pergi kuliah.
"Yang beri tau mama Novi siapa?" tanya Rifal membuat Lea tertawa kecil.
"Mulut Lea sendiri," kata Lea. "Karna mulut Lea yang keceplosan," lanjutnya dengan tawa membuat Valen juga tertawa.
"Yaudah deh, Lea bakalan jagain kak Nando sampai dia sembuh. Takutnya kehadiran Lea disini buat om Rifal sama dokter Valen terganggu," canda Lea kepada Valen dan juga Rifal.
"Iya emang," terang Rifal membuat Lea mengerucutkan bibirnya kesal kearah Rifal.
"Kamar Nando ada diatas," tunjuk Rifal.
__ADS_1
"Makasih om," kata Lea lalu pergi meninggalkan Lea dan juga Valen di ruangan tamu.
Lea menaiki anak tangga untuk segera menuju kamar milik Nando.
Cek lek
Rupanya pintu kamar Nando tidak terkunci. Lea langsung berjalan kearah kamar Nando.
"Ish," Lea langsung bergedik ngeri saat melihat banyak foto wanita di kamar milik Nando yang wajahnya beda-beda.
Benar kata Rifal jika Nando itu buaya kelas kakap, Dikamarnya saja banyak foto wanita.
"Dasar buaya kelas kakap," kata Lea sembari melihat wajah tampan milik Nando. Deruh nafas Nando begitu teratur membuat Lea tersenyum tipis.
Meski dia seorang mahasiswa keperawatan, namun dia belum bisa seperti dokter Valen yang mengetahui segalanya, apa lagi dia baru ingin semester dua. Itu berarti Ilmunya masih sedikit tidak seperti dokter Valen.
"Ganteng sih, tapi sikapnya kayak anak kecil aja. Maunya debat mulu nggak mau kalah." Lea bermonolog seorang diri sembari melihat wajah tampan milik Nando.
Lea menempelkan tangannya di jidat milik Nando yang nampak panas. "Lea harus manggil dokter Valen. Badan kak Nando panas banget," kata gadis itu lalu keluar dari kamar Nando untuk memanggil dokter Valen.
Lea menuruni anak tangga, belum sempat dia turun dari lantai satu dari anak tangga dia bisa melihat Valen dan Rifal sedang berciuman panas membuat Lea langsung menutup matanya saat melihat adegan di depan matanya.
Lea membalikkan badanya lalu melepaskan tanganya yang menutup matanya sendiri. "Andai kak Nando ada di dekat Lea. Lea yakin kak Nando bakalan nutupin mata Lea," kata Lea sembari tersenyum tipis.
Dia tidak jadi memanggil dokter Valen, dia kembali menaiki anak tangga untuk menuju kamar milik Nando.
"Kak Nando kenapa bisa sakit sih? Perasaan tadi baik-baik aja," ocehnya sembari mengambil kompres di atas meja. Untung saja diatas meja Nando ada air hangat dan juga kompres yang dipakai oleh Valen untuk mengompres.
Setelah mengompres, Lea duduk diatas sofa. Sudah pukul delapan malam dia sudah mengantuk ingin segera tidur. Untung saja dikamar milik Nando ada sofa yang cukup untuk tempat Lea tidur.
Sebenarnya, Lea tidak bisa tidur diatas sofa karna badanya bisa pegal.
Lea memperbaiki posisinya untuk segera tidur, baru saja dia ingin memejamkan matanya namun suara handphonenya berdering menandakan adanya seseorang menelfon.
__ADS_1
Drt....
"Halo, kakak cantik." Suara anak kecil dari seberang telfon membuat Lea melihat handphonenya. Dia tidak melihat handphonenya terlebih dahulu sebelum mengangkat telfon tersebut.
"Hai juga anak tampan. Kamu kenapa belum tidur? Ini udah jam 8 loh. Anak kecil nggak boleh begadang apa lagi kamu besok sekolah." Kata Lea sembari memperbaiki posisinya yang tadinya berbaring sekarang dia tengah duduk.
Dari seberang telfon Lea bisa mendengar jika anak itu sedang tertawa, padahal tidak ada yang lucu sama sekali.
"Kakak cantik besok sibuk nggak?" tanya anak itu penuh harap jika Lea mengatakan jika dia tidak sibuk.
"Emangnya kenapa? Kakak besok kuliah pagi," kata Lea, memang benar jika besok dia akan kuliah pagi.
"Kakak cantik besok kerumah yah, Agrif mau sarapan bareng sama kaka cantik sebelum berangkat sekolah."
Perkataan Agrif sukses membuat Daniel melihat kearah putranya itu yang sedang fokus berbicara dengan Lea menggunakan handphonenya, karna Daniel belum memberikan handphone kepada Agrif karna dia masih kecil.
Apa Daniel tidak salah dengar jika anaknya itu mengajak seseorang yang baru dia kenal ditama siang tadi untuk makan siang?
"Agrif," panggil Daniel sehingga Lea yang sedang terdiam memikirkan perkataan Agrif tadi langsung mengamati suara dingin milik Daniel di sebrang telfon membuat Lea bergedik ngeri.
"Kenapa pah? Agrif cuman ajak kakak cantik makan bareng sama kita." Kata Agrif yang dapat didengarkan oleh Lea di sebrang telfon.
"Bukan begitu, siapa tau aja kakak cantik kamu itu lagi sibuk. Apa lagi besok dia akan kuliah," kata Daniel yang mendengar jika Lea besok mempunyai kuliah pagi.
Sementara Lea tertawa tertahan di seberang telfon saat Daniel mengatakan kakak cantik secara canggung.
"Papah kan antar Daniel ke sekolah sekalian papah antar kakak cantik," kata anak itu tanpa beban membuat Daniel tersenyum simpul.
"Kakak cantik mau 'kan?" tanya Agrif lagi di sebrang telfon.
"**Iya mau, tapi kakak nggak punya kendaraan buat ke rumah kamu."
"Kakak cantik tenang aja, biar papah yang jemput**."
__ADS_1