
Valen membalikkan badanya dan bertatapan dengan Rifal. Rifal tersenyum kearah Valen mengabaikan tatapan mata yang menatapnya karna perkataannya tadi yang memyita perhatian orang-orang.
Valen melambaikan tanganya kearah Rifal lalu melanjutkan langkah kakinnga dengan pipih merah merona miliknya. Perkataan Rifal sukses membuat hatinya terombang-ambing oleh pria Berstatus suaminya itu.
Rifal memakai kacamatanya lalu menaikkan jendela mobilnya lalu kemudian menyalakan mesin mobil untuk segera menuju kantor.
Valen membuka pintu ruangannya, dia sempat heran karna pintu ruangannya tidak terkunci padahal dia ingat dia selalu mengunci ruangannya sebelum dia pulang.
Valen mengarahkan pandangannya, dan melihat sosok pria yang mengenakan jas sama dengannya sedang membaca buku.
"Dokter Nathan," panggil Valen sehingga Nathan melirik Valen sejenak lalu kemudian melanjutkan bacaan bukunya.
"Dua hari ini lo nggak cek keadaan Adel," kata Nathan menyimpan buku yang dia baca keatas rak kembali.
Valen menundukkan pandangannya, dia sadar dia salah. Seharusnya dua hari ini Adel sudah menjalankan kemoterapi.
"Maaf," cicit Valen dan dibalas anggukan kepala oleh Nathan.
"Lain kali harus profesional," kata Nathan lalu pergi meninggalkan Valen.
Valen menatap punggung Nathan yang sudah pergi, seharusnya dia harus profesional apa lagi ini menyangkut nyawa seseorang.
Valen menyandarkan kepalanya di kursi, sebelum pergi ke ruangan milik Adelia.
Setelah beberapa menit, Valen keluar dari ruangannya untuk segera menuju tempat Adelia di rawat.
Cek lek
Saat membuka ruangan Adelia, sudah ada dokter Nathan dan juga dokter yang baru beberapa hari bekerja di sini.
"Maaf, saya telat," kata Valen dan dibalas anggukan kepala oleh dokter baru tersebut bernama dokter Kiki.
Sementara Nathan hanya acuh saja, seakan-akan kehadiran Valen tidak ada di sini.
Seorang perawat datang membawa Adelia menggunakan kursi roda, mereka dari kamar mandi. Perawat tersebut menyerahkan kursi roda kepada Valen yang diatasnya ada Adelia.
Perawat tersebut keluar, sehingga hanya menyisakan kedua dokter cantik dan tampan itu serta Adelia.
__ADS_1
"Dokter Nathan," panggil Valen karna merasa Nathan sedang acuh kepadanya. Bukan karna apa, hanya Valen saja merasa tidak enak.
"Kerjakan tugas mu," kata Nathan membuat Valen tersenyum kecut dengan balasan Nathan.
Valen membaringkan Adelia diatas bansal di bantu oleh dokter Kiki yang menurut Valen orangnya asik, meski baru kali ini dia melihat dokter Kiki.
"Valen, " panggil Adelia dengan suara paraunya, karna gadis itu belum sembuh.
Dokter Kiki melirik kearah Valen, seakan-akan bertanya apakah pasien ini mengenal dokter Valen.
"Kenapa, Del? Kamu butuh apa?" tanya Valen sementara Kiki hanya menyimak.
"Aku butuh Rifal buat jalanin semua pengobatan ini," kata Adelia membuat Nathan yang sedang menyiapkan alat terhenti, dia melirik kearah Valen sedang tersenyum kearah Adelia.
Valen tidak tau, alur yang sudah di sediakan Tuhan untuknya. Di masa mudanya di masa putih Abu-Abu, dia bersaing dengan Adelia untuk mendapatkan Tegar, dan sekarang mereka berdua mengharapkan cinta dari Rifal, yang tidak lain adalah kakak dari Tegar sendiri.
"Dokter Valen bisa kan nyuruh Rifal buat kesini?" tanya Adelia dengan penuh harapan kepada Valen.
"Tap-" belum sempat Valen menolak, terlebih dahulu Adelia kembali memotong perkataan Valen.
"Aku mohon," kata Adelia dengan suara lesuh membuat Valen mengatur pernafasanya sejenak.
