
Tanpa aba-aba, Nathan langsung mengangkat tubuh kecil Lea ke tempat tidur. Sementara Lea masih berusaha menjernihkan pikiranya.
Lea melotokan matanya, saat sadar dia sudah berada diatas tempat tidur yang terhias oleh bunga berwarna merah.
“Dokter Nath—“
Hmphh
Nathan langsung membungkam mulut Lea dengan bibirnya yang manis. Lea tidak bergeming, ia masih menjernihkan pikiranya, mengenai hal ini.
Ini yang kedua kalinya Nathan lakukan, namun kali ini jauh berbeda. Lea merasakan ada unsur gairah didalam diri Nathan, mencium bibirnya.
Merasa tidak ada pergerakan dari Lea, membuat Nathan mengigit kecil bibir gadis itu.
“Awkh!”
Nathan menerobos setiap inci bibir mungil Lea.
Nafasnya memburuh, membuat Lea juga ikutan Deg-degan.
“Lea, kita urungkan niat kita untuk istirahat malam ini.” Tanpa aba-aba, Nathna langsung melepaskan baju tidur yang ia kenakan.
‘’Maksud dokter Nathan, apa?'' tanya Lea dengan gugup.
Dia bisa melihat, mata dan deruh nafas Nathan seperti ingin meminta sesuatu.
Nathan mengusap rambut Lea. ''Kita lakuin apa yang seharusnya orang lakuin, setelah mereka menikah.''
Deg
Jantung Lea berdetak tidak karuan.
''Mau, ya?'' pintah Nathan dengan wajah memelas membuat Lea mengangguk kecil.
Nathan tersenyum kemenangan, dia pikir akan terjadi drama malam pertamanya, antara gadis sepolos Lea dengan pria dewasa seperti dirinya.
Nathan mulai mengusap perut Lea. Karna bajunya memang tidak menutup pusarnya, membuat Nathan dengan mudah menguleti tubuhnya.
Ughhh
Lea mulai mengeluarkan suara lenguhan, membuat Nathan semakin menggebu-gebu. Lea mengigit bibirnya, tanpa di minta suara itu keluar begitu saja.
Dia tidak munafik, dia mengatakn jika pegangan tangan Nathan pada perutnya, membuatnya nyaman.
Lea menutup tubuhnya dengan kedua tanganya, saat Nathan bergerak ingin membuka matanya.
''Lea, kenapa?'' tanya Nathan dengan suara berat.
__ADS_1
''Lea malu,'' jawab Lea dengan pelan.
Rasa malu, takut dan rasa penasaran, bersatu dalam pikiranya saat ini. Nathna menurunkan tangan Lea yang menyilangi tubuhnya.
''Tutup mata kalau malu,'' pintah Nathan.
''Sama aja, kalau Lea tutup mata. Dokter Nathan bisa lihat,'' balas Lea dengan suara pelan.
''Aku juga tutup mata,'' ucap Nathan lagi.
''Janji?''
''Janji.''
Perlahan-lahan, Lea mulai menutup matanya, sementara Nathan? Tentu saja dia tidak menutup matanya, semakin sulit membuka baju Lea jika harus menutup matanya.
Krak...
Lea langsung membuka matanya, saat mendengar suara sobekan baju.
''Dokter Nathan robek bajunya?'' tanya Lea masih tidak percaya melihat baju yang ia kenakan sudah robek.
Dan sudah berhasil di buka oleh Nathan, pria itu langsung membuangnya kebawa lantai.
Nathan tidak perlu bersusah payah, karna Lea tidak mengenakan bh.
''Bagus, jangan pakai bu saja setiap malam. Aku suka.''
Tidak hanya baju, Nathan juga merobek celana yang di kenakan Lea. Terdapat kain segitiga menutupi sesuatu dibawa sana.
Dengan satu kali, kain segitiga itu langsung robek. Nathan menindih tubuh Lea, nafas mereka berdua memburu.
Merasakan sesuatu dibawah sana, menerobos masuk. Membuat Lea mengalungkan tanganya di leher Nathan.
Baru saja Nathan ingin memasuki sesuatu itu, suara isakan tangis Lea membuatnya terhenti.
''Lea, kamu kenapa?'' tanya Nathan kembali mengurungkan niatnya untuk memasuki sesuatu di bawa sana.
Mendengar isakan tangis Lea, membuatnya tidak tega.
''Aku nggak akan lak—''
‘’Setelah kita begitu, dokter Nathan nggak akan ninggalin Lea, kan?''
Nathan tidak percaya, jika istirnya itu berpikir sampai kesana.
''Aku sudah menikah dengan mu, Lea. Itu artinya aku nggak akan ninggalin kamu,'' ucap Nathan dengan serius.
__ADS_1
Lea mengangguk, Nathan kembali memasukkan benda tumpul itu, membuat Lea mengigit bibirnya.
Sakit!
Rasa sakit saat Nathan berusaha menerobos masuk kedalam.
Nathan mulai bergerak, melihat Lea nampak kesakitan membuat Nathan mencium bibir Lea. Guna menghilangkan sedikit rasa sakit, yang di rasakan oleh Lea.
‘’Pertama melakukan hal seperti ini memang sakit, perlahan-lahan akan enak,'' ujar Nathan.
Lea hanya mengangguk kecil saja, menahan rasa sakit dan sedikit rasa minat,
Mencium, mencumbu dan menelusuri seluruh lekuk tubuh Lea, membuat Nathan menjadi puas.
‘’Masih sakit?'' tanya Nathan setelah menggempur Lea selama tiga puluh menit.
''Udah nggak kayak tadi,'' jawab Lea dengan nafas memburu.
Bagaiamana tidak, jika Natham menggempur pinggulnya begitu cepat.
Nathna mempercepat, membuat Lea semakin mengeluarkan suara yang membuat nathan, semakin semangat.
Akhhhhh
Nathan dan Lea sama-sama mengeluarkan suara indah itu. Nathan masih berada di atas tubuh Lea.
Dia mengusap wajah Lea yang di penuhi dengan keringat, serta nafasnya begitu mendruh.
''Kamu suka?'' tanya Nathan memperbaiki anak rambut Lea.
Lea mengangguk, lalu kemudian nathan tersneyum.
Cup
Satu kecupan lama mendarat di jidat Lea.
''Masih mau?'' tanya Nathan dan dibalas gelengan kepala oleh Lea.
''Lea udah capek.''
Nathan terkekeh, lalu kemudian dia membaringkan tubuhnya di samping Lea, lalu menyelimuti tubuh polos mereka berdua.
Mereka berdua berpelukan, membuat Lea begitu nyaman dengan pelukan Nathan.
''Lea mencintai dokter Nathan,'' ucap gadis yang baru saja menjadi sosok wanita itu.
''Aku lebih mencintaimu Lea, aku beruntung mendapat kamu.''
__ADS_1