Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Frezan vs Elga


__ADS_3

Valen tentunya Tersipu malu denga apa yang dikatakan oleh Rifal. Jika dirinya yang merindukan usapan tangan Rifal di perutanya.


Pipihnya merona akibat salah tingkah, andai saja Rifal bisa melihat wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus.


“Valen,” panggil Rifal. Karna wanita itu tidak bersuara lagi.


“Eh….iya,” gelagapan Valen membuat Rifal tertawa, sekarang dia tau kenapa Valen jadi diam.


“Kenapa?” Tanya Rifal.


Meski dia tidak melihat Rifal berusaha menyembunyikan rasa khawatirnya dan gelisah nya. Dia tidak tau sampai kapan dia hanya melihata kegelapan saja.


“Aku tidak apa-apa,” elak Valen membuat Rifal tersenyum mengejek.


“Apa karna yang ku katakan memang betul? Jika kamu yang merindukan usapan ku,” canda Rifal lagi membuat Valen langsung menggelengkan kepalanya, meski dia tau Rifal tidak melihatnya.


“Tidak!” kilahnya dengan cepat.


“Tidak salah lagi kan!” ejeknya membuat Valen menjadi salting kembali.


Rifal sangat penasaran melihat wajah Valen yang salting, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karna dia sedang buta. Entah sampai kapan.


“Kamu tidak usah malu kalau kamu lagi salting. Lagian aku juga tidak melihat wajah mu yang memerah seperti kepiting rebus!” canda Rifal dengan tawa membuat Valen langsung menatap wajah Rifal dengan tatapan senduh,


Dia memperhatikan tawa Rifal, meski dalam keadaan seperti ini, dia tau jika suaminya itu menutupi kesedihnya. Siapa yang tidak sedih jika buta?


“Fal,” panggil Valen dengan lirih membuat Rifal menghentikan tawanya, dia berpikir ada yang salah dengan pekrataanya.


“Aku yakin kamu bakalan melihat secepatnya!” Valen menyakinkan suaminya itu seraya memeluknya dengan erat.


Rifal juga membalas pelukan Valen, “Amin,” Rifal mengaminkan ucapan Valen juga.


***


Huft

__ADS_1


Rara mengembuskan nafas beratnya, saat ini dia sedang berada diatas roftop rumah sakit. Sementara Elga sedang mencengkeram pagar pembatas roftop dengan erat, sehingga urat-urat tanganya terlihat.


“Sampai kapan Abang mau kayak gini?” Tanya Rara tanpa melihat kerah Elga.


Dia juga memegang pembatas pagar roftop.


Elga melirik Rara, lalu kembali melihat kearah depan.


“Maksud lo apa, Ra?” Tanya Elga dengan dingin, Rara tau jika saudaranya ini masih berada pada emosi yang memuncak. Apa lagi pas dia ketahui jika Rifal dinyatakan buta.


“Abang harus berpikir dewasa,” kata Rara melirik kearah Elga, sehingga kedua saudara kembar beda kelamin itu saling bertatapan.


“Nggak mungkin juga kak Nathan yang lakuin hal besar kayak gini,” lanjut Rara membuat Elga memalingkan wajahnya.


Elga sudah menceritakan diatas roftop, jika dia mencurigai sosok pria bernama Nathan. Namun Rara membantah apa yang dikatakan oleh Elga.


Rara tidak akan mudah percaya jika yang tega melakukan ini adalah Nathan, adik suaminya sendiri.


Elga menarik nafasnya panjang, “Jangan karna Nathan adik suami kamu. Kamu jadi belain dia,” kata Elga dan dibalas gelengan kepala oleh Rara.


“Rara nggak mandang itu semua, cuman Rara nggak bakalan mudah percaya kalau yang lakuin ini semua kak Nathan.” Rara mencoba menjelaskan pada Elga.


“Gue udah yakin,” kekeh Elga pada pendiriannya, “gue bakalan tunggu Nathan sampai pulang,” lanjutnya lalu pergi meninggalkan Rara diatas roftop rumah sakit.


Rara yang melihat punggung Elga yang sudah pergi hanya bisa menarik nafasnya panjang, dia tidak mau jika saudaranya itu bermasalah dengan Nathan, adik suaminya sendiri.


