Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
13 tahun


__ADS_3

Alvi berusaha menyemangati Rina yang terus-terusan memikirkan Valen yang tak kunjung di temukan hingga saat ini.


Malam ini, adalah malam dimana Alvi, Kevin, Rara, Frezan dan juga Kayla ke rumah sakit Medika untuk menjenguk Rifal yang sudah pulang dari rumah sakit Bali, dan dibawa ke rumah sakit Jakarta.


"Al, Valen belum juga di temukan. Dia sedang mengandung, hiks....!" tangis Rina pecah dalam pelukan Alvina saat ini.


Mereka berdua duduk di sofa, sementara Frezan dan Aska sedang mengobrol di balkon rumah sakit.


Sementara Rara dan Kayla duduk di samping Rifal yang masih setia memejamkan matanya. Belum ada tanda-tanda pria itu akan bangun.


Alvi mengusap punggung Rina dengan rasa prihatin. Alvi tau, jika Rina sudah membayangkan akan menjadi seorang oma untuk pertama kalinya atas pernikahan anaknya yang sudah lama.


Tentu saja berita kehamilan Valen saat itu mampu membuat Rina dan Aska menjadi sangat senang.


Rina sudah menceritakan kepada Alvina, jika dia sudah belanja keperluan Valen dan belanja pakaian anak-anak yang sangat banyak.


Bukan hanya baju, Rina juga sudah mempersiapkan permainan untuk calon cucunya.


"Al, sudah lama saya menunggu kehadiran anak dari Rifal dan juga Valen!" tangisnya dalam pelukan Alvina.


"Saat Tuhan menitipkan janin itu dalam perut Valen, Tuhan kembali memberinya cobaan, Al. Pernikahan mereka sudah banyak melewati masa-masa sulit, Al!" isaknya kepada Alvina.


"Sudah dua minggu Valen belum juga di temukan, Al. Saya takut jika mereka berdua tidak selamat!" Suara tangis Rina pecah dalam ruangan Rifal membuat Kayla dan juga Rara menghampiri Alvina dan Rina.


Kayla dan Rara langsung memeluk Rina dengan erat.


"Sabar, ya, Tan. Semogah Valen cepat ketemu dalam keadaan selamat dan anak dalam perutnya baik-baik saja," ujar Rara masih memeluk Rina.


"Kita sama-sama berdoa untuk Valen dan juga anaknya. Agar di lindungi sama yang di atas," timpal Kayla dan dibalas anggukan setuju oleh Rara dan juga Alvina.


***


Pukul sepuluh malam, Lea mengambil tasnya lalu berjalan di koridor rumah sakit untuk segera pulang.


"Apa masih ada taxi jam begini?" gumam Lea masih melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit.


Saat ini, Lea sudah berada di luar gerbang rumah sakit untuk menunggu taxi yang akan mengantarnya untuk pulang.


Dia sangat letih. Fisiknya letih, buka hanya fisiknya saja tetapi juga pikiran dan batinya yang letih.


Mobil berwarna putih singgah di depan Lea, pengendara mobil itu membuka kaca mobilnya dan muncullah wajah tampan milik Nathan.

__ADS_1


"Pulang sama siapa?" tanya Nathan kepada Lea.


"Nunggu taxi, dok," jawab Lea kepada Nathan.


"Naik. Saya yang akan mengantar kamu," ketus Nathan kepada Lea.


Lea menggelengkan kepalnya. "Nggak usah dok. Lea pulang naik taxi aja. Itu taxinya udah ada!" tunjuk Lea pada taxi.


Gadis itu langsung menyibakkan tanganya agar taxi itu singgah memgambilnya. Taxi berhenti di depan Lea.


"Dokter Nathan. Lea dulu, ya," pamit gadis itu lalu berjalan masuk kedalam taxi.


Nathan belum bergeming dari tempatnya saat melihat Lea sudah hilang dari depanya.


"Apa Lea barusan menolak gue?" decak Nathan lalu menjalankan mobilnya untuk segera pulang ke apartemennya.


Di sepanjang perjalanan Lea memejamkan matanya. Dia harus menjauhi Nathan dan mulai fokus dengan kuliahnya.