Valen memikirkan ide, agar Rifal kesini. Semoga saja idenya ini tidak membuat Rifal marah kepadanya.
Sementara Rifal baru saja sampai di tempat kerjanya, beberapa menit seseorang mengetuk pintu ruangannya sehingga Rifal langsung menyuruhnya untuk masuk. Rifal sudah tebak, jika itu adalah sekretarisnya.
Amora masuk lalu menyerahkan map berisi berkas untuk di tanda tangani oleh Rifal.
"Gue nggak nyuruh lo duduk," ketus Rifal saat Amora ingin menggeser tempat duduk.
pergerakan tangan Amora tentu saja terhenti saat ingin menarik kursi untuk duduk namun Rifal sudah lebih dulu menegurnya.
Rifal langsung menandatangani berkas yang dibawa oleh Amora, tanpa dia periksa sama sekali, karna dia sudah percaya kepada Nando jika asistennya itu tidak pernah salah dalam urusan bisnis.
"Bawa," kata Rifal menyerahkan map tersebut diatas meja sedikit kasar. Rifal melirik Amora yang masih belum mengambil map tersebut membuatnya berdecih kearah wanita itu.
"Lo tuli? Lo nggak dengar kalau gue nyuruh lo bawa itu map?" kata Rifal sembari melirik map tersebut diatas meja.
__ADS_1
Dengan tidak sabaran, Amora langsung mengambil map tersebut lalu pergi dari ruangan mewah milik Rifal.
Kehadiran Amora tadi membuat Mood Rifal tidak baik, namun itu tidak berlangsung lama saat melihat handphonenya berdering, tertulis nama Valen.
Moodnya kembali melihat layar handphonenya.
Drt.... Drt... Drt
" Halo sayang." Rifal mulai menyapa Valen di seberang telfon.
Terdengar suara Valen nampak lesuh membuat Rifal langsung beranjak dari kursinya.
"Tunggu aku di sana, Len. Jangan kemana-mana. " Lepas itu Rifal langsung mematikan handphonenya lalu keluar dari ruangannya.
"Rifal!" panggil Nando yang melihat wajah Rifal nampak panik dan jangan lupa dia sangat bburu-buru sampai menabrak OB.
"Lo bawa mobil, buruan kita kerumah sakit," kata Rifal membuang kunci mobil kearah Nando, untung saja Nando sigap menangkap kunci mobil tersebut untuk segera menyusul Rifal ke parkiran.
"Bukan waktunya buat bercanda, Nan," Nando berusaha memperingati dirinya.
Sementara Valen malah mondar-mandir di ruangan Adelia. Adelia di pindahkan di ruangan baru agar Rifal tidak curiga jika dia berjalan kearah tempat Adelia.
"Maafin Aku, Fal," kata Valen merasa bersalah karna sudah membohongi Rifal agar pria itu datang.
Nathan menghampiri Valen, dia tau jika wanita itu sedang memikirkan sesuatu yang sudah dia buat.
"Kalau Rifal benar sayang sama lo, kesalahan besar apapun yang lo lakuin dia tetap maafin lo," kata Nathan dengan bijak.
Sementara Kiki yang tidak tau apa-apa mengangyk sekaligus angkat bicara.
"Apa yang dibilang dokter Nathan emang benar, Laki-laki kalau udah sayang sama kita, hal besar apapun itu bakalan dia maafin. Karna hubungannya lebih berharga daripad egoisnya sendiri."
Huft
Valen hanya menghembuskan nafas berat, dia yakin Rifal akan marah kepadanya apa lagi sampai menipu pria itu. Apa lagi Adelia tidak ingin menjalankan pengobatannya jika Rifal tidak berada di sampingnya menemani dirinya.
Dokter Nathan dan juga Kiki langsung menghampiri Adelia untuk memberikan intruksi sebelum menjalankan pengobatan kemoterapi ini.
__ADS_1
"Lebih cepat, Nan," perintah Rifal sembari memijit pelipisnya. Sementara Nando hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak tau ada apa dengan Rifal.
Apa lagi mereka hampir saja menabrak anak kecil yang hampir menyebrang, untung saja Nando bisa mengendalikan stir mobilnya sehingga dia tidak menabrak anak itu, bisa berabe jika itu semua terjadi.