Rara juga pergi meninggalkan roftop rumah sakit, dia menghubungi Frezan untuk pulang lebih awal. Untung saja pekerjaan Frezan tidak banyak sehingga dia langsung mengiyakan perintah dari Rara.



Saat ini Rara berada di dalam kamarnya. Sembari menunggu Frezan keluar dari kamar mandi.


Frezan keluar dari kamar mandi menggunakan baju kaos dna celana santai sampai lutut. Dia juga tidak tau mengapa Rara menyuruhnya untuk pulang lebih cepat.


“Kak Nathan pulang dari luar kota kapan?” Rara langsung melontarkan pertanyaan tersebut pada Frezan, sehingga Frezan menyeritkan alisnya pada Rara.

__ADS_1


“Kenapa?” Tanya Frezan penasaran lalu duduk di tepi ranjang bersama dengan Rara. “Kamu mau pesan oleh-oleh sama Nathan?” Lanjutnya dan dibalas gelengan kepala oleh Rara.


“Terus apa?” Tanya Frezan penasaran.


Rara menatap mata indah milik suaminya itu, sehingga mereka berdua bertatapan, sebenarnya Rara tidak enak mengatakan ini pada Frezan, namun Frezan harus tau agar memberitahukan pada Nathan.


“Ada yang ingin kamu bilang?” Tanya Frezan lagi menatap manik mata Rara, dia yakin jika istrinya itu ingin mengatakan sesuatu.


“Ini tentang bang Elga,” ucap Rara dengan nada lesuh.


“Elga kenapa lagi?” Tanya Frezan.


“Bang Elga nunggu kak Nathan pulang dari luar kota,” kata Rara. Terlebih dahulu Rara menarik nafasnya panjang sebelum melanjutkan perkatanya. “Bang Elga kira yang buat Rifal kecelakaan Kak Rifal adalah bagian dari rencana Nathan,” kata Rara sedikit takut-takut mengatakan ini pada suaminya.


Frezan menyungkirkan senyuman tipisnya membuat Rara jadi gelagapan, dia tidak tau apakah suaminya itu sedang ada sesuatu atau apa sehingga dia tersenyum seperti itu saat Rara mengatakan jika Saudaranya menduga jika yang membuat kecelakaan Rifal adalah Nathan.


“Tapi aku udah jelasin sama bang El, kalau bukan kak Nathan yang lakuin ini semua,” kata Rara.


“Elga percaya?“ tanya Frezan membuat Rara menggelengkan kepalanya.


“Enggak,” kata Rara dengan cepat.


Frezan berdiri membuat Rara juga refleks ikutan berdiri.


“Aku bakalan cari siapa pelakunya sebelum Nathan pulang,” kata Frezan dengan dingin membuat Rara meneguk salivanya susah payah. Sepertinya Frezan tidak menerima Elga memfitnah adiknya.


Frezan membalikkan badanya lalu menyelipkan anak rambut Rara. “Setelah masalah ini selesai, aku janji kita bakalan ke Bali,” janji Rifal dengan suara teduh membuat hati Rara jadi tenang.


“Tapi aku takut, jika bang Elga lakuin hal yang nggak-nggak sama kak Nathan,” takut Rara membuat Frezan hanya tersenyum kearah istrinya itu.


“Aku Udah bilang, sebelum Nathan kembali ke Jakarta aku akan dapat pelakunya,” Rifal menyakinkan Rara membuat Rara langsung memeluk Frezan.


“Bagaimana jika kecelakaan yang di alami kak Rifal itu murni? Bukan rencana orang buat nyelakain kak Rifal,” kata Rara membuat Frezan mengusap punggu Rara.


“Kecelakaan yang dialami oleh Rifal itu bukan murni, sudah pasti campur tangan seseorang,” kata Frezan, setelah dia mengecek cctv yang di kirim oleh Nando, dia juga yakin jika seseorang telah merancanakan ini semua.

__ADS_1


“Maafin sikap bang Elga,” kata Rara dengan tulus.


“Seharusnya dia minta maaf sama Nathan,” kata Frezan dengan suara rendah namun penuh penegasan. “Kalau aku dapat buktikan jika bukan Nathan pelakunya aku bakalan nyuruh Elga buat minta maaf sama Nathan.” Bukan maksud apa-apa, Frezan hanya ingin memberikan pelajaran pada Elga saja.


__ADS_2