Dia akan fokus dengan kuliahnya, soal cinta itu belakangan. Itu yang di pikir Lea saat ini untuk fokus kuliah.


Lea tiba-tiba memikirkan Agrif, sisa satu minggu lebih anak itu akan terima rapor di sekolahnya.


Apa mungkin Bi Minah? Itu yang di pikir Lea saat ini.


"Nanti Lea hubungi Bi Minah," menolog gadis itu.


Tidak butuh waktu lama, Lea sudah sampai di depan rumahnya. Kedua adiknya duduk di teras rumah menunggu kedatangan Lea yang pulang.


Lea yang melihat kedua adiknya menggelengkan kepalnya, ini yang keduanya Lea pulang praktek pukul sepuluh malam, dan kedua adiknya menunggunya.


"Kenapa belum tidur? Besok sekolah, lo," tegur Lea seraya menyambut tangan kedua adiknya yang ingin menyalimi tangan Lea.


Riki nampak membaca buku, sementara Raka langsung menyimpan ponselnya saat melihat Lea.


"Di suruh mamah tunggu kak, Lea," jawab Riki dan dibalas anggukan setuju oleh Raka.


"Yaudah masuk," ajak Lea sehingga kedua adiknya mengekorinya dari belakang.


Lea pikir mamahnya sudah tidur, namun dugaannya salah karna Novi masih menonton tv di ruang tamu yang sederhana di rumah mereka.


Novi melirik anak gadisnya. "Makan dulu, Lea. Mamah udah siapin makan malam untuk kamu," celetuk Novi dan dibalas anggukan oleh Lea.

__ADS_1


Lea menyimpan tasnya di atas meja lalu mencuci tangan untuk segera makan. Makanan sederhana yang terhidang di meja makan namun sangat lezat membuat Lea minta tambah terus.


"Habis makan langsung tidur, jangan main hp. Kamu lagi praktek jadi punya imun yang kuat biar nggak down," ujar Novi melenggang masuk kamarnya setelah memberikan ceramah singkat kepada Lea.


***


Hakim mengetuk palu setelah mengatakan Elga resmi di dekam dalam penjara selama 13 tabun lamanya.


Siang ini, Rara kembali pingsan sementara Kayla berusaha menetralkan kondisinya saat ini.


Dia tidak ingin karna memikirkan ini akan membahayakan kandungannya sendiri, dia tidak mau karna keegoisannya ini membuat kandungannya jadi lemah.


Frezan sudah menggendong Rara keluar dari tempat persidangan tersebut, karna istrinya itu kembali jatuh pingsan.


Padahal. Frezan sudah mengatakan jika Rara tidak perlu ikut, namun wanita itu bersikukuh untuk ikut. Dan hasilnya dia kembali pingsan saat hakim mengatakan Elgara resmi di penjara selama 13 tahun lamanya.


Kayla masih duduk di tempatnya tidak bergeming. Menatap kosong kedepan. Alvina menghampiri Kayla dengan deraian air mata lalu memeluk menantunya yang tengah hamil itu.


"Sabar, ya, Kay. Ini semua sudah adil untuk Elga dan juga Daniel." Alvi mengusap punggung Kayla.


Sedari tadi Kayla menahan tangisnya. Namun saat Alvi datang membuat air matanya turun begitu deras tanpa suara.


“Bun…” Dengan suara bergetar Kayla memanggil Alvina membuat Alvina memeluk erat Kayla.


“Kita semua harus sabar,” Alvina mengusap punggung Kayla.


Elga singgah di dekat Kayla dengan bergol di tanganya, di dampingi oleh dua polisi yang akan membawanya dari sini.


“Kay…” panggil Elga dengan suara serak.


Kayla berdiri dari tempat duduknya lalu memeluk Elga dengan erat, tak lupa pula air matanya mengalir begitu saja.


“El…!”


Mereka berdua melepaskan pelukany.” Jaga Dyta sama Dyra, dan juga calon anak kita,” senyum Elga seraya mengusap perut Kayla.


Kayla mengangguk kakuh.


“Bun…” Alvina langsung memeluk anak yang dia lahirkan sekuat tenaga itu.


“Baik-baik, ya, El. 13 tahun mendatang kita akan kumpul bersama lagi.”

__ADS_1


__ADS_2